Pastor Maxi Un Bria, Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Agung Kupang : Membawa Warna di Tengah Kawanan Besar

338
Pastor Maxi Un Bria, Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Agung Kupang.
[HIDUP/Antonius Bilandoro]
Pastor Maxi Un Bria, Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Agung Kupang : Membawa Warna di Tengah Kawanan Besar
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Kecil bukan berarti tak berdaya. Kawanan kecil umat Katolik Rote menolak terhanyut dalam godaan merawat iman di tengah kawanan besar.

Di balik keindahan bentang alam pesisir Pulau Rote tersimpan kegigihan umat Katolik Rote mempertahankan iman. Meskipun hanya kawanan kecil di tengah umat Protestan, mereka tetap taat berkanjang dalam penghayatan iman yang sering kali tidak sejalan dengan dogma umat Kristen lainnya. Falsafah kebudayaan warisan nenek moyang pun turut membantu dalam menghayati penerapan iman mereka. Bagaimana geliat masyarakat Rote merawat iman mereka? Berikut nukilan wawancara dengan Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Agung Kupang, Pastor Maxi Un Bria:

Seberapa sering Pastor mengunjungi Pulau Rote?

Semenjak menjadi frater khususnya ketika melewati tahap orientasi pastoral saya kerap berkunjung ke Pulau Rote. Setiap Natal dan Paskah biasanya saya berkunjung ke Paroki St Kristoforus Ba’a. Hal yang saya amati adalah rata-rata latar belakang umat berpindah dari Protestan lalu menjadi Katolik. Umat di sana kebanyakan berprofesi sebagai pegawai pemerintah seperti pegawai kesehatan, keamanan, dan pendidikan. Mereka inilah yang banyak membantu gereja ataupun kapela di Pulau Rote. Pada tahun 1998 masih hanya ada satu paroki dengan sebaran beberapa kapel, tetapi sekarang sudah ada paroki lainnya.

Bagaimana Pastor melihat tantangan umat beriman di sana?

Tantangannya adalah bagaimana umat di Rote harus mengubah pola pikir dari kebiasaan Pater Lakner SVD, misionaris yang menggunakan pendekatan suka berbagi dan suka membantu banyak karena waktu itu banyak donasi. Namun sekarang harus beralih perlahan-lahan ke paroki yang dipimpin imam projo yang menuntut meminta keterlibatan dan kemandirian umat yang bisa membuat paroki hidup di tengah masyarakat mayoritas Protestan. Hal ini mau mengatakan bahwa pertumbuhan umat tidak hanya dilihat dari segi kuantitas akibat pelayanan bantuan melimpah tetapi kualitas iman yang dimiliki umat itu sendiri.

Lalu bentuk perhatian apa yang diberikan Keuskupan untuk meningkatkan kemandirian umat?

Keuskupan memfasilitasi dan mendorong kemandirian umat dengan cara mengajak agar umat awam di sana ikut bergabung dalam koperasi. Jadi koperasi itu berpusat di pusat paroki dikelola oleh awam tetapi diawasi dan didampingi oleh pastor. Saya melihat buktinya kantor koperasi itu ada di lingkup di dalam lokasi gereja.

Jadi di situ ada pastoran, ada sekretariat dan ada koperasi. Koperasi simpan pinjam itu untuk membantu umat katolik agar mereka bisa mandiri, mereka bisa menabung, berbelanja dan setiap kali mereka datang ke gereja, mereka bisa menyimpan, meminjam, lalu membelanjakan untuk kebutuhan dasar.

Perkembangan ini saya liat cukup berkembang. Indikatornya selain memiliki banyak modal, gedung koperasinya sendiri yang dulu hanya beratapkan seng sederhana kini menjadi kantor dua lantai. Melihat perkembangan ini, saya pribadi optimis bahwa perkembangan anggotanya signifikan. Selain itu ternyata koperasi ini juga membantu bukan hanya umat Katolik tetapi juga masyarakat secara luas. Bisa dikatakan, koperasi ini lintas agama. Koperasi bisa lingkup paroki tapi melayani semua.

Bagaimana strategi pastoral untuk pendewasaan iman umat melihat umat Katolik hanyalah kawanan kecil di sana?

Pertama kita mendalami kekuatan internal kita dulu bersama dengan membangun pemahaman tentang sakramen serta dogma iman yang fundamental bersama para pastor dan katekis agar ketika berhadapan dengan umat lain mereka bisa menjawab ketika dimintai penjelasan. Selama ini memang persoalan keagamaan itu tidak mencolok di Rote karena masyarakat di sana sudah merasakan bentuk perhatian dan kehadiran Gereja melalui para Pastor. Hingga di sana memiliki ungkapan bahwa pastor itu bukan hanya pastor Katolik, tetapi pastor untuk semua.

Mereka adalah pelayan kemanusiaan untuk menjangkau semua golongan masyarakat dan ada satu prinsip yang menurut saya itu sangat baik yang dikemukakan oleh Mgr Petrus Turang yakni, “Misi kita itu bukan untuk membantu seseorang, bukan pula untuk menambah jumlah orang banyak menjadi Katolik, tetapi misi kita adalah bagaimana umat kita menjadi mandiri, berkualitas, dan lebih bagus.” Dengan demikian, mereka yang mau memeluk iman Katolik sadar bahwa panggilan mereka adalah rahmat dan bukan karena melihat peningkatan kuantitas.

Jadi kita mengutamakan untuk merawat dan memelihara yang sudah ada. Umat Katolik yang sudah ada itu kita rawat agar mereka semakin berkualitas dan hidup mereka jauh lebih baik, bisa sekolah bisa mandiri.

Adakah unsur nilai budaya yang dipakai untuk mengembangkan kualitas iman umat?

Selain menerapkan inkulturasi budaya lewat pakaian, musik, dan bahasa dalam beberapa kegiatan liturgi, ada sesuatu yang lebih mendalam. Masyarakat Rote memiliki nilai persaudaraan, kekeluargaan, dan kebersamaan yang kental. Nilai ini tercermin juga dalam nilai-nilai Kristiani.

Sebagai contoh, sudah menjadi hal biasa jika meminta pendapat akan suatu isu dari berbagai umat lintas agama, di mana tokoh-tokoh Katolik juga sering dimintai pandangan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Jadi, tidak ada pertentangan dari nilai solidaritas, nilai kebersamaan, nilai saling menghargai.

Kesemuanya sudah termaktub dalam kebudayaan mereka. Jadi sebenarnya, kita saling memperkaya dan saling melengkapi satu sama lain sehingga dalam pengembangan iman umat juga terpancar dalam hidup bermasyarakat.

Lalu mengapa hingga sekarang umat Rote bisa bertahan dengan iman Katoliknya walaupun sedikit dalam kuantitas?

Sampai saat ini mereka dapat bertahan karena pertama mereka menyadari jumlah mereka sedikit yang menimbulkan ketahanan untuk bersatu. Eksisnya mereka juga hasil dari kesetiaan merawat iman dengan mencintai ekaristi dan berdevosi kepada Bunda Maria.

Kedua, Katolik itu memberi warna tersendiri di tengah masyarakat. Khususnya dengan hadirnya suster RVM (Religious of The Virgin Mary) yang memberikan pelayanan pendidikan dengan kualitas bermutu. Lalu yang ketiga Gereja Kristoforus itu ‘kan menjadi salah satu paroki tertua di kabupaten pusat kota, yang menjadi ikon untuk kunjungan rohani.

Kekuatan ini diperoleh karena umat Rote tetap bersatu dengan kepalanya yakni pastor. Komunikasi baik yang terjalin dengan umat beragama lain pun ikut membantu mengimplementasikan nilai Kristiani di dalam dan luar Gereja.

Mereka memiliki kebanggaan yakni menegaskan bahwa kami Gereja Katolik hadir dan memberikan warna tersendiri untuk kemajuan pembangunan masyarakat Rote dan dengan sendirinya mengumandangkan bahwa Gereja hadir dan memberikan kontribusi.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.02 2019, 13 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here