Saat Penyandang Tuna Rungu Saling Berjumpa

135
Delegasi Indonesia dari Paguyuban Tuli Katolik (Patuka) saat terlibat dalam Asia Deaf Catholic Conference di Tagaytay, Filipina.
[NN/Dok.Pribadi]
Saat Penyandang Tuna Rungu Saling Berjumpa
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Tanpa kata, tanpa nada. Hanya rasa yang terlintas di dalam dialog kesunyian.

Gunung Taal yang terletak di tengah danau di atas dataran tinggi Tagatay, Cavite, Filipina. Di sekitarnya, udara sejuk dan pemandangan indah tiada henti luas memberikan nuansa asri. Tidak jauh dari situ, di sebuah tempat bernama Maryrdige Good Sheperd, beberapa ratus orang terlihat berdialog hanya dengan bahasa isyarat. Mereka hanya melambaikan tangan, tanpa sepatah kata pun terucap.

Saat itu, penyandang tuna rungu dari berbagai negara Asia berkumpul dalam acara Asia Deaf Catholic Conference 2019. Peserta pertemuan itu berasal dari Filipina, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Macau, Sri Lanka, dan Indonesia.

Saat tiba di Manila, peserta berkumpul di Gereja Bunda Maria Penolong Abadi, Baclaran, Manila. Usai registrasi, para peserta megikuti ibadat keberangkatan dan menerima berkat dari pastor paroki setempat sebelum menuju lokasi konferensi. Selanjutnya, peserta harus menempuh perjalanan kira-kira dua jam dari Manila menuju ke tempat pertemuan itu.

Bagian dari Tubuh Kristus
Asia Deaf Catholic Conference pertama kali digelar di Sam Phran, Thailand tahun 2015. Konferensi ini merupakan gathering yang sangat unik, biarawan/biarawati, dan kaum awam yang berdialog dengan budaya bahasa mereka yang unik. Mereka menggunakan bahasa isyarat dan saling bercerita tentang pengalaman hidup dan iman masing-masing.

Tujuan pertemuan ini adalah untuk memeriksa kembali situasi sehingga dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang tantangan pastoral yang dihadapi kaum tunarungu. Mereka ingin mengetahui proses integrasi mereka ke dalam kehidupan liturgi dan sosial, baik di Gereja maupun di masyarakat.

Penyandang tuna rungu tidak membutuhkan simpati, alih-alih, mereka perlu merasa diterima. Pengakuan akan ruang dan hak mereka memberi mereka kesempatan untuk disambut sebagai satu kawanan. Di konferensi ini juga, mereka diundang untuk memperbesar dan memperluas pandangan serta berdialog tentang ketidakmampuan pendengaran.

Asia Deaf Catholic Conference tahun ini bertema “Inclusion and Communion” dan digelar sejak 27 November sampai 2 Desember 2018 lalu. Selama lima hari, peserta mengisi waktu dengan kegiatan yang cukup padat antara lain fellowship, seminar, group sharing, Perayaan Ekaristi, kisah-kisah inspirasional, serta cultural performance.

Pada kesempatan itu, hadir empat orang imam selaku pembimbing rohani dari beberapa negara; Pastor Park Min Seo (imam tuli dari Korea Selatan), Pastor Charles Dittmeier (imam dengan gangguan setengah pendengaran asal Amerika yang bertugas di Kamboja). Hadir juga Pastor Michael Chua (imam dengar yang fasih berbahasa isyarat dari Kuala Lumpur, Malaysia), serta Pastor Kim (pembimbing umat disabilitas dari Korea Selatan).

Di tengah mereka juga ada dua orang suster dari Sri Lanka; Sr Jachinta yang adalah pendiri Sekolah bagi Penyandang Tuna Rungu St Yosep di Ragama, Srilanka dan Sr Damayanthie, biarawati penyandang tuna rungu yang diterima secara khusus sebagai pengajar bagi murid-murid yang memiliki masalah pendengaran yang sama. Tak ketinggalan, Sr Agnetta Kim dari Korea Selatan yang merupakan direktur panti jompo tuna rungu di Seoul, Korea Selatan.

Ketua Persatuan Tuna Rungu Katolik Filipina, Christian Romuel Arguelles menjelaskan, bahwa semangat yang ingin dicapai Asia Deaf Catholic Conference 2019 ini adalah menyerukan kepada seluruh peserta bahwa umat tuli Katolik adalah bagian yang utuh dari Gereja Katolik Universal. Meskipun banyak perbedaan baik suku bangsa serta kondisi fisik, mereka adalah bagian dari tubuh Kristus yang tak terpisahkan dari umat beriman lainnya.

Menyadari bahwa umat tuli memiliki kebutuhan yang unik untuk menjadi bagian dari Tubuh Mistik Kristus, maka Gereja melalui Paus Fransiskus semakin membuka diri untuk menghadirkan Gereja yang inklusif. Pewartaan karya keselamatan serta seluruh pelayanan Gereja perlu disesuaikan dengan kondisi umat yang beragam khususnya mereka yang memiliki hambatan fisik, seperti umat tuli.

Dosen teologi di Universitas St Thomas, Manila, Kristine Menesses mengungkapkan, selama ini umat penyandang tuna rungu amat jarang terlibat untuk merefleksikan Kitab Suci secara mandiri. Seluruh penjelasan Kitab Suci lebih banyak diberikan oleh tafsir “orang dengar”. Umat itu lebih banyak hanya menerima begitu saja semua pendapat tentang Kitab Suci, meski kadang kurang sesuai dengan persoalan, perasaan, dan pengalaman mereka sendiri.

Oleh karena itu umat tuli pun dilatih untuk melakukan pendalaman iman secara mandiri. Umat dengar boleh memandu namun harus membatasi diri berbicara tentang pesan isi Kitab Suci dari sudut pandangnya. Penyandang tuna rungu mestinya diberi kesempatan mengungkapkan perasaan dan pemikirannya. “Seluruh pemikiran buah refleksi pribadi peserta kemudian saling dihubungkan sedemikian rupa, menjadi refleksi bersama menurut penafsiran tuli yang orisinil,” ujar Kristine.

Saling Menginspirasi
Adalah Renato Cruz seorang penyandang tuna rungu yang memiliki kisah perjalanan iman yang inspiratif. Ia dan keluarganya mendapat kesempatan yang terhormat bertemu dan diberkati oleh Paus Fransiskus pada 16 Januari 2015. Dalam Asia Deaf Catholic Conference 2019, ia membagikan kisahnya tentang bagaimana orangtuanya tidak pernah menyerah dan terus bersemangat memperkenalkan dan membina iman Katolik sejak usia dini.

“Sebagai penyandang tuna rungu saya bersyukur atas kebaikan Tuhan yang menolong saya melalui orangtua dan orang lain. Mereka dengan sabar mengajarkan saya kasih dan iman akan Tuhan daripada memperhatikan hambatan ketulian saya,” tutur ayah dari empat orang anak ini.

Renato menambahkan, agar para sahabat penyandang tuna rungu terus bersabar untuk mengenal Tuhan. Ia berharap keluarga dan komunitas terus mendukung penyandang tunarungu atau anggota keluarganya yang mengalami masalah yang sama. “Ajaklah mereka ke perayaan Ekaristi dengan layanan penerjemah isyarat,” harapnya.

Saat ini, Renato bekerja di Catholic Ministry for Deaf People (CMDP) dan mengajar pendidikan agama bagi siswa-siswi penyandang tuna rungu yang beragama Katolik di sekolah umum.

Dalam Asia Deaf Catholic Conference 2019 ini peserta berkesempatan merayakan Ekaristi di Basilika Mini St Martinus dari Tours, Taal-Batangas. Para delegasi dari berbagai negara ini disambut dengan hangat. Pastor Oscar Andal terkesan atas kehadiran peserta konferensi. Kehadiran mereka, menurutnya, memberikan kesaksian bahwa mesti menyandang tunarungu, mereka mampu mendengarkan suara Tuhan dengan hati mereka.

Meski mengalami hambatan pendengaran, umat penyandang tuna rungu berjuang untuk tetap menyapa dan mendengarkan suara Tuhan, melalui hati yang selalu terbuka. “Saat ini banyak orang semakin sulit untuk mendengarkan seruan panggilan Tuhan karena kesibukan duniawi. Namun kehadiran Anda mengajarkan kami untuk membuka telinga hati kami lebar-lebar agar Tuhan hadir dan turut campur tangan dalam hidup kita,” ujar Pastor Oscar.

Liturgi Inklusif
Liturgi dalam Gereja amat perlu diinkulturasi dengan budaya tuna rungu sebagaimana halnya budaya umat dengar. Koordinator Lasallian Ministry Program for the Deaf, Michael Jose Auntencio menuturkan, semangat inklusif adalah langkah awal dari Gereja untuk berinkulturasi dengan budaya umat di mana Gereja hadir. Kristus menyambut siapapun yang mau datang kepada-Nya. “Rencana karya keselamatan adalah untuk semua orang. Allah Bapa telah berinkarnasi dalam Yesus Kristus, bagi seluruh makhluk termasuk juga bagi umat penyandang tuna rungu.”

Mengupayakan liturgi yang inklusif merupakan sikap terbuka Gereja untuk menghadirkan karya keselamatan Kristus di tengah pelbagai hambatan fisik. Keunikan budaya tuna rungu untuk terlibat dalam Liturgi Gereja antara lain dengan adanya penerjemah isyarat. Posisi tempat duduk bagi umat penyandang tuna rungu dan penerangan yang cukup nyaman perlu disediakan di setiap gereja. Acara puncak ADCC ditutup dengan Barrio Fiesta, malam keakraban khas pesta rakyat mayarakat Filipina. Pada malam itu, peserta menggunakan busana tradisional masing-masing.

Marchella A. Vieba/Frans Dwi Susanto

HIDUP NO.06 2019, 10 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here