Tjilik Riwut Adalah Dayak

90
Tempat Tjilik Riwut balampah di Bukit Batu, Katingan, Kalimantan Tengah.
[HIDUP/Hermina Wulohering]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Lahir di tengah rimba Kalimantan, Tjilik Riwut berkembang sebagai pribadi yang cerdas dan maju. Ia melawan kesewenangan penguasa Belanda.

Hujan baru saja reda. Bongkahan batu-batu besar yang berderet-deret membentuk gugusan bukit di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah tampak setengah basah. Sejauh memandang, area yang dikenal sebagai Bukit Batu ini hanya ada hamparan hutan. Dari situ, warna hijau seakan membentang hingga batas cakrawala.

Di sela pepohonan ini, ada sebuah tempat yang kini dikenal sebagai balai keramat. Kain-kain kuning yang menjuntai menjadi penanda tempat itu. Konon, seorang pemuda, bernama Tjilik Riwut, pernah bertapa di antara hijau pepohonan itu.

Sejak tahun 1998, Tjilik dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Sejak itu, bukit batu tempat ia bertapa, menjadi semakin lekat dengan namanya. Hingga kini, banyak orang masih saja datang ke sana. Sebagian mencari kesejukan yang tiada henti dapat dijumpai di sana. Sebagian yang lain, ingin mengenang seorang pahlawan Katolik dari Kalimantan Tengah itu.

Berkat Nazar
Sejak kecil, ayah Tjilik yang bernama Riwut Dahiang sering membawa buah hatinya keluar masuk hutan termasuk ke bukit itu. Dahiang yang berasal dari Suku Dayak Otdanum di daerah Sungai Sala, Kasongan, Katingan, begitu mendambakan anak laki-laki. Setiap kali istrinya, Piai Sulang, melahirkan anak laki-laki, selalu saja meninggal dunia saat masih balita.

Tahun 1916, Dahiang balampah (bertapa) memohon kepada Ranying Hatalla (Allah yang Kuasa) di Bukit Batu, tepatnya di atas batu yang disebut Batu Keramat. Ia memohon agar dianugerahi anak laki-laki. Dalam tapa itu, ia mendapat wangsit bahwa kelak anak yang diperoleh akan mengemban tugas khusus bagi masyarakat sukunya.

Akhirnya, Tjilik pun lahir dua tahun kemudian pada 2 Februari 1918, di sebuah puduk (pondok) kebun durian, Kampung Katunen, Kasongan, Katingan. Putra tunggal dari lima bersaudara ini tumbuh sehat dan melewati usia balita. Di masa kecilnya, ia sering bermain bola dengan teman-teman seusianya. Selama permainan berlangsung, ia menyembunyikan kayu dalam kakinya sehingga kalau menendang lawannya pasti terjatuh.

Terkadang, ketika sedang bermain bersama teman-teman, Tjilik begitu saja pergi menuju Bukit Batu meninggalkan teman-temannya. Ia memang suka bermain di tengah rimba. Di sekolah, ia termasuk anak yang cerdas. Saat duduk di bangku kelas V Sekolah Rakyat Vervolg School Zending di Kasongan, dia mendapat tugas khusus dari kepala sekolah mengajar anak-anak kelas I dan II. Tak hanya itu, ia juga diberi tugas mengajar di kampung Luwuk Kanan di hilir Kasongan. Untuk menuju ke sana, ia menempuhnya dengan mengayuh perahu.

Tjilik menyelesaikan pendidikan dasarnya tahun 1931. Dua tahun berselang, ia melanjutkan pendidikan ke Taman Dewasa. Pada masa ini, ia berhasil mempertahankan prestasinya yang cemerlang di bidang akademis.

Laku Balampah
Memasuki usia remaja, Tjilik Riwut melanjutkan tradisi orang tuanya balampah seorang diri di Bukit Batu. Wakil Ketua Dewan Adat Dayak, Lukas Tingkes, mengatakan, balampah adalah bagian hidup orang Dayak zaman dulu. Selama balampah, orang menyendiri, menarik diri dari semua kegiatan duniawi, dan bersemedi dalam keheningan.

Lukas menjelaskan, orang Dayak zaman dulu, terutama orang-orang tua, para pemimpin adat, pemimipin suku, pemimpin komunitas masyarakat sering balampah untuk mencari ilham. Dari laku itu, mereka dapat memahami apa yang harus dikerjakan. “Saat balampah, orang menghubungkan dirinya dengan alam, dengan Sang Pencipta, tidak ada orang lain.” Ia menambahkan, selain di Bukit Batu, Tjilik juga mengadakan laku tapa di Batu Banama, Bukit Tangkiling, Kota Palangka Raya.

Sebagai anak Dayak, Tjilik juga menghayati serta meneliti tentang bermacam-macam kesaktian. Tradisi ini telah berurat akar dalam tradisi Dayak. Dalam buku Kronik Kalimantan I, disebutkan tujuan utama Tjilik belajar dan memperdalam kekuatan spiritual leluhurnya adalah untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Ketika itu, orang Belanda bersikap keras dan sewenang-wenang kepada rakyat.

Pada masa ini, sudah mulai masuk Zending atau penyebaran Injil. Mereka masuk bersamaan dengan orang Portugis dan orang Belanda. Namun, Zending seakan-akan menjadi alat pemerintah kolonial di Kalimantan. Banyak kesenian Dayak asli nyaris hilang karena pengaruh Zending. Hal inilah yang ditentang oleh Tjilik.

Dalam catatannya, Tjilik menulis, suku Dayak selalu dikebelakangkan. Menurut istilah orang-orang tua bahari: “Kalimantan te baya ingkes eka oloh are malauk” ‘Kalimantan hanya disimpan untuk tempat orang mencari ikan’. Meski Zending membangun beberapa sekolah di sana, namun Suku Dayak sama sekali tidak merasa puas. Sekolah itu tidak memberi jalan maju putra-putri Dayak. Padahal, banyak anak Dayak yang ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atau sekolah menengah tinggi.

Segala permohonan dan permintaan orang Dayak untuk mendapat bantuan dari pemerintah Belanda selalu tidak diperhatikan. Penjajahan itu merasa cukup jika seorang putra Dayak sudah bisa membaca dan menulis.

Manusia Rimba
Hutan belantara rasanya akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam budaya Dayak. Di tengah hutan ini juga, Tjilik biasa melakukan namoe (perjalanan). Laku ini ia mulai dari Katingan di wilayah Mahakam yang terletak di tepi Sungai Kapuas Besar menuju ke tumang-tumang (muara-muara). Ia juga sering berjalan sampai ke olong-olong (sungai-sungai) yang ada di wilayah Kalimantan Timur. “Itulah sebabnya beliau adalah manusia rimba. Dengan bakat dan talenta, ia menelusuri seluruh Kalimantan, yang pada masa itu masih hutan rimba, hanya dengan berjalan kaki,” ujar Lukas.

Apapun yang Tjilik temukan saat namoe, selalu ia tuliskan. Termasuk lintah dan binatang-binatang liar seperti bahuang (beruang), ular tadung, banteng, kahiu (orang utan), panganen (ular sawah). Ketika masuk keluar kampung, ia mencatat keadaan sosial masyarakat juga setiap kekhasan yang dijumpai. “Perjalanan di darat jauh lebih sukar daripada perjalanan melalui sungai,” tulis Tjilik.

Kecintaan Tjilik terhadap dunia menulis ini, mendorongnya untuk mengikuti kursus wartawan. Sekali waktu, ia balampah di Bukit Batu. Ia selalu duduk dengan posisi yang sama di batu yang disebut batu gaib. Sandaran tubuh dan pijakan kakinya di batu itu tercetak hingga saat ini. Di Bukit Batu juga, terdapat batu khusus tempat ia beristirahat merebahkan diri.

Ada pula sebuah batu yang digunakan Tjilik mana kala ia hendak mengambil suatu keputusan. Konon, Tjilik akan berjalan melalui batu yang dinamakan “tingkes” atau “nenung pambelum” yang membentuk lorong kecil. Jika ia bisa melewati batu ini, maka rencananya akan berhasil. Jika tidak, berarti ia perlu memikirkan strategi atau rencana lainnya.

Melalui laku tapanya kala itu, Tjilik mendapat petunjuk yang menyatakan dia harus menyeberang laut menuju Pulau Jawa. Ketika itu, komunikasi dan transportasi dari pedalaman Kalimantan ke Jawa amat sulit. Dapat dikatakan, menyeberang ke Pulau Jawa hanya impian.

Namun, moto hidup “isen mulang” ‘malu pulang’, Tjilik belum ingin menyerah. Halangan dan kesulitan, ia anggap sebagai tantangan. Ia pun berjalan kaki menerobos rimba, naik perahu dan rakit, demi menuju Pulau Jawa. Hingga akhirnya, ia pun sampai ke Banjarmasin. Dari tempat itu, ia menyeberang ke Jawa.

Dunia Pers
Tjilik Riwut menempuh pendidikan perawat di Bandung dan Purwakarta atas bantuan dari Zending. Putri keempatnya, Kameloh Ida Lestari menceritakan, sang ayah tidak menyelesaikan studinya itu. Ia lebih condong belajar tentang pers.

Waktu itu, di Banjarmasin dibentuk suatu perhimpunan seluruh suku Dayak yang dinamai Pakat Dayak. Pakat Dayak bertujuan mengejar ketinggalan derajat suku Dayak baik dalam bidang politik, sosial, maupun ekonomi.

Pakat Dayak juga mendirikan sebuah majalah yang dinamakan Suara Pakat. Tjilik didapuk menjadi pemimpin redaksi. Selain menulis dengan nama aslinya, ia menulis artikel dengan memakai nama samaran, Sanaman Mantikei dan Dereh Bunu. Saat itu, ia gembira atas lahirnya Pakat Dayak.

Dalam artikel berjudul Selamat Jalan dan Selamat Bertemu yang terbit dalam Suara Pakat diceritakan bahwa Tjilik meninggalkan Banjarmasin menuju ke Purwakarta. Di sana juga dituliskan, Tjilik tidak hanya memberikan dukungan bagi Pakat Dayak melalui tulisan tetapi terlebih mempraktikkan. Setelah pindah ke Purwakarta, Suara Pakat menyediakan dua kolom kepada Tjilik Riwut.

Dalam periode yang sama, Tjilik juga menjadi koresponden Harian Pembangunan yang dipimpin oleh idolanya, sastrawan angkatan pujangga baru, Sanusi Pane. Ia juga menulis untuk Harian Pemandangan pimpinan M. Tabrani. Pergulatan dengan dunia jurnalistik ini membuatnya berkenalan dengan perjuangan untuk kemerdekaan. Ia kemudian memilih ke Yogyakarta untuk berjuang.

Mengalami Kalimantan
Sosok Tjilik Riwut disebut sangat lengkap Dayaknya. Ia sangat mengakui dan menghargai budaya dan kearifan-kearifan lokal Dayak. Tjilik Riwut suka bermain kecapi dan seruling bambu. Dengan kecapinya, ia sering bernyanyi, bercerita dan berpantun. Ia dikenal sebagai raja pantun.

Seluruh Kalimantan praktis pernah dijelajahi Tjilik, bahkan sampai ke kampung-kampung, suku-suku, rumah-rumah orang. Ia mengetahui benar, merasakan, dan menjalani hidup sebagai orang Dayak. Bahkan setelah menjadi pemimpin Kalimantan Tengah pun dia masih melakukan itu.

Lukas yang menghabiskan empat tahun menjadi asisten pribadi Tjilik mengisahkan, saat mendatangi warga, Tjilik mengetuk pintu rumah, mengucapkan salam, lalu masuk terus sampai ke dapur. “Dia lihat apa yang dimakan, duduk dan ikut makan bersama. Kalau tidak ada kursi, ya duduk di amak pasar (tikar rotan),” kisahnya.

Pada saat itulah, Tjilik akan bertanya bagaimana hasil tani, tangkapan ikan di sungai, sekolah anak-anak, adakah anggota keluarga yang sakit. Makanan yang ia makan bersama masyarakat pun tidak berbeda. “Kalau makan ikan asin, ya ikan asin juga,” tambah Lukas.

Selain memiliki memori yang bagus, kelebihan lain Tjilik adalah budaya literasi yang kuat. Hal ini juga ia wariskan kepada anak cucunya. “Saya kira kecerdasannya di atas rata-rata. Pak Tjilik bisa menghafal nama sungai di seluruh Kalimantan hanya dalam waktu dua menit. Seluruh desa di tempat asalnya, Katingan, ia lafalkan hanya dalam lima detik,” kata Lukas.

Semangat isen mulang yang menjadi prinsip membuat Tjilik fokus pada apa yang ia kerjakan. Harus berhasil baru kembali dan apa yang dimulai harus selesai. Dalam suatu perjalanan bersama para stafnya, ia pernah mengunjungi masyarakat di pedalaman Kahayan dan Katingan. Hampir satu bulan mereka berjalan kaki di hulu-hulu.

Lukas menceritakan, saat sampai di salah satu desa, ternyata tidak ada lagi perahu. Saat itu juga, rombongan membuat rakit dengan menebang beberapa pohon dengan mandau. “Kami buat rakit sehingga bisa menyusuri Sungai Kahayan,” kisah Lukas.

Dayak 24 Karat
Semangat isen mulang itu, kini menjadi semboyan Provinsi Kalimantan Tengah. Lukas mengatakan, nilai-nilai luhur budaya Dayak yang tercermin dalam diri Tjilik, antara lain hasupa hasundau (berdialog). Saat menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah, Tjilik mengumpulkan pejabat terasnya dalam acara yang tidak formal seperti sarapan bersama, minum-minum kopi, atau makan malam. Kadang, mereka juga naik kapal ke salah satu danau dan bakar ikan.

Pada momen itulah Tjilik membiarkan para bawahannya bertukar pendapat dan berdebat. Cara-cara ini membuat Tjilik mendapat dukungan secara murni dari bawahannya. Ia melakukannya dengan apa adanya dan tidak formal. Acara-acara seperti itu biasanya diakhiri dengan permainan kecapi sambil menyanyikan beberapa lagu. “Orang juga tidak tega berbuat macam-macam karena beliau itu murni,” ujar Lukas.

Sikap hidup orang Dayak yang jujur juga tampak dalam sosok Tjilik. Ia menjalani hidup sederhana meski menjadi orang nomor satu di Kalimantan Tengah. Ia tidak pernah mengambil apa yang bukan bagiannya. Dalam perjalanan dinasnya, kira-kira untuk waktu satu sampai dua minggu, bagian keuangan biasa memberikan beras, gula, dan kebutuhan lainnya untuk dibawa dalam perjalanan. Saat pulang dan masih ada sisa beras dan gula, Tjilik akan membagikannya di hadapan orang-orang sebelum pulang kantor.

Menurut Lukas, semuanya ada pada Tjilik, falsafah hidup “Budaya Huma Betang atau Belom Bahadat” yaitu perilaku hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta taat pada hukum (hukum negara, hukum adat dan hukum alam). “Tjilik adalah ‘Dayak 24 karat’. Tjilik Riwut adalah Dayak. Dayak adalah Tjilik Riwut,” ujar Lukas.

Hermina Wulohering

HIDUP NO.05 2019, 3 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here