Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani : Lagu Cinta dari Bejana Rohani

390
Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM bersama Bruder Anggelo Ngalngola BSMP dan anak-anak Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani.
[NN/Dok.Pribadi]
Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani : Lagu Cinta dari Bejana Rohani
3 (60%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani adalah tempat anak-anak miskin dibantu membentuk pola pikir agar kehidupan mereka lebih baik.

Lagu-lagu rohani menggema dalam sebuah ruangan di Perumahan Mutiara, Jl Tole Iskandar, Blok CD 6, Depok 2, Jawa Barat. Tiga puluh anak dari usia empat hingga 16 tahun mengerumuni ruangan tersebut. Mereka mendaraskan pujian kepada Tuhan diiringi melodi lagu-lagu rohani. Saat memasuki ruangan itu, sebuah lagu berjudul “Dia Mengerti” dinyanyikan dengan indah.

Kepada setiap orang yang datang berkunjung, anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani (KBR) akan menyambutnya dengan nyanyian. Dengan lagu itu, mereka seakan berterima kasih atas setiap kunjungan. Begitulah, lagu akhirnya menjadi ungkapan kasih yang tulus. Saat lantunan nada itu keliar dari anak-anak, maka terdengar seperti suara kebahagiaan.

Tinggal di panti bukan berarti mereka terlupakan. Kehadiran mereka di sana sepenuhnya karena jalan Tuhan. Tuhan tidak meninggalkan mereka. Sebaliknya, Tuhan selalu ada di sana bersama mereka.

Tanpa Uang
Kelahiran PA Kencana Bejana Rohani bermula pada Februari tahun 2007. Saat itu, Bruder Angelo Ngalngola BSMP sempat datang dan tinggal sekitar enam bulan di Indonesia. Selama itu, biarawan dari Konggregasi Blessed Sacrament Missionaries of the Poor (BSMP) itu mengontrak sebuah rumah di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Pada saat itu, Bruder Angelo memulai beragam kegiatan pendidikan non-formal, seperti kursus Bahasa Inggris dan Matematika bagi sekitar 200 anak. Dalam bidang rohani, ia juga memberi pendampingan iman bagi anak-anak Katolik. Tak hanya itu, ia menginisiasi pelatihan kerajinan tangan bagi ibu-ibu pemulung. Saat itu, ia mengumpulkan ibu-ibu untuk belajar membuat tas dari bungkus jamu instan, bungkus mie, dan aneka bahan plastik bekas pakai.

Dengan kegiatan ini, Bruder Angelo berhasil membantu meringankan beban finansial ibu-ibu pemulung itu. Ia juga mengundang beberapa dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi ibu-ibu itu.

Sayang, karya ini tidak lama. Bruder Anggelo terpaksa kembali ke Filipina. Karya itu baru bisa dilanjutkan lagi pada Januari 2010 pada saat ia datang lagi ke Indonesia untuk kedua kalinya. Sejak itu, ia terus melanjutkan karya-karyanya dengan lebih intens. Pendampingan kepada anak-anak pemulung, pelayanan rohani di panti jompo Budi Mulia, Cilangkap, Jakarta Timur kembali ia jalankan. Ia juga rutin mendampingi dr Melan Sihotang ke Lapas Tangerang setiap hari Rabu.

Pada kedatangannya yang kedua ini, Bruder Angelo menyaksikan begitu banyak anak Indonesia yang kehilangan harapan. “Banyak anak terlantar tetapi hanya sedikit orang yang membuka hati menolong mereka,” ungkapnya.

Salah satu alasan karena tidak ada pemahaman yang baik soal pola asuh orang tua kepada anak. Ekonomi lemah tetapi memiliki banyak anak membuat mereka bingung menentukan masa depan anak-anak. “Untuk makan suami istri saja sudah susah, apalagi pendidikan dan kebutuhan lainnya. Mereka ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak,” ujar Bruder Angelo.

Namun, Tuhan rasanya belum mengizinkan ia menetap lebih lama di Indonesia dan melanjutkan karya ini. Empat bulan kemudian, pada Mei 2010, lagi-lagi Bruder Anggelo ditarik oleh kongregasinya untuk kembali ke Filipina. Selama di Filipina, karya yang ia rintis di Indonesia masih terus berjalan berkat adanya tim pelayanan yang ketika itu sudah terbentuk.

Berkat Kapitel
Ketika diadakan Kapitel Umum BSMP tahun 2015, Bruder Angelo mendesak agar kongregasinya memutuskan untuk membuka misi di Indonesia. Gayung besambut, kongregasi yang bermula dan berpusat di Filipina itu mengutus Bruder Anggelo ke Indonesia pada 9 Maret 2015. Ia pun berangkat ke Nusantara hanya dengan bekal sebuah pesan dari Superior General Bruder Anthony Bautista BSMP. “Kalau Misi di Indonesia adalah kehendak Allah, maka Allah akan merawatnya. Namun jika tidak, kamu dapat pulang lagi ke Filipina. Percaya saja pada Tuhan,” ungkap Bruder Anthony.

Tiba di Indonesia, Bruder Angelo tak punya bekal apa-apa selain tekad untuk melayani. Ia percaya, akan ada penyelenggaraan Tuhan di negara ini. Ia pun memilih tanah misi perdananya di Keuskupan Bogor. Saat itu, ia tinggal di Paroki St Andreas Ciluar yang saat itu dipimpin Pastor Chritophorus Lamen Sani.

Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM memberikan masa probasi untuk karya kongregasi ini pada 18 Mei 2015. Berkat konsistensi, kesetiaan, dan rahmat Tuhan, perlahan Kongregasi BSMP diterima kehadirannya di Keuskupan Bogor. “Kami diterima dengan status uji coba karya pelayanan selama tiga bulan dengan pertama-tama menolong anak-anak terlantar.”

Dari status uji coba ini berdirilah PA Kencana Bejana Rohani. Lahirnya panti ini terlebih karena ingin menjabarkan semangat hidup St Theresia dari Calcutta. Karya pelayanan kongregasi ini semakin meluas setelah Br Anthony datang dari Filipina dan bertemu langsung dengan Mgr Paskalis. Pertemuan ini membawa satu harapan, Uskup Bogor itu akan mengizinkan Kongregasi BSMP melanjutkan misi di Keuskupan Bogor. Mereka semakin bersemangat melayani anak-anak terlantar.

Br Angelo menegaskan, visi utama panti asuhan ini adalah “Menjadi berkat bagi orang lain dalam semangat kasih dan persaudaraan”. Rasa empati terhadap anak-anak yang terlantar membuat Br Angelo terpanggil untuk ambil bagian dalam penderitaan anak-anak. Menatap wajah mereka yang kebingungan karena tidak adanya tempat untuk berteduh, membuat dirinya trenyuh dan sedih. “Maka dengan segala kekurangan dan keterbatasan, para Bruder BSMP, mencoba mewujudkan tindakan-tindakan sederhana dalam membantu anak-anak,” ungkapnya.

Begitulah, bermula dari anak-anak pemulung, tukang becak, dan pengemis, lahirlah PA Kencana Bejana Rohani. Nama “Kencana Bejana Rohani” dimaksudkan agar tempat ini menjadi tempat melepas lelah, juga dapat menjadi wadah dalam pembentukan rohani anak-anak. Setidaknya, setiap orang yang datang mengetuk pintu bejana, menemukan keluarga yang sesungguhnya. “Di sini, kami menjadi satu keluarga bukan karena nasib buruk tetapi karena cinta Tuhan,” ujar Bruder Angelo.

Saat ini, sedikitnya 70 orang laki-laki dengan latarbelakang kehidupan yang ditampung di PA Kencana Bejana Rohani. Bruder Anggelo dibantu beberapa calon bruder dari Indonesia untuk membantu perkembangan dan pemenuhan kebutuhan anak-anak. “Kami menyekolahkan mereka dan biaya semuanya kami yang tanggung. Kebanyakan mereka bersekolah di Sekolah St Theresia Depok,” pungkas Bruder Anggelo.

Ema Watu, seorang karyawan PA Kencana Bejana Rohani mengatakan, anak-anak ini datang dari berbagai daerah seperti Sumatera Utara, Papua, Jawa, Maluku, dan Sulawesi Utara. Tempat ini menjadi semi seminari dengan jadwal harian yang cukup ketat. Setiap pagi mereka berdoa pagi, kemudian bersiap ke sekolah. Pulang sekolah mereka makan siang kemudian cuci piring sesuai jadwal yang ditentukkan. Setelah itu pada sore hari Pukul 15.00, mereka diwajibkan mengikuti Doa Koronka. Sementara malam hari ada doa dan meditasi tak lupa mengerjakan tugas-tugas sekolah mereka.

Soal prestasi di sekolah, Ema tidak menampik bahwa anak-anaknya dapat bersaing dengan baik dengan anak-anak yang lain. Di tempat ini juga anak-anak diberdayakan dengan ragam kreatifitas seperti membuat rosario. Selain itu, anak-anak juga dilatih memimpin doa dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan gerejawi di paroki-paroki wilayah Depok.

Bruder Angelo menegaskan, menjadi kepala panti tidak saja bertanggungjawab merawat anak-anak dengan memberikan makanan yang bergizi. Ia ingin mengubah pola pikir anak-anak tentang hidup. Ia ingin, bila orangtua hanya pemulung, anak harus menjadi seorang yang status sosialnya lebih beik. Untuk itu, di PA Kencana Bejana Rohani anak-anak dididik supaya taat disipilin, dan bertanggungjawab. “Kami ingin mengubah pola pikir agar mereka menjadi orang yang berguna sekaligus memperoleh nilai-nilai kehidupan,” demikian Bruder Anggelo.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.06 2019, 10 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here