Taat, Setia, dan Pasrah

158
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Minggu 30 Desember 2018, Pesta Keluarga Kudus, 1Sam 1:20-22, 24-28, Mzm 84:2-3, 5-6, 9-10; 1 Yoh 3:1-2, 21-24; Luk 2:41-52

Semestinya setiap rumah tangga Kristiani menjadi rumah Nazaret untuk setiap anggota keluarga

KISAH Yesus pada usia 12 tahun tertinggal di Bait Allah di Yerusalem amat penting bagi keluarga zaman now. Perubahan budaya yang disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi segala aspek kehidupan, tidak terkecuali kehidupan keluarga.

Bak dua sisi mata uang, kemajuan ini menunjukan dua sisinya. Lineamenta Sinode para Uskup XIV no 5-6, menyebut tiga masalah dasar yang dihadapi keluarga dewasa ini, yaitu: relasi, sosio-ekonomi (kemiskinan), dan krisis iman. Renungan kita akan bertitik-tolak dari sisi relasi. Tetapi sesungguhnya ketiga masalah dasar itu saling berkaitan dengan unsur krisis iman menjadi unsur penentu.

Arus individualisme mengubah secara hakiki relasi antara suami-isteri dan antara orang tua anak. Kita mengetahui dan mengakui satu-satunya dasar sah ikatan perkawinan ialah cinta. Apa hakekat cinta? Pemberian diri dengan sukarela seperti sabda Yesus dalam Yoh 15:13.

Namun individualisme memutar-balikkan prinsip itu: dari berpusat pada yang lain beralih ke berpusat pada diri sendiri, dari “merelakan diri dimiliki” beralih ke “menuntut memiliki”. Arus individualisme yang berkombinasi dengan hedonisme akan menjadi kekuatan dahsyat dalam menggoncang sendi lembaga keluarga.

Menghadapi tantangan-tantangan berat yang melanda lembaga keluarga dewasa ini, keteladanan Keluarga Kudus Nazaret sungguh amat dibutuhkan. Kisah Injil hari ini mengedepankan masalah relasi orang tua-anak. Remaja Yesus tertinggal di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.

Orang tua-Nya pun pergi mencari Dia dan baru sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah. Kita bisa bayangkan betapa letihnya kedua orang tua itu, yang dengan penuh kekhawatiran mencari si anak hilang.

Adegan yang saya bayangkan dapat terjadi saat itu, ialah bagaimana kedua orang tua itu naik pitam. Tetapi bukan itulah yang terjadi. Sang ayah tidak berbuat sesuatu pun. Sementara dari mulut sang ibu keluar kata-kata penuh kasih sayang.

Jawaban si Anak sepintas lalu kedengaran bernada kurang ajar: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidak tahukah kamu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”

Mereka memang tidak mengerti apa yang dikatakan si Anak, tetapi menyimpannya dalam hati dan merenungkannya. Kisah berakhir dengan si Anak pulang bersama-sama orang tua-Nya ke Nazaret dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Bukankah di sini kita menemukan model ideal relasi orang tua-anak? Kasih sayang luar biasa yang ditunjukkan kedua orang tua membuat si Anak rindu dan ingin pulang ke rumah. Semestinya setiap rumah tangga Kristiani menjadi rumah Nazaret untuk setiap anggota keluarga.

Selanjutnya, perlu disadari bahwa relasi ideal antara orangtua-anak hanya mungkin terwujud dalam keluarga apabila relasi orangtua beres. Relasi inilah yang ada pada Keluarga Nazaret. Ketika masih bertunangan, relasi Yusuf dan Maria sudah diterpa cobaan berat. Yusuf menemukan Maria tengah mengandung.

Walaupun demikian ia tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum (Mat 1:19). Ia juga adalah seorang beriman sejati. Dalam keheningan ia mendapatkan jawaban dari malaikat Tuhan untuk tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

Yusuf pun berbuat seperti apa yang diperintahkan. Di sini kita menemukan inti spiritualitas Yusuf, yaitu ketaatan total kepada kehendak Allah. Itu pulalah inti spiritualitas Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

Relasi cinta kasih antara pasutri Yusuf-Maria dibangun atas dasar iman yang kokoh itu. Iman itu terus-menerus dihayati dan diamalkan dalam Keluarga Nazaret, dan diperbaharui dengan ibadah ziarah ke Yerusalem setiap tahun.

Keteladanan iman Keluarga Nazaret ini semestinya dapat berbicara kuat kepada setiap keluarga Kristiani, khususnya yang sedang mengalami krisis iman.

Kesaksian Keluarga Nazaret juga menegaskan bahwa kebahagiaan dalam keluarga tidak ditentukan oleh bergelimangnya harta. Keluarga Kudus Nazaret adalah Keluarga sederhana dan ugahari. Selamat Pesta Keluarga Kudus!

Mgr Johanes Liku Ada
Uskup Agung Makassar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here