Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) : Menyemai Pendidikan di Daerah Terpencil

248
Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan sesaat setelah merayakan Misa yang dipimpin Mgr Aloysius Sutrisnaatmaka MSF di Paroki St Yakobus Kelapa Gading.
[Dok.KBKK]
Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) : Menyemai Pendidikan di Daerah Terpencil
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – KBKK adalah kelompok awam misioner yang fokus pada kemanusiaan. Mereka telah melebarkan sayap pelayanan termasuk perhatian pendidikkan di daerah yang terpencil.

Pasca Pergolakan Timur Leste 1999. Begitu banyak pengungsi yang digiring ke perbatasan. Di Atambua, Nusa Tenggara Timur begitu banyak orang kehilangan rumah, keluarga, dan sanak saudara. Terlebih, saat itu banyak yang kehilangan harapan.

Para pengungsi itu mengalami penderitaan, kelaparan, sakit serta trauma psikologi. Penderitaan mereka semakin berat tatkala United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat dari Indonesia berhenti beroperasi pasca kerusuhan bulan September 2000. Ketika itu, kerusuhan menewaskan beberapa staf UNHCR. Kantor dan pegawai UNHCR dibakar hidup-hidup oleh para milisi.

Akibatnya, tidak ada yang menyalurkan bantuan logistik sehingga menimbulkan kelaparan. Di barak pengungsian itu mereka kekurangan makanan dan minuman serta pakaian. Di saat itulah, Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) hadir untuk menebarkan kasih kepada mereka yang menderita. Pendiri KBKK Irene Stiadi menceritakan, Keuskupan Atambua memohon bantuan kepada mereka. Selain bantuan medis dan firman, mereka juga sekaligus membawa makanan untuk para pengungsi.

Awam Misioner
Benih KBKK mulai tumbuh saat perjumpaan dengan para pengungsi di Atambua pada tahun 2000. Berawal dari perutusan anggota Khursus Pendidikkan Kitab Suci (KPKS) Santo Paulus angkatan ke delapan. Ketika itu, Pastor Martin Harun OFM yang mendorong mereka melakukan kunjungan kemanusiaan ke Atambua. “Dengan dukungan teman-teman kelompok misioner perdana berangkat, diawali dengan misa pemberangkatan yang saat itu saya pimpin di Shekinah,” kata imam dari Ordo Fratrum Minorum itu.

Perkembangan awal inilah yang melahirkan KBKK dan menjadi permulaan dari banyak peristiwa pengembangan komunitas dan berbagai kunjungan bakti. Mereka merupakan kelompok awam misioner yang mempunyai misi memberi pelayanan di bidang kemanusiaan. KBKK berdiri pada tahun 2001.

Selama ini, awam biasanya dilibatkan dalam prakarsa misioner yang berasal dari biarawaan-biarawati atau para imam. Dalam pelayanan KBKK, inisiatif dan daya geraknya semuanya dari awam. Meski begitu, KBKK dibantu para imam, uskup dan biarawan-biarawati dalam menjalankan karya kemanusiaannya. “Keterbukaan dan semangat kerja sama dengan berbagai pihak dalam Gereja dan masyarakat ini adalah kekuatannya dan sekaligus daya pengaruh,” ujar Irene.

Irene mengungkapkan, KBKK mengalami perkembangan setiap tahun. Pelayanannya mereka pun semakin melebar. Pada ulang tahun yang kesepuluh KBKK tahun 2010, Konferensi Nasional KBKK merekomendasikan dibentuknya program kerja misi, kesehatan, lingkungan hidup, ekonomi dan bantuan pendidikan bagi anak setelah usia 15 tahun.

Lebih lanjut, Irene menjelaskan, KBKK memiliki ciri khas di mana selalu berhubungan langsung dengan pihak Gereja lokal, baik dengan keuskupan maupun paroki. Ia menambahkan, relasi tersebut sebagai bentuk kepatuhan terhadap hierarki Gereja Katolik. “Sejak bakti kasih pertama kalinya di Atambua pada tahun 2000 hingga akhirnya karya dari KBKK ini telah dirasakan di lebih 200-an desa di 33 keuskupan di Indonesia,” tutur umat Paroki Yakobus Kelapa Gading ini.

Mutu Pendidikan
Pada tahun 2010 di saat KBKK berusia 10 tahun, komunitas ini menggelar Konferensi Nasional (Konnas) pertama di Bali. Salah satu keputusan konferensi ini adalah komitmen KBKK untuk meningkatkan perbaikan mutu pendidikan dasar di daerah bencana dan kawasan terpencil.

Ketua Komisi Pendidikkan KBKK, Marcella Marlina membeberkan, pada tahun 2011 KBKK memutuskan untuk memberi perhatian khusus kepada daerah Mentawai, Sumatera Barat. Pendidikan di daerah ini sangat memprihatinkan. “Selain saja karena Mentawai tertinggal dari segi pembangunan tetapi juga karena bencana alam berupa gempa dan tsunami baru saja melanda daerah ini saat itu,” terangnya.

KBKK melihat bahwa kebutuhan guru sangat mendesak di daerah ini. Guru sangat sedikit sehingga perlu memilih beberapa anak-anak yang kemudian nantinya disesuaikan dengan kemampuan KBKK. “Bekerjasama dengan pastor paroki setempat maka dicarilah anak-anak muda Mentawai yang asli yang akan dikirim ke Yogyakarta,” kata Marcella.

Pada tahun pertama (2012) lima pemuda dari Mentawai dikirim ke Yogyakarta. KBKK bekerjasama dengan Universitas Sanata Darma (USD) Yogyakarta dan Keuskupan Padang melalui Yayasan Prayoga. Pengiriman pemuda untuk belajar ini berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

Marcella menjelaskan, program yang sama juga terjadi di Keuskupan Agats, Papua. Marcella mengungkapkan, kebutuhan di Asmat berbeda dengan yang berada di Mentawai. KBKK mempertimbangkan dengan kondisi di wilayah ini yang baru-baru ini dilanda gizi buruk. Selain itu, di sini juga dilakukan percobaan kecil-kecilan. KBKK berinteraksi dengan ibu-ibu di Agats memberi pendidikan tentang kesehatan.

Pengalaman tersebut membuka mata KBKK yang akhirnya memutuskan untuk membuat program bantuan beasiswa pendidikkan untuk menjadi perawat. Anak-anak yang direkrut berasal dari Keuskupan Agats. Anak-anak tersebut mengambil kuliah perawat di Makasar untuk nantinya dipulangkan kembali ke Keuskupan Agats. “Mereka akan melayani masyarakat keuskupan Agats. Program ini bekerjasama dengan Kongregasi Suster Putri Maria dan Yosef (PMY) Makasar dan sekolah Tinggi Imu Kesehatan (STIK) Stella Maris Makasar.”

Menularkan Kasih
Program perbaikan mutu pendidikan dasar di daerah bencana dan kawasan terpencil ini telah menjaring putra daerah. Para mahasiswa yang mendapatkan kesempatan studi pada dasarnya mendapat dua tugas. Mereka tidak hanya menjadi guru ataupun perawat tetapi juga bertugas dalam bidang pewartaan iman.

Irene mengungkapkan, mereka sengaja dipersiapkan untuk menjalankan dua tugas itu sekaligus. Selama studi, mereka juga diajarkan untuk menjadi pewarta iman. Dengan demikian, nantinya mereka akan terbiasa untuk menjalankan pewartaan sambil menjalankan karya bagi masyarakat di Mentawai maupun Asmat.

Mereka yang dikirim untuk belajar diharap juga aktif mengajar sekolah Minggu, aktif di lingkungan atau menjadi aktivis Gereja. Mereka membawa kabar gembira itu kepada masyarakat yang mereka layani baik di Asmat maupun di Mentawai. “Mereka akan menularkan kasih yang telah mereka timba melalui pewartaan. Karena selama mereka sekolah juga mereka mendapat bimbingan rohani,” imbuh Irene.

Willy Matrona

HIDUP NO.04 2019, 27 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here