Lepaskan “Baju Bos” dan Jadi Pelayan

454
Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (kanan) melantik pengurus terpilih PUKAT Nasional di Hotel Hilton, Bandung,22/2.
[HIDUP/Hasiholan Siagian]
Lepaskan “Baju Bos” dan Jadi Pelayan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – PUKAT harus menjadi jaring kepedulian sosial yang penuh belaskasih, menjadi berkat bagi keluarga, Gereja, bangsa, dan dunia.

Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC meminta pengurus nasional Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) agar terus berkarya dengan penuh kasih bagi keluarga, Gereja, bangsa, dan dunia.

Pesan tegas ini disampaikan Mgr Subianto sebelum melantik pengurus nasional PUKAT di Bandung, Jumat, 22/2. Pengurus baru terpilih melalui musyawarah di akhir acara Konvensi Nasional (Konvenas) ke-3. Robert Hadi terpilih sebagai Ketua PUKAT Nasional masa bakti 2019-2022 menggantikan Ferry Susanto.

Mgr Antonius, mengatakan, salah satu keprihatinan dunia saat ini adalah berkembangnya ketidakpedulian terhadap orang lain. “Ketidakpedulian ini menjadi cikal-bakal pikiran dan perbuatan tidak adil. Seorang tega berbuat tidak adil karena tidak peduli kehidupan dan kesejahteraan sesamanya. Tak heran ada gap sosial yang tinggi,” hardik uskup Bandung di hadapan para profesional dan usahawan tersebut.

Unsur Katolik
Bagi Mgr Antonius, PUKAT dipanggil menjadi garam dan terang dunia yang berkomitmen sebagai komunitas profesional dan usahawan yang mewujudkan nilai-nilai Kerjaaan Allah. “Bertindak adil dan benar serta murah hati dan berbelaskasih,” timpalnya.

Konvenas ini diikuti 11 delegasi PUKAT tingkat keuskupan di Indonesia. Kendati dalam laporannya, Ferry Susanto menyampaikan PUKAT telah berdiri di 22 dari 34 keuskupan. “Tidak mudah mendirikan PUKAT di keuskupan. Perlu perjuangan. Setelah berdiri, perlu merawat dan melakukan kaderisasi. Tiap PUKAT keuskupan bersifat independen. Ketua PUKAT Nasional tidak punya kekuasaan apa-apa,” ujar Ferry.

Maka, menyikapi hal ini, model kepengurusan baru PUKAT Nasional diperharui menjadi model presidium sepertiKWI. Ketua PUKAT keuskupan akan menjadi anggota presidium PUKAT Nasional.

Hal lain yang mengemuka dalam Konvenas ini adalah masalah pemahaman visi, misi, dan spiritualias PUKAT. “Tidak mudah mengumpulkan para pengusaha karena mereka adalah bos pada bisnis mereka masing-masing. Masalahnya, ketika mereka datang ke PUKAT, mereka harus melepaspan baju bosnya dan menjadi pelayan, membawa teman-temannya makin dekat dengan Allah,” ujar Michael Utama, salah satu pendiri PUKAT di Surabaya tahun 1988, yang juga hadir sebagai tim pengarah Konvenas ini.

Robert Hadi, yang tak menyangka akan terpilih menjadi Ketua PUKAT Nasional, mengatakan, PUKAT bukan sekadar komunitas profesional dan usahawan. “Ada KAT-nya, yang berarti ada kata Katolik di belakangnya. Ada unsur rohani yang bernama Katolik. Dengan demikian harus ada keseimbangan antara dunia nyata (bisnis) dan dunia rohani yakni mengarah kepada Kerajaan Allah,” imbuhnya.

Susunan kepegurusan baru PUKAT Nasional dan program kerja nasional memang belum terbentuk. Diharapkan, kedua hal ini akan segera tersusun. Robert Hadi berjanji akan segera mengadakan rapat bersama anggota formatur yang lain. Konvenas ke-4 akan digelar di Makassar tahun 2022.

Hasiholan Siagian (Bandung)

HIDUP NO.10 2019, 10 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here