Beato Yakobus Zhou Wen-mo ( 1752-1801) : Pelangi di Balik Misi “Pastor Inkarnasi”

131
Beato Yakobus Zhou Wen-mo.
[katolsk.no]
Beato Yakobus Zhou Wen-mo ( 1752-1801) : Pelangi di Balik Misi “Pastor Inkarnasi”
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Ia sangat tertarik pada misteri inkarnasi Kristus. Saat berpastoral, ia diutus ke tengah kesulitan yang tiada tara.

Pastor Yakobus Zhou Wen-mo, bukanlah pribadi yang pintar berkhotbah. Pastor Zhou hanya seorang imam biasa. Ia tak memiliki kharisma persuasif. Hal ini dibuktikan dalam setiap khotbahnya, apapun yang ia sampaikan terdengar datar-datar saja di telinga umat.

Karena itu, banyak umat bosan mendengar khotbah-khotbah Pastor Zhour. Setiap kali, Pastor Zhou berkhotbah, mereka lebih menikmati membaca katekismus atau Kitab Suci. Hampir dipastikan, banyak umat bisa menebak arah pembicaraan Pastor Zhou. Khotbahnya selalu mengulas soal inkarnasi: pewahyuan Allah menjadi manusia. “Inkarnasi” memang topik klasik yang susah bagi umat. Pastor Zhou pun sadar akan hal ini. Namun, ia meyakini, inilah inti iman Kristen.

Berkat refleksi pada inkarnasi ini, ia berani melangkah saat pimpinan mengutusnya ke Seoul, Korea, sebagai misionaris. Ia menyadari, di tanah misi itu, nyawanya pasti terancam. Benar saja, ketika banyak orang Kristen dianiaya di Negeri Gingseng itu, Pastor Zhou setia bersama umatnya. Berkat kekuatan yang ia timba dari misteri inkarnasi, ia pun taat sampai mati. Ia dipenggal kepalanya di Saenamteo. Sebuah tempat di dekat sungai Han, Seoul.

Pilihan Terakhir
Pastor Zhou mendapat tawaran untuk bermisi ke Korea dari Uskup Peking, Beijing, Tiongkok, Mgr Alexandra de Gouve TOR (1751-1808). Mgr Gouve memiliki mimpi ingin membuka lahan misi di Korea. Ia mengetahui, bahwa benih Seohak (sebutan untuk orang Katolik Korea) sudah ada sejak abad XVIII. Kekristenan telah di bawa ke wilayah itu oleh Kaum Sirhak (cendekiawan) Kristen. Salah satu tokoh yang bisa disebutkan adalah Yi Seung-hun (1756-1801) yang dibaptis di Beijing.

Misi di Korea sempat berhenti. Pada masa Dinasti Joseon ada maklumat anti Katolik. Ia menangkap dan menyiksa orang-orang Krsiten. Di saat bersamaan dengan hadirnya maklumat ini, pada 9 September 1831, Keuskupan Korea (Sekarang Keuskupan Agung Seoul) terbentuk. Paus Gregorius XVI menetapkan yuridiksi pra-Keuskupan Misionaris dengan nama Vikariat Apostolik Korea, yang wilayahnya terpisah dari Keuskupan Peking.

Pada masa-masa ini, karya misi di Korea dilayani oleh Misionaris Paris Foreign Missions Society (MEP). Pastor Pierre Philiber Maubant MEP menjadi misionaris pertama yang masuk Korea. Di masa itu (1839-1846), penyiksaan demi penyiksaan dialami umat Katolik. Anti Katolik ini mereda pada pemerintahan Raja Cheoljong tahun 1849. Puncaknya, sekitar 11 ribu umat Katolik dibaptis tahun 1850.

Saat tawaran itu datang kepada Pastor Zhou, kelahiran 1752 di Su Tcheou, Provinsi Jiang-nan ini sempat berpikir panjang. Dalam refleksinya, misi di Korea sama halnya bunuh diri. Ia tahu, perjuangan para imam di sana lebih berat daripada membuka misi di Tiongkok. Ia sempat meragukan kemampuannya, apakah bisa menuntaskan misi ini. Beberapa kali, ia meminta pertimbangan Mgr Gouve. Ia beralasan, banyak imam lain yang lebih unggul dan lebih pantas diutus ke Korea.

Tetapi, Mgr Gouve tetap pada pendiriannya. Ia meyakini, Pastor Zhou memiliki kecakapan yang memadai untuk dapat diutus ke Korea. “Setiap imam yang sudah ditahbiskan memiliki kecapakan rohani. Soal retorika bisa diasah saat bertemu umat.”

Imam yang menghabiskan masa kecil sebagai yatim piatu ini tak bisa berkata apapun, kala Mgr Gouve mulai berbicara soal kaul ketaatan. Dengan meminta berkat Roh Kudus, Pastor Zhou menjalankan misi di Semenanjung Korea. Ia meninggalkan Beijing pada Februari 1794 dan dijemput secara diam-diam di perbatasan Tiongkok-Korea oleh utusan Gereja Katolik Beijing Sabas Ji-Hwang dan Yohanes Pak.

Ketika tiba di dekat Sungai Yalu, Pastor Zhou harus menunggu datangnya musim dingin agar bisa menyeberang. Sambil menanti, ia mengunjungi beberapa keluarga Katolik di wilayah Liao-dong dan melayani umat di situ selama beberapa bulan. Ia menjadi imam yang cepat sekali menyesuaikan diri. Umat pun bahagia berkat kedatangannya. Pada 24 Desember 1794, ia akhirnya menyeberangi sungai tersebut dengan menyamar sebagai orang Korea.

Syarat Pelayanan
Dua katekis awam tersebut mengantar imam lulusan pertama Seminari Tinggi Beijing ini ke rumah Matias Choe In-gil di wilayah Gyedong- (Sekarang Gyedong, Seoul). Sebagai pendatang, Pastor Zhou sangat cepat belajar bahasa Korea. Ia bahkan sudah bisa merayakan Misa perdana dalam bahasa Korea, setahun kemudian. Ia bisa mengunjungi umat usai Misa dan mengatakan dirinya adalah orang Korea.

Secara fisik, Pastor Zhou adalah orang Korea meski berbeda dalam dialek. Keunggulan fisik ini membuat ia beberapa kali lolos dari penggerebekan tentara Kerajaan. Dengan kehadirannya di Gyedong, Pastor Zhou mampu menerjemahkan peristiwa inkarnasi dalam kehidupan riil masyarakat Seoul. Lewat caranya, ia mampu menghadirkan wajah Kristus yang transenden menjadi imanen. Allah yang Sempurna, yang melampaui batas kemanusiaan, dihadirkan dalam kehidupan konkrit ke tengah umat. Caranya, ia menjalankan pastoral pembaptisan. Ia berjalan dari rumah ke rumah mengajak umat agar mau dibaptis. “Asalkan Anda mau dibaptis, nyawa saya akan kuberikan,” begitu komitmen Pastor Zhou.

Namun, belakangan Pastor Zhou diawasi. Suatu ketika saat sedang melayani di rumah seorang katekis awam, Kang Wan-Suk, tiba-tiba dirinya didatangi tentara Joseon. Dengan cerdik Paulus Yun-Yu-il, Sabas Ji, dan Matias Choe In-gil menghalangi para tentara dan membiarkan Pastor Zhou menyembunyikan diri.

Saat itu juga, ketiganya mati sebagai martir Kristus. Tentara kerajaan membunuh ketiganya karena iman mereka akan Kristus. Alhasil, Pastor Zhou dapat terbebas dari maut. Namun, ia sadar, bahwa sejak saat itu, nyawanya menjadi semakin terancam.

Pastor Zhou pun dari hari ke hari semakin dikejar. Meski begitu, ia tetap getol merayakan Misa secara sembunyi-sembunyi. Tak ada waktu baginya untuk istirahat dalam pelayanan. Setiap hari ia memberdayakan orang-orang awam untuk membantunya memberikan katekese. Ia mendirikan kelompok awam dan mendorong merak belajar tentang iman Kristen atau Myeongdohoe. Dia juga aktif menulis buku katekismus berbahasa Korea.

Umat Katolik yang dulu hanya empat ribu di Korea, setelah kehadirannya bertambah menjadi 10 ribu. Namun dengan begitu ia semakin dibenci. Nama Yakobus Zhou terus menjadi buah bibir Raja Jeongjo (Raja ke 22 Dinasti Joseon). Bahkan Pangeran Sunjo, pengganti Raja Jeongjo yang masih berusia belasan tahun sudah antipati kepada umat Kristen.

Sejak kematian sang ayah Jeongjo, Sunjo pun anti pati pada orang Kristen. Selain itu, ia juga berhadapan dengan Wangsa Yi (warga istana) yang terus mencari kesempatan untuk merebut kekuasaan.

Namun, di tengah kemelut itu, umat Kristen tetap dikejar dan dibunuh oleh pihak pemerintahan kerajaan. Gereja Katolik dianiaya dengan brutal dan tak berperi kemanusiaan. Penganiayaan yang kerap disebut Masa Sinyu, membuat orang Katolik ditangkap dan dibunuh. Beberapa terpaksa melepaskan iman, tetapi banyak juga yang setia pada iman dan mati sebagai martir.

Pastor Zhou merasa sedih atas kondisi ini. Ia merasa, dirinya sebagai dalang atas kematian umatnya. Ia mengirimkan surat kepada atasannya untuk kembali ke Tiongkok. Tetapi sebelum surat itu dibalas, Pastor Zhou mengambil keputusan berani. Tanggal 11 Maret 1801, Pastor Zhou keluar dari persembunyiannya.

Secara terang-terangan, Pastor Zhou mengakui sebagai misionaris. Ia lalu ditahan dan disiksa. Tentara kerajaan memaksanya murtad. Di akhir hidupnya, ia menyerahkan nyawanya di hadapan prajurit kerajaan. “Ajaran Yesus tidak jahat. Saya seorang imam, dan akan terus bersaksi sebagai imam. Saya siap mati meski Kristus belum menghadakinya,” ujarnya sebelum dipenggal kepalanya.

Kematiannya menyisakan kisah ajaib bagi umat Katolik Korea. Alkisah, langit yang cerah tiba-tiba mendung pada hari kematiannya. Badai hebat menerjang wilayah tempat eksekusi Pastor Zhou. Tak berhenti di situ, setelah badai mereda, sebuah pelangi muncul di langit.

Proses beatifikasi Pastor Zhou akhirnya disetujui Paus Fransiskus pada 15 Agustus 2014 bersama beberapa martir Korea lainnya. Bertepatan dengan gawai akbar Asian Youth Day 2014 di Korea, Paus Fransiskus sendiri memimpin beatifikasi Pastor Zhou di Daejeon, Korea. Teladan kesuciannya diperingati setiap 31 Mei bertepatan dengan peringatan para Martir Korea.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.06 2019, 10 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here