Dukungan Umat, Selamatkan Jiwa

40
Mgr Ignatius Suharyo menabuh gong sebagai peluncuran program BKSY.
[HIDUP/Yanuar Marwanto]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Banyak orang telah merasakan manfaat menjadi anggota BKSY. Ada harapan agar semua umat bisa ambil bagian dalam gerakan BERbela rasa dalam Kematian dan KeseHATan (BerKHat) ini.

Telepon genggam Rico Usthavia Frans bergetar. Sebuah pesan WhatsApp (WA) dari sahabatnya Th. Wiryawan, “Mas, di hari ulang tahun ini, yok kita berbelarasa,” demikian isi pesan itu. Direktur Bank Mandiri ini bertanya-tanya, apa maksud kata-kata sahabatnya?

Tak berselang lama, rasa penasaran ini terjawab ketika Wiryawan mengajak Rico terlibat dalam kegiatan BerKHat Santo Yusup (BKSY). Ajakan yang langsung ditanggapi positif oleh Rico. Ia berpikir, tidak salah, bila di hari bahagianya, ada ucapan kasih kepada orang lain. Atas dasar ini, ia menulis sebuah pesan kepada para koleganya. “Saya mohon doa di ulang tahun saya, sekaligus kali ini harap tidak mengirim kue ulang tahun atau bunga, tapi diganti dengan sumbangan untuk orang orang yang membutuhkan, seperti guru agama atau katekis.” Pesan ini lalu dikirim kepada seluruh kontak di handphone Rico.

Tak disangka respons kolega sangat besar. Hari itu, hampir tidak ada kiriman kue juga bunga. Sebaliknya, di rekening BKSY ada dana debet sekitar 30 juta, dengan angka bervariasi, mulai dari 500 ribu hingga 10 juta. Dana itu lalu dibulatkan Rico menjadi 60 juta. “Saya tidak menyangka di hari ulang tahun ini, saya mendapat kado yang begitu besar. Dengan hadiah itu, sekitar 750 guru agama yang mendapat bantuan BKSY,” ucap Rico bahagia.

Ajaran Kristus
Pengalaman Rico juga pernah dialami Pastor Andang Listya Binawan SJ. Vikaris Epis kopal Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini melakukan hal yang sama saat ulang tahunnya. Ia meminta kenalannya untuk tidak mengirimkan bunga, kue, atau hadiah lainnya. Hadiah itu diberikan dalam bentuk transfer kepada saudara-saudari yang membutuhkan.

Semangat yang digemakan oleh Rico dan Pastor Andang menjelaskan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat dilaksanakan dengan cara yang sederhana. Membantu orang bukan soal kaya atau miskin, tetapi panggilan hati. Rasa peduli terhadap sesama adalah hal manusiawi yang kini menjadi sikap langka.

Di era modern, masyarakat cenderung hidup individual. Orang beramai-ramai mengejar target hidup dan kerap melupakan lingkungan sekitar. Niat “membahagiakan keluarga” mengesampingkan interaksi sosial dengan sesama.

Panggilan untuk membangun asa pada yang tersingkirkan itulah yang melahirkan BKSY. Gerakan BKSY ingin menghidupi kembali budaya Indonesia yakni memberi, tolong, menolong, gotong royong, dan sebagainya. Setidaknya, banyak orang merasa masih ada harapan hidup karena ada yang peduli kepada mereka. BKSY hadir untuk menjernihkan pikiran manusia moderen yang apatis, cuek, dan egoistis.

H. Kasyanto, Pengurus Pusat BKSY menjelaskan, bahwa BKSY adalah gerakan bela rasa dan solidaritas. Mengapa demikian? Dalam kelompok BKSY terjadi persaudaraan dan kebersamaan yang kuat. “Di BKSY diharapkan umat bisa saling peduli, saling solider dan setia kawan tentunya,” ujar Kasyanto.

Kasyanto percaya, bahwa BKSY menampil kan wajah Kristus yang berbela rasa serta toleran dengan sesama yang menderita. Tujuan orang beriman, pungkas Kasyanto, adalah panggilan untuk menyerupai Kristus. Panggilan ini mengharuskan setiap orang terpanggil untuk melepaskan manusia lamanya yang egois dan menjadi manusia baru. Kasyanto menerjemahkan manusia baru itu sebagai panggilan untuk berbela rasa kepada saudara yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). “BKSY itu gerakan berbagi kasih kepada sesama dalam semangat belarasa. Maka hanya akan menjadi gerakan kasih yang kuat bila ada partisipasi semua umat,” ajak Kasyanto.

Refleksi Kasyanto ini pun diamini oleh Kusdaryanto. Penggiat BKSY di bidang pemberi santunan dari Paroki Santo Yohanes Penginjil Blok B ini merefleksikan, bahwa panggilan sebagai Anak Allah mengharuskan keterbukaan untuk membantu sesama. Sebagai “rasul” BKSY, ia membantu orang tanpa berpikir balasan apa yang ia akan dapat. “Dari kacamata manusiawi, menjadi rasul itu melelahkan dan tidak ada untung, malah lebih banyak rugi materi, waktu, tenaga, dan pikiran,” ungkapnya.

Kusdaryanto percaya, dengan membantu sesama ada balasan yang tak terhingga. Ia berpesan, dengan menyempatkan lebih banyak waktu untuk kebutuhan orang lain, seseorang akan memiliki jiwa yang semakin peduli. “Orang Kristen perlu belajar memahami bagaimana cara orang-orang di sekitar kita berjuang menghadapi hidup yang berat,” pesan Kusdaryanto.

Melegahkan Hati
Mengembangkan cara pandang yang lebih berempati ini pernah dirasakan oleh Ignatius Ponidi. Koster di Gereja Santa Anna Duren Sawit, Jakarta Timur ini pernah merasakan bagaimana BKSY hadir dan berempati dengan keluarganya. Sebagai koster, pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, kadang-kadang kurang. Kendati begitu, ia memutuskan menyisihkan seperkecil pendapatannya untuk terlibat dalam gerakan BKSY.

Ponidi mengatakan, kadang-kadang sebagai manusia, ia harus melakukan apa yang benar-benar ia yakini. Perubahan hidup itu terjadi bukan soal kaya atau miskin, tetapi soal memberi. Ia bercerita bahwa BKSY adalah gerakan bela rasa yang kongret.

Tahun 2017, duka dirasakan Ponidi. Sang istri Maria Margaretha meninggal. Saat itu, Ponidi kebingungan saat ingin mengantar jenazah istrinya ke Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. “Saya ambil uang dari mana sementara harga ambulans saja sekitar 10 juta. Saya bingung dan pasrah ada orang yang mau membantu,” kisahnya.

Situasi ini membuat dirinya berusaha yakin bahwa pertolongan Tuhan. Saat Misa Requiem, tiba-tiba dari tim BKSY memberikan uang sebesar 10 juta. Bantuan ini sangat berarti bagi dirinya. Setidaknya, ia bisa memakamkan istri secara layak. “Saya menabung di BKSY tujuannya membantu orang lain. Saya tidak berpikir bahwa akan dapat karena bisa saja ada yang lebih susah darinya. Tetapi bantuan Tuhan selalu tepat waktunya,” ucapnya.

Pengalaman ini membuat Ponidi selalu berpesan kepada anak-anaknya agar tidak menjadi orang yang egois. Belajar memikirkan perasaan orang lain yang mungkin jauh lebih susah. Terbuka memahami kebutuhan orang lain akan membuat hidup manusia menjadi bahagia. Perlu kesadaran untuk semakin mudah peduli kepada orang lain sepenuh hati. Orang beriman, wajib menjalani kehidupan sehari-hari dengan memberi rasa kepada hidup orang lain. “Tuhan mengajarkan kita untuk perlu lebih dekat dengan sesama. Kita perlu memandang orang lain bukan dengan mata tetapi dengan hati yang peka,” pesannya.

Jawaban Iman
Bergulirnya gerakan BKSY tak lepas dari kehadiran Mgr Ignatius Suharyo. Tahun 2009, saat mengemban tugas sebagai Uskup Koadjutor KAJ lalu kemudian menjadi Uskup Agung menggantikan Kardinal Yulius Darmaatmadja SJ pada 28 Juni 2010, banyak orang dengan latarbelakang masing- masing memberi dukungan atas tugas baru ini. Salah satunya adalah para alumni Seminari Mertoyudan yang menamakan diri Paguyuban Lingkar Sahabat (Palingsah).

Suatu ketika dalam perkumpulan para sahabat yang terdiri dari teman angkatan juga mantan murid Mgr Suharyo ini mengadakan pertemuan di Bintaro. Mgr Suharyo melemparkan pertanyaan kepada mereka apa yang dapat kalian lakukan sebagai sumbangsih terhadap pelayanan pastoral di KAJ? Jawaban dari pertanyaan ini kemudian diretas dalam kegiatan BKSY.

Lewat proses yang matang dengan banyak keprihatinan soal masalah kesehatan dan mahalnya biaya kematian, membuat BKSY menjadi gerakan yang fokus pada dua masalah tersebut. Lalu lahirlah BKSY yang menggandeng PT Ansuransi Central Asia (ACA). Saat itu, Direktur ACA, Hailam sah Teddy juga hadir.

BKSY, menurut Uskup Agung Semarang (KAS) Mgr Robertus Rubiyatmoko tercetus dengan latar belakang ingin membantu umat yang berkekurangan secara ekonomi. BKSY sejak berkembang di KAS masih hanya terbatas pada beberapa paroki saja. Hal ini dimulai dengan ajakan kepada Kuria KAS untuk mendaftar lebih dulu, baru kemudian menyusul umat di paroki. Mulai tahun lalu, BKSY disosialisasikan kepada umat dan akhirnya ditanggapi dengan sangat bagus.

BKSY kemudian disosialisasikan secara lebih intensif. Dalam waktu yang singkat cukup banyak yang terlibat jadi anggota BKSY terutama umat Paroki Katedral. Paroki ini memang menjadi semacam paroki percobaan. Hal yang menjadi persoalan mendasar adalah bagaimana membangkitkan kesadaran dan pengertian umat, bahwa BKSY itu bukan persoalan apa yang saya dapat sebagaimana asuransi melainkan bagaimana berbagi kepada yang membutuhkan.

Sekarang BKSY memberikan kesempatan kepada katekis se-KAS. Upaya ini sedang dalam proses pendataan. “Namun yang menjadi tugas kami adalah menyadarkan para katekis nantinya soal BKSY. Dengan diberikannya kesempatan ini solidaritas dan semangat berbagi sungguh-sungguh menjadi milik umat. “Menjadi bagian dari penderitaan orang lain itu sungguh-sungguh dihayati dan dimiliki oleh setiap umat beriman,” ujar Mgr Rubi.

Mgr Rubi yakin bahwa BKSY merupakan sebuah peluang pastoral bahwa BKSY mampu membangun persaudaraan dengan cara berbagi. Jadi orang diarahkan untuk sungguh-sungguh memberi, bukan mengharapkan sesuatu. Harapannya, BKSY ini bisa menyebar paling tidak di Pulau Jawa. Sedangkan di KAS, semoga semakin banyak paroki yang terlibat dalam keanggotaan BKSY. “Solidaritas umat beriman ini perlu dijaga terus-menerus, bahkan bisa lintas agama. Artinya, BKSY tidak sungguh-sungguh ekslusif melainkan inklusif bagi banyak orang,” ujarnya.

Saat ini, BKSY sudah menjangkau sebagian paroki, baik KAJ maupun KAS. Kehadiran gerakan bela rasa ini untuk memutuskan paham, bahwa orang kayalah yang berkewajiban membantu orang miskin. Siapa pun bisa membantu orang lain, tanpa melihat latar belakang seseorang. Rasa kemanusiaan tidak memandang kedudukan dan status sosial. BKSY memberi arti lain dalam iman, bahwa membantu orang kecil dan lemah, bukan karena balas budi, tetapi karena Kristus lebih dahulu menunjukkan sikap bela rasa-Nya.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.01 2019, 6 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here