Dari Sevenhill ke Sababay Winery

283
Kebun Sevenhill di Australia Selatan. Dari sinilah sejak 1974 - 2020 Anggur Misa untuk Gereja di Indonesia berasal.
[sevenhill.com.au]
Dari Sevenhill ke Sababay Winery
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Selama ini, Anggur Misa untuk perayaan Ekaristi Gereja Katolik Indonesia berasal dari kebun anggur Sevenhill Cellars, di Lembah Clare, Australia Selatan. Dari Adelaide, Ibukota Australia Selatan, Sevenhills berjarak 130 km, sekitar dua jam berkendaraan mobil ke arah utara.

Kebun anggur Sevenhill didirikan tahun 1851 oleh Aloysius Kranewitter SJ dan Maximillian Klinkowstrom SJ, dua orang imam Jesuit dari Austria. Awalnya, mereka hanya membuat anggur misa, untuk keperluan umat Katolik setempat.

Australia pada waktu itu merupakan tempat buangan bagi para terhukum dari wilayah Kerajaan Inggris Raya. Mereka dipekerjakan sebagai petani. Sebagian dari mereka beragama Katolik dan sebagai orang beriman Katolik, para terhukum itu tentu memerlukan pelayanan pastoral. Australia Selatan sudah beragroklimat sub tropis, komoditas pertanian Eropa, termasuk anggur, bisa dibudidayakan di sini dengan hasil baik.

Pada saat dua imam ini membangun kebun anggur Sevenhill Cellars di Australia Selatan, di Indonesia (Hindia Balanda) baru ada sebuah Vikariat Apostolik di Batavia (sekarang Jakarta). Takhta Suci Vatikan meresmikan keberadaan Vikariat Apostolik Batavia pada 3 April 1841, dengan Mgr. Jacobus Grooff (1800-1852) sebagai Vikaris Apostolik pertama. Waktu itu kebutuhan anggur misa masih dipasok oleh pemerintah Hindia Belanda, sebab keberadaan Gereja Katolik di negeri jajahan ini, terutama untuk melayani para pejabat pemerintah kolonial, yang beragama Katolik.

Tahun 1974, saat Gereja Katolik Indonesia mulai menggunakan anggur misa dari Sevenhill Cellars, sudah ada 8 keuskupan agung dan 26 keuskupan sufragan. Sevenhill sendiri juga tumbuh menjadi sebuah kota (distrik). Sevenhill Cellars yang kemudian dikelola oleh Tarekat Serikat Jesus Provinsi Australia, juga telah menjadi salah satu winery tertua di Lembah Clare, dengan biara, tempat retret, sarana akomodasi dan rekreasi untuk umum. Sevenhill Cellar juga memroduksi wine untuk umum, dan sebagian besar diekspor. Dari areal kebun seluas 40 hektar pada tahun 1851, sekarang luas kebun Sevenhill mencapai 95,8 hektar.

Sweet Red, Sweet White dan Dry White, merupakan tiga produk anggur misa Sevenhill Cellars. Produk anggur biasa Sevenhill Cellars dikelompokkan menjadi lima kategori: Fortified (enam produk); Inigo (delapan produk); Sparkling (dua produk); Reserve Release (satu produk); dan Saints (tiga produk). Produk Sevenhill Cellars dijual dengan harga paling rendah 18 dollar Australia (Rp 189.000, dan paling tinggi 50 dollar Australia (Rp 525.000) per botol. Produk Reserve Release satu-satunya, 2014 Brother John May Reserve Release Shiraz dijual seharga 110 dollar Australia (Rp 1.155.000) per botol.

Anggur Tropis
Sejak awal abad 20, pemerintah Hindia Belanda sudah mendatangkan klon-klon anggur. Isabella berkembang dengan cukup baik di Jawa Tengah dan DIY. Di Jawa Timur ada Cardinal dan Alphonso Lavallee. Dua klon ini secara spesifik berkembang di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo. Kemudian Alphonso Lavallee menyeberang ke Kabupaten Buleleng di Bali. Tahun 1974, ketika Gereja Katolik Indonesia mulai menggunakan anggur misa Sevenhill Cellars; di Kabupaten Buleleng, Bali; sudah berkembang anggur Alphonso Lavallee, yang kemudian dilepas Menteri Pertanian RI menjadi Anggur Bali.

Wine dari anggur Bali beraroma kurang kuat. Memang jarang ada klon anggur yang manis, berwarna, dan beraroma kuat. Sweet Red, anggur misa Sevenhill Cellars yang digunakan di Indonesia terbuat dari tiga jenis anggur: Grenache, Ruby Cabernet dan Pedro Ximenez. Kultivar Grenache dari Spanyol yang merupakan bahan utama Sweet Red; mirip dengan Alphonso Lavallee di Indonesia. Produktivitas tinggi, tetapi aroma dan warna lemah. Ruby Cabernet, klon dari Kalifornia, AS; dicampurkan untuk memperkuat warna dan aroma. Anggur putih Pedro Ximenez dari spanyol untuk menaikkan kadar kemanisan.

Awal dekade 2010, di Bali berdiri Sababay Winery. Beda dengan Hatten yang telah ada sejak awal dekade 1990 dan punya kebun sendiri, Sababay mengandalkan tanaman rakyat. Meskipun lahir belakangan, Sababay segera punya andalan wine yang menjadi favorit dan memenangkan penghargaan internasional. Moscato de Bali; berkadar alkohol 8%, dan manis (sweet). Banyak pihak yang meragukan, kalau ada wine lokal Bali yang bisa menyabet penghargaan internasional, karena ketatnya persaingan. Bahkan sampai sekarang masih ada yang tak percaya kalau Indonesia sudah dicatat dunia sebagai salah satu penghasil tropical wine.

Negeri yang juga dikenal sebagai penghasil tropical wine adalah Kenya, India, Kolombia, dan belakangan juga Thailand. Kebun anggur negara beriklim temperate, hanya bisa panen satu kali. Hasil panen anggur tropis, pasti kalah dibanding anggur temperate. Tetapi anggur tropis bisa dipanen dua kali setahun, dan diatur pembuahannya agar tak panen serentak dengan cara pemangkasan. Hingga dalam satu tahun, produktivitas anggur tropis lebih tinggi dari anggur temperate. Moscato de Bali, bisa meraih penghargaan internasional, awalnya karena rasa penasaran Mulyati Gozali, pendiri Sababay Winery.

Ke Anggur Misa
Setelah pensiun sebagai akunting di Perusahaan Gajah Tunggal, tak sengaja Mulyati melihat, komoditas anggur bisa tumbuh dan berbuah dengan cukup baik di Kabupaten Buleleng. Sayangnya, para petani sulit memasarkannya dengan harga layak. Dari sinilah, ia tertarik untuk membantu petani anggur, dengan membangun Sababay Winery, di Kabupaten Gianyar. Mulyati kemudian penasaran dengan klon anggur Kediri Kuning, yang kadang disebut sebagai Anggur Belgia, tetapi tak ketahuan asal-usul klon-nya. Para ahli anggur di Kebun Percobaan Banjarsari, Probolinggo, Jawa Timur juga tidak tahu nama klon anggur ini.

Mulyati mengirim contoh daun kering anggur Kediri Kuning ke Italia, untuk dites DNA-nya. Ternyata anggur Kediri Kuning itu salah satu klon Moscato. Sababay kemudian mendatangkan empat klon Moscato: Moscato Bianco R2 SO4/102 (250 batang); Moscato d’Adda standart/SO4 (50 batang); Moscato d’Alesandria 308/11OR (50 batang); dan Muscat Blank Petit Grain 454 (490 batang). Empat klon Moscato itu dicoba ditanam di Seririt, Buleleleng, dengan tiga cara. Pertama ditanam langsng dengan batang bawah bawaan dari negeri asalnya. Hasilnya, batang bawah itu kalah (kuntet), dari batang atasnya. Produktivitas rendah.

Selanjutnya, ditanam langsung berupa stek asli Moscato. Hasilnya lebih baik dari yang dengan batang bawah bawaan. Ketiga Moscato itu disabungkan ke tanaman Alphonso Lavallee petani, yang sudah produktif. Cara ketiga ini menghasilkan kualitas buah yang sama dengan induknya, tetapi dengan tingkat produktifitas paling tinggi. Cara inilah yang kemudian digunakan untuk mengembangkan Syrah, yang dijadikan andalan anggur misa. Sababay mendatangkan dua klon anggur Syrah, yakni Syrah 524 (50 batang); dan Syrah 470 (122 batang). Syrah yang disambungkan ke Alphonso Lavallee petani, juga berproduksi lebih baik.

Selain berniat membantu petani anggur, Mulyati juga bercita-cita untuk memroduksi anggur misa. Tetapi jangankan anggur misa. Untuk mendapatkan izin produksi anggur biasa pun tidak mudah. Itulah sebabnya ia kemudian sangat bersyukur, karena pada akhirnya dari para petani anggur Buleleng ini, Indonesia bisa berswasembada anggur misa. Sebanarnya, dari 38 klon anggur Sababay, juga terdapat tiga klon yang digunakan sebagai bahan baku anggur misa Sevenhill Cellars. Tetapi yang sudah terbukti unggul dikembangkan di Bulelang justru Syrah, klon anggur tua yang awalnya berasal dari kota Syrah, Iran.

F. Rahardi

HIDUP NO.50 2018, 16 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here