Paroki St Fransiskus Assisi Saribudolok, Sumatera Utara : Paroki Para “Malaikat”

1447
Pesta tahbisan imam yang pernah diadakan di Paroki Saribudolok.
[NN/Dok.Kapusin]
Paroki St Fransiskus Assisi Saribudolok, Sumatera Utara : Paroki Para “Malaikat”
3.3 (66.67%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Umat Paroki St Fransiskus Assisi sederhana dalam pola pikir, tetapi iman mereka tak tergerus oleh apapun. Seakan menjadi biarawan-biarawati adalah syarat tertinggi wujud iman mereka.

Kota dingin, begitu kesan pertama ketika berplesiran di Saribudolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dengan udara dingin, kota ini kerap disebut “surga para petani”. Di sini, orang akan menemukan lahan pertanian yang begitu luas. Memasuki kota ini melalui Kota Barastagi, mata kita dibuat takjub akan ratusan hektar perkebunan jeruk, sayur, dan tanaman lainnya. Melewati jalur ini, para petani bersenandung sambil bekerja, sesekali mereka menyapa siapapun yang lewat dengan sapaan khas Batak, horas!.

Tak hanya lahan pertaniannya yang luas, di Saribudolok panggilan hidup selibat juga begitu subur. Paroki St Fransiskus Assisi Saribudolok tercatat sebagai paroki penghasil biarawan-biarawati terbanyak di Keuskupan Agung Medan (KAM). Tak heran dalam Gereja KAM, paroki ini sering diidentikkan dengan “paroki para malaikat” karena banyak pastor, suster, frater, dan bruder yang berasal dari paroki ini. Bahkan Uskup Agung Medan Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap juga adalah putera Saribudolok, dari Stasi St Paulus Bandar Hinalang.

Paroki ini berada di empat kabupaten yaitu Dairi, Deli Serdang, Karo, dan Simalungun. Karena itu umat paroki ini berasal dari berbagai etnis dengan dominan Simalungun, Karo, dan Toba kemudian ada juga Suku Nias dan pendatang dari Nusa Tenggara Timur. Baik dari segi bahasa, tiga sub suku besar ini tentu berpengaruh tetapi mereka saling melengkapi menjadikan paroki ini kaya akan toleransi.

Kepala Paroki Pastor Angelo PK Purba OFM Cap menunjukkan pertumbuhan umatnya yang signifikan. Per 31 Desember 2013 sekitar 46 stasi dengan lima wilayah persiapan stasi di mana jumlah umat tak kurang dari 33 ribu jiwa. Kini sudah lebih dari 40 ribu jiwa.

Sebagai paroki terluas, wajar saja panggilan hidup membiara menjadi hal yang biasa. Di sini, ujar Pastor Angelo, seorang anak masuk seminari seperti membawa marga keluarga. Dia menjadi pionir keluarga di tengah masyarakat. Bisa dipastikan kalau musim test masuk seminari, sekitar 20 orang dari paroki ini yang mendaftar. Bahkan pernah dua truk besar berisi sekitar 50 orang yang masuk seminari. “Segala daya upaya akan dipertaruhkan orangtua asalkan anak menjadi imam. Keluarga akan berusaha agar dari satu marga bisa muncul seorang imam,” ujarnya.

Di paroki ini, ada sembilan wilayah pastoral yaitu Saribudolok, Rayon Tongging, Rayon Garingging, Rayon Harang Gaol, dan Rayon Tiga Runggu. Hampir semua rayon dengan stasi-stasinya pasti ada seorang imam. Bahkan dalam satu keluarga bisa terdapat 2-3 imam dan suster. Hingga saat ini, dari data sementara ada sekitar lebih dari dua ratusan biarawan dan biarawati yang berasal dari paroki ini. Mereka tersebar di berbagai tarekat seperti KSSY, CB, FCh, FSE, KYM, SFD, KSFL, FCJM, OSF, SND, Kapusin, Konventual, BM, dan Projo. “Suster saja sudah hampir 150 suster. Sementara imam sekitar 50 orang dari berbagai tarekat,” kata Pastor Angelo.

Pastor Angelo menambahkan semangat hidup membiara ini tak lepas dari peran misionaris Tanah Simalungun Pastor Elpidius Van Duijnhoven OFM Cap (bermisi tahun 1935-1970). Saat itu, Mgr Matthias Brans, meminta Pastor Elpidius untuk fokus melayani umat Simalungun Utara dan Timur Danau Toba. Misi dimulai dari Saba Dua, Wilayah Pematangsiantar di mana secara umum masyarakat masih menganut agama Parmalin (agama asli Batak).

Salah satu model pastoral misionaris yang kerap disapa Ompung Dolok ini adalah menguatkan sendi iman dalam keluarga. Lewat baptisan pertama di Harang Gaol oleh Maknir Paulus Sihaloho, Gereja semakin tumbuh pesat di wilayah Simalungun. “Kepekaan Ompung Dolok dalam reksa pastoral keluarga membuat iman orang Katolik dan kecintaan terhadap para misionaris mengerucut keinginan banyak anak menjadi biarawan-biarawati,” ungkap Elpidius Saragih Ketua Stasi St Paulus Bandar Hinalang.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.05 2019, 3 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here