Hawa Baru

182
[comedivinewill.wordpress.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pastor, sebagaimana dalam Perjanjian Lama bahwa Hawa akan mengalami sakit saat melahirkan. Apakah Bunda Maria mengalami sakit saat melahirkan?

Windy, Malang

Dalam ajaran tentang keperawanan Maria kita mengenali tiga pengertian dan keyakinan. Yang pertama adalah virginitas ante partum, perawan sebelum melahirkan, sebab Dia dikandung oleh Roh Kudus. Kedua, virginitas in partu, Maria tetap perawan saat melahirkan, betapapun melahirkan anak dia tetap perawan, melahirkan tanpa merasa sakit. Sedangkan yang ketiga adalah virginitas post partum, tetap perawan setelah melahirkan, karena betapapun hidup suami-isteri, namun Yosef menjaga keperawanan Maria tersebut. Persoalan yang ditanyakan di sini terkait dengan pemahaman yang kedua, keperawanan Maria yang nyata pada saat dia melahirkan Yesus, karena melahirkan tanpa rasa sakit. Saat melahirkan rahimnya dibuka, tanpa keperawanannya dinodai, demikian St Hieronimus.

Injil Lukas dalam kisah kelahiran sama sekali tidak menyebut soal itu. Hanya dikatakan di dalamnya, “…ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung…” (Luk 2:7). Sementara baik Matius, Markus maupun Yohanes tidak memberitakan kisah kelahiran Yesus, dan bagaimana saat Dia dilahirkan. Oleh karena itu tentang hal ini kita perlu menelusuri warta Kitab Suci sejak awal dan bagaimana Gereja menafsirkannya dalam keyakinan imannya akan keperawanan Maria, bahwa Maria tetap perawan selamanya. Paus Leo Agung di tahun 449 telah menuliskan, bahwa Maria tidak kehilangan keperawanannya pada saat melahirkan, maka tidak ada yang luka atau rusak dari tubuhnya. Kelahiran dari seorang perawan, dengan tetap perawan, demikian kata Leo. Hal itu karena tubuhnya kuat karena tidak dikuasai oleh dosa, karena senantiasa disertai dan dilindungi oleh Roh Kudus. Dia melahirkan Yesus dengan tetap perawan, demikian lalu pernyataan doktrin Gereja.

Setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa, Allah mengatakan kepada Hawa, “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu” (Kej 3:16). Sakit saat melahirkan diperlihatkan sebagai tanda atau buah dari keberdosaan, suatu luka yang harus ditanggung akibat dari ketidaksetiaan umat manusia. Maria dilahirkan tanda noda dosa, bahkan kemudian disebut sebagai Hawa baru. Maria mematahkan belenggu dosa akibat dari dosa Hawa, dan oleh karena itu Maria tidak terkena oleh noda dosa itu, sehingga dia pun tidak mengalami dampak dari keberdosaan: sakit pada saat melahirkan. Maria bunda kehidupan, mengandung dengan sukacita serta melahirkan pun dalam sukacita, bukan dalam kesakitan. Maria adalah bunda kehidupan sejati, yang memberikan hidup baru, lewat dan dalam Putera yang dilahirkannya, Yesus, sehingga karenanya Maria dibebaskan dari keberdosaan.

Akan tetapi kalau kita menyimak kisah dalam kitab Imamat 12:1-6, di mana diperlihatkan bahwa seseorang yang setelah melahirkan itu najis dan menantikan saat pentahiran, orang lalu bicara tentang kondisi kotor dalam diri perempuan setelah melahirkan. Para pemikir Gereja, sejak para bapa Gereja menempatkan Maria dan Yoseph yang mempersembahkan dua ekor burung tekukur untuk pentahiran (lih Luk 2:21-24) lebih sebagai pelaksanaan hukum atau tradisi, bukan karena mereka membutuhkan itu. Kenyataan menjelma sungguh menjadi manusia membawa masuk ke dalam kenyataan bahwa harus mengikuti tatanan nyata norma serta tradisi yang berlaku.

Apa yang mendasari pemahaman ini, tidak lain adalah keyakinan iman akan kesucian Yesus dan kemurnian Maria, bahwa yang dikandungnya adalah kudus dari Allah (lih. Luk 1:35). Maka kalau saat Yesus dilahirkan, Maria tidak mengalami kesakitan, itu sesuai dengan kodrat Yesus yang dilahirkannya, sesuai dengan intensi penjelmaan-Nya untuk penghapusan dosa dan sesuai dengan kesucian Maria. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menyatakan tentang ini, “Pada hari kelahiran-Nya, ketika Bunda Allah penuh kegembiraan menunjukkan kepada para gembala dan para majus Puteranya yang sulung, yang tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya”.

Keperawanan Maria dengan demikian lebih berbicara tentang rahmat Allah, yang dilimpahkan secara khusus kepada Maria. Hal ini lebih menunjukkan pada kemurahan hati Allah dan cara Allah dalam mempersiapkan rencana keselamatan-Nya. Maka bukan terutama Maria yang utama, melainkan Allah. Tidak mengherankanlah, oleh karena itu, Maria disebut Malaikat sebagai “penuh rahmat” (gratia plena), karena memang Roh Kudus menaunginya. Maria adalah perawan, saat dia melahirkan adalah pengalaman sukacita penuh, sebab karena Yesus yang dihadirkannya: Putera menjelma lewat perawan Maria, maka penjelmaan-Nya ke dunia tidak melewati pengalaman luka.

T. Krispurwana Cahyadi SJ

HIDUP NO.03 2019, 20 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here