Paroki Hati Kudus Yesus Palasari: Antara Eropa dan Bali

771
Gereja Hati Kudus Yesus Palasari. [Dok.Martina Prianti]
Paroki Hati Kudus Yesus Palasari: Antara Eropa dan Bali
3.3 (66.67%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Inkulturasi Paroki Palasari membawa tiap umat yang berkunjung masuk lebih dalam kepada penghayatan iman.

BERBEDA dengan gereja pada umumnya, Paroki Palasari, Keuskupan Denpasar, memilih sebuah bukit untuk membangun Gereja Hati Kudus Yesus Palasari. Terletak di sebuah bukit, menjadikan gereja ini seakan menawarkan nuansa kesejukan lebih dibanding gereja di tempat lain.

Namun, keistimewaan Gereja Hati Kudus Yesus tidak hanya itu. Bangunan ini semakin indah karena bagian-bagiannya menunjukkan sejarah panjang perihal penyebaran agama Katolik di Bali. 

Arsitektur Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Palasari terdiri dari perpaduan antara arsitektur Bali dan Eropa. Di beberapa bagian, gaya arsitektur gotik sangat mempengaruhi. Misalnya saja pada bagian langit-langit yang dibuat menjulang tinggi mirip seperti gereja-gereja di Eropa. 

Unsur gotik lain yang ditemukan dalam gereja ini adalah bangunan yang menjulang tinggi. Kesan tinggi ini semakin terlihat karena letaknya yang berada di atas bukit. Hal ini seperti ingin menunjukkan semangat spiritual yang selalu ditampilkan dalam setiap bangunan gereja.

Dengan bangunan yang tinggi, seakan menunjukkan keagungan Tuhan yang setiap hari menjadi arah setiap doa umat. Kepala Paroki Palasari Pastor Adianto Harun menjelaskan, Gereja Hati Kudus Yesus juga sangat kental dengan warna-warna budaya Bali.

Ia mencontohkan, patung-patung Para Rasul di gereja ini digambarkan dengan wajah-wajah dari kultur pewayangan Bali. Ia menjelaskan, perpaduan budaya dalam bangungan ini bermakna inkulturatif, di mana Gereja memasukan unsur budaya Bali sebagai bagian yang terpisahkan dalam kehidupannya.

“Gereja Palasari adalah Gereja Katolik yang menyatu dengan budaya Bali dan hidup di Bali serta berkembang sebagai orang Bali,” ujarnya. Tidak hanya itu, beberapa hiasan khas Bali juga menghiasi Gereja Hati Kudus Yesus. Hiasan itu di antaranya penjor, gebogan, dan tedung.

Penjor adalah simbol dari Naga Basukih, yang berarti kesejahteraan dan kemakmuran. Selain itu, penjor menyimbolkan gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Sementara tedung adalah hiasan berupa payung. Di pura-pura di Bali, tedung dipasang sebagai penanda bahwa di tempat itu akan dilangsungkan sebuah upacara keagamaan. Tedung sendiri selain memperindah juga menjadi simbol peneduh umat.

Beberapa budaya Bali lain juga nampak pada gaya berpakaian umat saat mengikuti Misa di Gereja Hati Kudus Yesus. Pastor Adi turut menambahkan penggunaan pakaian adat Bali, terutama nampak pada saat Natal dan Paskah. Hal ini menjadi simbol penyatuan Gereja dengan budaya Bali. 

Ia menuturkan, dengan berpakaian khas Bali, umat ingin menunjukkan hubungan erat antara Katolik dan budaya Bali. “Dengan menjadi Katolik tidak berarti bahwa mereka kehilangan identitas budayanya,” ucapnya.

Menutup pernyataannya, Pastor Adi menyatakan, bahwa kehadiran Gereja dan umat Paroki Palasari sekaligus menjadi bagian pengingat inkulturasi. Apa yang terjadi di Palasari menjadi bukti bahwa Gereja dan budaya sebenarnya dapat berjalan beriringan.

“Tradisi dan agama bisa berjalan beriringan tanpa saling mendahului atau siapa yang mesti terbelakang.” pungkasnya. Penggunaan pakaian khas adat Bali dalam Gereja, dicatat juga oleh Karel Steenbrink pada tahun 1940. Karel menuliskan, bahwa pada Misa Minggu pada waktu itu, kerap dirayakan dengan lagu dalam bahasa Bali. Pengaruh Hinduisme pun nampak saat melakukan laku doa.

Ketika tiba giliran salah satu umat untuk memimpin doa, ia berdiri dan berdoa dengan kepala tertunduk sebagai simbol kepenuhan hati dan bagi segenap kepentingan sesama saudaranya, sementara umat lain tetap duduk.

Chriz Adit, salah satu warga Paroki Palasari mengatakan, biasanya Gereja Palasari ramai dikunjungi warga dari luar Bali pada bulan Desember. Kunjungan ini terlebih pada hari-hari menjelang Natal.

 

Martina Prianti/ Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.50 2018, 16 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here