Penyandang Tuna Rungu Memupuk Iman

110
Herliana Pangestu dan Restu Lestari.
[HIDUP/ Felicia Permata Hanggu]
Penyandang Tuna Rungu Memupuk Iman
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Tidak dapat mendengar bukan menjadi alasan bagi mereka untuk tidak giat mencari pengajaran iman. Dengan perjuangan, api iman mereka terus dikuatkan.

Perjalanan sunyi penyandang tuna rungu merengkuh iman Katolik acap kali menemui jalan berliku. Keterbatasan komunikasi membuat mereka terisolasi dari sumber pengajaran iman dan komunitas Gereja.

Banyak dari penyandang tuna rungu yang menyerah dengan keadaan, tetapi banyak juga tak patah arang. Kehausan mencari air hidup terus mendorong mereka untuk menerabas tembok keterbatasan hingga menemukan kerinduan hati yang dicari yakni Kristus sendiri.

Iman Katolik
Herliana Pangestu terpana melihat bayi perempuan mungil di pangkuannya. Mata bulat sang bayi menelisik wajah sang ibu. Herliana dengan lembut menyapukan tangannya di atas pipi lembut sang bayi sambil mengumamkan kata “halo” namun tanpa suara. Hanya jemari dan ekspresi wajah yang berkomunikasi mengungkapkan kebahagiaan. Bayi mungil itu pun diberi nama Restu Lestari.

Namun, ternyata belakangan diketahui, bahwa Restu seperti Herliana memiliki penurunan daya dengar. Keterbatasan itu tidak mempengaruhi hubungan ibu dan anak ini, justru menguatkan ikatan batin yang terjalin.

Herliana bukanlah seorang penganut Katolik pada mulanya. Lewat anak semata wayangnya, Restu, ia mengenal iman Katolik. Sejak kecil, Restu memang disekolahkan di sekolah Katolik.

Sejak kelas empat Sekolah Dasar kelas, Restu suka sekali dengan perpustakaan. Ribuan buku telah menghinoptisnya. Setiap kali berkunjung, Restu akan melahap cerita santo-santa. Ia begitu tertarik dengan kisah kemartiran dan pengorbanan para kudus dalam mempertahankan iman.

Dari bacaan ini, timbul kerinduan Restu untuk mengenal iman Katolik lebih jauh. Niat ini pun ia utarakan kepada sang ibu. Akhirnya, Restu dibaptis bersama ibunya Herliana pada tahun 1997. Saat itu, Restu telah berusia 12 tahun.

Restu mengambil nama Fransisca dan Herliana mengambil nama Monica sebagai nama baptis mereka. Ketika air suci menyentuh dahi Herliana aliran sukacita memenuhi hatinya. “Saya merasakan Roh Kudus hadir dan saya makin percaya pada Yesus. Saya mempercayakan iman saya lewat perantaraan doa Bunda Maria,” tutur Herliana menggunakan bahasa isyarat.

Restu menceritakan bahwa ia kagum dengan pribadi Santa Agnes Kim Hyo Ju yang mendidik enam anaknya dengan baik. Dua bersaudara di antara enam itu, Kolumba Hyo Im dan Agnes Hyo Ju sangat rukun. Kedekatan dua bersaudara ini mengingatkan Restu akan hangatnya hubungan Restu dengan Herliana. “Kisah ini mirip aku sama mama, selalu kompak kayak kakak adik dibanding ibu anak,” imbuh gadis yang suka travelling ini.

Saat ini keduanya tergabung dalam Paguyuban Tuli Katolik (Patuka). Mereka berharap, Gereja Katolik memiliki akses bahasa isyarat dan disediakan katekis yang khusus menangani umat penyanang tuna rungu yang bisa mendidik teman-teman tuna rungu seperti di Filipina.

Teladan Keluarga
Regina Alam Wati pun tidak bisa mendengar sejak lahir. Ia juga memiliki ketertarikan kepada Katolik sedari kecil. Hal ini bermula dari ajakan tetangganya untuk mengikuti Sekolah Minggu. Ia begitu senang bercengkrama dengan teman sejawat di sana. Teman-temannya tak begitu mempedulikan kekurangannya.

Agar Regina mudah mencerna pengajaran, seorang teman selalu menuliskan segala renungan yang disampaikan imam di gereja. Dengan demikian, ia semakin mengerti apa isi homili. Tak ada pergolakan berarti ketika ia meminta izin orangtuanya untuk dibaptis pada usia 19 tahun. Orangtuanya percaya, bahwa ajaran Katolik akan mengajarkan untuk menghormati orangtua.

Demikian, Regina menjadi satu-satunya penganut Katolik di dalam keluarga. Tantangan justru muncul ketika membangun biduk rumah tangga bersama sang suami yang beragama Kristen. Awalnya, suami tidak mau mengikuti menjadi Katolik, bahkan menolak untuk pergi bersama ke gereja. Namun seiring berjalannya waktu, hati sang suami luluh juga melihat keluarga muda lain selalu pergi bersama ke Gereja.

Regina sempat marah kepada sang suami karena tidak begitu memperhatikan tumbuh kembang iman dua buah hatinya. Ia berujar, salah satu tanggung jawab sebuah pernikahan adalah pendidikan iman anak. “Kita ini jadi orangtua masa kamu tidak menjadi contoh?” ujarnya suatu kali kepada sang suami.

Doa bersama di dalam keluarga selalu mulai hari-hari mereka. Doa juga dilakukan saat makan, dan di malam hari. Regina menerapkan kebiasaan ini. Kesunyian tak menyurutkan langkahnya untuk menjaga suluh iman keluarga. Demi menjaga imannya, ia juga rajin berkomunitas dengan bergabung bersama LDD meskipun tinggal di Tangerang, Banten.

Saat seseorang menanyakan apakah ia menyesal dilahirkan sebagai penyandang tuna rungu? Ia selalu menjawab “ia tidak pernah menyesal”.

Kegigihan orangtuanya untuk menyekolahkan dia membentuknya menjadi pribadi yang mandiri. “Saya bersyukur dengan keadaan saya dan saya bersyukur orangtua saya bersikeras agar saya bisa bersekolah.”

Regina selalu mendorong kedua anak perempuannya untuk rajin bersekolah dan menjaga sopan santun. Sebagai orangtua, ia takut jikalau anaknya jatuh ke dalam pergaulan bebas. Ia percaya, bahwa Tuhan pasti akan melindungi mereka. “Gerak saya terbatas tapi Tuhan tidak terbatas,” ungkapnya dengan penuh iman.

Buah Komunitas
Teddy Marco mengalami perubahan hebat dalam memandang hidup. Perubahan ini bermula saat ia menjadi salah satu anggota Kumpulan Orang Mau Pelajari Ajaran Kristus (KOMPAK). Dengan keterlibatan ini, ia mulai terjun dalam hidup berkomunitas.

Sejak kecil, Teddy diperlakukan sangat disiplin oleh sang ayah. Pola pendidikan sang ayah itu bahkan cenderung kasar. Kehidupannya begitu sulit. Tidak begitu banyak jejak kasih yang ditinggalkan sang ayah.

Saat kecil, Teddy tidak tahu harus berdoa kepada siapa. Ayahnya jarang mengajarkan cara berdoa, termasuk doa seturut agama yang dianut sang ayah. “Saya bingung mau berpegang pada siapa waktu itu, “ tuturnya dengan bahasa isyarat.

Saat dewasa, Teddy memutuskan untuk dibaptis Katolik. Dari sana, ia seakan menemukan sauh yang pasti. Ia begitu senang bisa bercakap-cakap dengan Yesus. Baginya, Yesus adalah sahabatnya tempat ia berkeluh kesah ketika banyak orang menyalahartikannya.

Teddy bercerita melalui bahasa isyarat, bahwa Yesus telah mengangkatnya dari keterpurukkan. Hidup berkomunitas membantu Teddy untuk menemukan semangat sekaligus membangun kepercayaan dirinya. Kini, ia bisa bekerja di sebuah perusahaan di bagian gudang walaupun menemui banyak kendala akibat keterbatasan komunikasi. “Saya tidak pernah merasa sendirian karena Yesus selalu ada,” ungkapnya bangga.

Teddy dalam waktu dekat berencana akan menikah dengan pasangan yang juga penyandang tuna rungu. Dalam komunitas itu juga, ia menemukan pasangannya. Hidup berkomunitas membuat dia menjadi utuh sebagai makhluk sosial. Hal yang tidak pernah ia rasakan ketika belum bergabung dalam komunitas.

Cita-cita Teddy sederhana, ingin tetap setia dalam Tuhan dan iman Katolik. Selain itu, ia mau belajar menyerahkan seluruh hidupnya pada penyelenggaraan Tuhan. Komitmen ini ia wujudkan dalam kebiasaan baru, yakni berdoa sebelum tidur. “Sekarang jika belum berdoa, saya tidak bisa tidur,” ungkapnya.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.06 2019, 10 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here