Mental Kompetitif

102
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sir. 2:1-11; Mzm. 37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mrk.9:30-37

ADA pandangan, kebanyakan pengusaha sukses adalah orang Protestan, sedangkan filsuf hebat adalah orang Katolik. Alasannya, etika Protestan lebih menekankan tindakan dan hasil, demi meraih keuntungan. Falsafahnya: “primo vivere, deinde philosophari” ‘pertama-tama hidup (dulu), baru kemudian berfilsafat’.

Sebaliknya, etika Katolik lebih menekankan iman dan lambang guna menciptakan kemurnian hati. Nasihat Injil lebih diutamakan. Hasilnya, mayoritas orang Katolik lebih sering seperti Bunda Teresa, yang “nyawa”-nya diberikan pada mereka yang disingkirkan.

Ketika membaca Mrk. 9:30-37, kita terhenyak. Dengan sangat keras Yesus mengecam mentalitas kompetitif dan prestise, yang menyingkirkan dan menafikan sesama.

“Kekuasaan bukan untuk ‘naik dan mendominasi’, tetapi untuk ‘turun dan melayani’ (lih. juga Mrk. 10:45; Mat. 20:28; Yoh. 13:1-16),” begitu inti ajaran Yesus. Ukurannya adalah sikap, kemauan, dan kemampuan menerima “mereka yang seperti anak-anak” (Yun. toioutos paidion; ay.37). 

Ungkapan ‘toioutos paidion’ punya arti lebih luas dari sekadar anak-anak (paidion). Ini mengacu pada semua orang, yang (zaman itu) berada pada lapisan sosial terbawah masyarakat.

Silakan memilih: mengikuti nasihat Injil atau nasihat para pakar pengembangan diri untuk menjadi makin happy and rich”?

 

Henricus Witdarmono
M.A. Rel. Stud. Katholieke Universiteit te Leuven, Belgia

HIDUP NO.8 2019, 24 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here