Fransiskus Xaverius Prio Pramono : Berada di Jalan Kopi

235
Fransiskus Xaverius Prio Pramono.
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kopi Lampung sangat memanjakan lidah orang Indonesia, bahkan amat mendunia. Mulai dari secangkir kopi jejaring pun terbangun.

Saat bekerja sebagai web desainer di Australia, Fransiskus Xaverius Prio Pramono tak lupa membawa sejumlah Kopi Lampung hasil kebun keluarganya. Kopi sangrai itu, ia bawa dengan maksud untuk konsumsi pribadinya selama di Negeri Kanguru itu. Namun, di saat tertentu, beberapa teman datang ke apartemen tempat ia tinggal. Pada kesempatan itu, tak lupa Prio menyuguhkan segelas Kopi Lampung tadi. “Rekan-rekan setiap berkunjung ke flat, saya suguhi kopi hasil panen sendiri, dan mereka suka,” ungkap Prio panggilan akrabnya.

Dari sini, beberapa teman itu mendorong Prio terjun dalam usaha kopi. Dorongan itu termasuk dari atasannya sendiri saat bekerja di luar negeri itu. Prio mengingat, sang bos yang begitu terkesan dengan cita rasa kopi hasil kebunnya di kampung. Alhasil, Prio pun kepincut menerjunkan dirinya dalam dunia perkopian.

Dorongan untuk terjun dalam usaha kopi tidak sekali saja datang. Teman-temannya di Australia berulang mendorong Prio untuk mengembangkan usaha pengolahan kopi. “Pulang saja ke negaramu dan olahlah kebun kopimu menjadi usahamu sendiri. Hargailah kopi hasil kebunmu dan kirimkanlah hasilnya ke sini, kami akan membantu menjualnya,”

Mewujudkan Ide
Namun, keinginan untuk mulai bisnis kopi tidak langsung dilakukan Prio. Bahkan setelah pulang dan bekerja di Indonesia, ia tak terlalu menganggap serius ide itu. Ia tetap bekerja dalam bidang yang selama ini ia tekuni yaitu di dunia teknologi informasi.

Pada tahun 2009-2013, Prio bekerja di Bali. Aneh, ide yang tadinya menjadi “buah tangan” saat kembali dari Australia, semakin sering terlintas dalam benaknya. Kali ini, ia tak menganggap pikiran-pikiran itu hanya sambil lalu. Ia berpikir, barang kali sudah saatnya ia mulai serius menyikapi ide itu.

Akhirnya, Prio pun mewujudkan ide itu. Di Bali, ia memberanikan diri membuka sebuah kedai kopi dengan nama Hellman Bali di Denpasar. Kali ini, ia tak sendiri, Prio memulai bisnis ini bersama teman-temannya. “Saya akhirnya memulai bisnis kopi bersama teman-teman.”

Mulai saat itu, Prio berusaha mengembangkan pengetahuannya tentang kopi. Ia belajar mengenal jenis, spesies, dan varietas kopi. Selanjutnya, ia berlanjut mempelajari teknik roasting (menggoreng kopi), manual brewing (menyeduh manual) dan tentu tentang manajemen dan pemasaran produk kopi.

Dalam mengembangkan usaha ini, Prio bekerja dengan beberapa mitra di Surakarta, Jawa Tengah. Dengan mitra ini, ia dibantu dalam bidang marketing, produksi dan roaster. Dengan mereka, Prio juga sekaligus join dalam memasarkan Kopi Lampung ke seluruh Pulau Jawa dan Bali. “Mitra-mitra ini yang membantu saya untuk mengembangkan usaha kopi ini,” ujar alumni STMIK AKAKOM, Yogyakarta ini.

Hingga kini, sudah sekitar lima tahun Prio berkecimpung dalam dunia kopi. Menurutnya, tantangan yang perlu disikapi saat ini adalah memproduksi biji kopi kualitas kedai dan expor secara konsisten dalam jumlah yang banyak. Sebagaimana prinsip ekonomi, permintaan pasar yang terus meningkat ini ia anggap sebagai peluang. “Dari waktu ke waktu selalu ada peningkatan permintaan, usaha kopi memang cukup berkembang di Indonesia belakangan ini,” tuturnya.

Kendati demikian, Prio juga masih melihat minimnya tingkat pengetahuan para petani. Mereka masih perlu banyak belajar dalam proses pengolahan pasca panen. Dengan cara pengolahan yang tepat, maka produk kopi petani akan sesuai dengan standar biji kopi kualitas ekspor. Prio juga melihat minimnya tenaga kerja di saat musim panen raya berdampak pada terlambatnya pemetikan biji kopi yang telah masak. Belum lagi, petani masih harus banyak belajar tentang hama. “Kopi di Indonesia sebenarnya punya rasa yang khas dan diminati banyak orang di dunia, namun petani kita masih harus banyak belajar,” ujar Prio.

Secara formal Prio tidak pernah belajar atau ikut pelatihan tentang kopi. Ia hanya belajar secara otodidak mengingat ia pun lahir dari keluarga penghasil kopi. Saat mulai serius dalam dunia kopi, ia pun mulai belajar bersama Srimulatno pemilik Coffee and Cacao Traning Center di Surakarta. Tak hanya itu, ia juga tekun melahap literatur tentang kopi.

Semangat Kopi
Prio amat bersemangat menekuni usaha di dunia kopi. Ia sungguh memegang filosofi yang terkandung dalam kopi, yakni, “kopi itu semangat, kopi itu kebersamaan, kopi itu energi dan kopi itu penghidupan”. Menurutnya, kopi berperan cukup banyak sebagai perekat persaudaraan di banyak masyarakat di Indonesia. Di banyak daerah minum kopi menjadi saat dimana banyak orang bertemu dan berkomunikasi.

Prio menambahkan, nilai yang digali dari sang kopi adalah untuk menghasilkan kopi yang sangat nikmat. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah proses yang saling berkaitan dan saling membutuhkan antara satu sama lain. Dari hulu sampai hilir meli batkan banyak orang yang saling terkait. Petani, pengolah paska panen, roaster, dan orang yang bekerja menyedu di café semua adalah rantai kerja sama yang terkait dan saling berhubungan. “Untuk sebuah produk kopi, tak dapat hanya dilakukan oleh satu orang saja, semua adalah rantai produksi yang melibatkan banyak pihak,” ujar Prio.

Untuk proses roasting sendiri dilakukan dalam dua tahap. Dalam usahanya, melakukan penggorengan kopi secara yakni tradisional atau biasa disebut sangrai manual. Dalam proses ini, Prio menggunakan kayu bakar dimana kopi sendiri dimasak dalam tembikar atau gerabah. Namun, pengolahan kopi juga dapat dilakukan secara modern. Kopi dimasak di dalam tabung dengan bahan bakar gas.

Berkat ketekunannya, Prio berhasil menjaring banyak mitra kerja, yaitu menjadi pemasok kedai kopinya. Selain di Surakarta, mitra usahanya juga berada di Sukoharjo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Atas dedikasinya dalam usaha kopi, Prio bahkan diganjar menjadi Juara 1 Penghargaan Tingkat Kabupaten Lampung Barat.

Hingga kini, Prio selalu percaya apa yang ia lakukan tak lepas dari kehidupannya sebagai seorang beriman. Sebuah kutipan dari Kitab Suci (Kis 20:35). “Dalam segala hal, aku sudah menunjukkan kepada kalian bahwa dengan bekerja keras seperti ini, kalian harus membantu orang yang lemah dan harus mengingat kata-kata Tuan Yesus sendiri”.

Fransiskus Xaverius Prio Pramono

TTL : Metro, 02 Oktober 1975

Pendidikan :
– SD Negeri Bantul Metro (1990)
– SMP Negeri 05 Metro (1993)
– SMU Negeri Kota Gajah (1995)
– Perguruan Tinggi S-1 STMIK AKAKOM, Yogyakarta (2001)

Penghargaan :
Juara 1 Penghargaan Tingkat Kabupaten sebagai produk kopi paling inovatif untuk Largos Kopi Herbal dan Rempah, Kecamatan Batu Ketulis, Kabupaten Lampung Barat, Lampung.

Fr. Nicolaus Heru Andrianto

HIDUP NO.49 2018, 9 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here