Humanae Vitae : Revolusi Mental

52
Humanae Vitae : Revolusi Mental
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Kehadiran Ensiklik Humanae Vitae tahun 1968 dari Paus Paulus VI menjadi suatu bom waktu yang meledak bagi masyarakat zaman itu, yang sedang hangat-hangatnya hidup dalam pemahaman baru tentang seksualitas (Revolusi Seks). Ini tidak saja umat beriman, tetapi termasuk para uskup dan imam yang menerima kontrasepsi sebagai metode KB. Perdebatan pun tidak terelakkan, bahkan para uskup dan imam mengritik “Sang Nabi Kontemporer” itu. Paulus VI dianggap tidak paham akan kehidupan sosial baru, lebih-lebih di Amerika Serikat. Namun, Paus tidak gentar akan hal itu walaupun dia tahu di Gereja penuh dengan polemik, tetapi keyakinan bahwa kontrasepsi itu tidak benar membuat dia mempercayakan dirinya kepada Kristus sendiri.

Humanae Vitae sungguh merupakan “Revolusi Mental” di mana orang disadarkan bahwa kontrasepsi yang telah mendarah daging perlu dilihat lagi apa yang buruk dibalik itu. Satu hal yang pasti keburukan kontrasepsi bagi kehidupan keluarga ialah seks hanya menjadi suatu alat atau tujuan, bukan kasih sejati menjadi dasar dalam kehidupan perkawinan. Kenyataan ini menjadi suatu hal yang memprihatinkan dalam kehidupan dunia kontemporer di mana orang lebih memiliki seks bebas tanpa kasih atau suami istri memilih untuk kontrasepsi untuk menolak buah kasih mereka.

Paulus VI mengatakan, “Trasmisi hidup manusia merupakan peran yang sangat penting di mana mereka yang menikah berkolaborasi secara bebas dan bertanggung jawab kepada Allah, Sang Pencipta”. Perkataan ini hendak menegaskan makna perkawinan sendiri di mana suami-istri diundang untuk turut serta dalam karya yang dilakukan oleh Allah. Inilah yang dewasa ini sungguh-sungguh dilupakan banyak orang di mana perkawinan bukan partisipasi aktif dengan Allah melainkan sekadar kehendak suami-istri belaka. Secara jelas, Paus menyatakan manusia tidak memiliki kebebasan mutlak pada dirinya karena manusia pada kodratya berasal dari Allah sehingga kembali kepada Allah, sebagaimana Yohanes XIII menyatakan “Hidup manusia itu kudus-semua orang harus mengetahui kenyataan ini” (1961).

Memang, ensiklik ini telah 50 tahun berlalu, tetapi jiwa ensiklik ini terus menerus mengembara di dunia untuk mewujudkan “revolusi mental” terutama bagi anak-anak muda zaman ini yang dipenuhi “mentalitas kontemporer” di mana seks, cinta, dan perkawinan itu tidak menyatu satu sama lain. Harus diakui tidak semua orang juga berpikiran demikian. Namun, “mentalitas kontrasepsi” telah mengakar di masyarakat di mana KB melalui alat kontrasepsi itu suatu hal yang wajar dan dibenarkan. Maka, tepatlah ensiklik memberikan penegasan, “Alasan utama dari perkawinan ialah kesatuan suami-istri yang intim setidaknya juga mendorong mereka memiliki keturunan karena ini merupakan hukum yang telah tertulis dalam kodrat manusia sebagai pria dan wanita” (HV 12).

Alhasil, Humanae Vitae kini tetap merupakan suatu vox propethae (suara nabi) yang bergaung bagi keluarga kontemporer untuk menyerukan “revolusi mental” untuk kembali pada familia autentica (keluarga sejati) yang dikehendaki Allah sejak semula. Selain itu, keluarga Kristiani perlu menyadari bahwa keluarga itu memiliki relasi dengan Kristus sendiri yang telah menyelamatkan dan memberikan kehidupan keluarga lebih baik ada dan bersama Kristus. Hal ini sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus: “Yesus yang mendamaikan segala sesuatu dalam dirinya dan menebus kita dari dosa, buka hanya membawa kembali perkawinan dan keluarga pada bentuk aslinya, tetapi juga mengangkat perkawinan pada tanda sakramental kasih-Nya bagi Gereja (Bdk. Mat 19:1-12; Mrk 10:1-12; Ef 5:21-32)” (Amoris Laetitia, 71).

RD Yohanes Benny Suwito

HIDUP NO.06 2019, 10 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here