Tokoh Lintas Agama Semarang Berbela Rasa Untuk Korban Terorisme di Selandia Baru

292
[Dok.Eduardus Didik Chahyono,SJ]
Tokoh Lintas Agama Semarang Berbela Rasa Untuk Korban Terorisme di Selandia Baru
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPeristiwa teror Jumat kelabu 15 Maret 2019 di Christchurch Selandia Baru telah melukai rasa kemanusiaan.

Tergerak oleh solidaritas kepada para korban dan keluarga, tokoh dan aktivis lintas agama di Kota Semarang mengadakan doa bersama di Gereja Katedral Semarang pada Minggu (17/3/2019). Pastor Herman Yosef Singgih Sutoro Pr selaku Pastor Kepala Paroki menyambut para peserta doa bersama dan menghaturkan rasa dukacita atas tragedi teror di Selandia Baru.

“Serangan terorisme terhadap umat muslim yang sedang menjalankan ibadah di dua masjid di Selandia Baru sangat keterlaluan. Kami mengecam perbuatan pelaku dan meminta aparat penegak hukum di Selandia Baru menindak pelaku sesuai hukum yang berlaku. Kami turut berempati terhadap para korban dan keluarganya semoga mereka diberikan ketabahan dalam melalui cobaan ini”, ujar Koordinator Persaudaraan Lintas Agama, Setyawan Budy.

Baca juga: https://www.hidupkatolik.com/2019/03/15/33801/ini-pernyataan-sikap-pgi-dan-kwi-terkait-penembakan-di-selandia-baru/

Pada kesempatan ini, Pastor Aloy Budi, Sulis dan Nuning Palupi dari Bengkel Sastra Taman Maluku berbagi refleksi dengan membaca puisi untuk mengungkapkan keprihatinan dan belarasa. Tampil juga para tokoh agama yang menghaturkan doa: I Komang Dipta (Hindu), Pastor Wahyudi Agus (Budha), Siti Rofiah (Islam), Pastor Djoko Purwanto Pr (Katholik), Pdt.Sedyoko (Kristen), Js.Andi Tjiok (Konghucu), dan Arifin (Penghayat kepercayaan Sapta Darma).

Dalam doa bersama, pemuka agama Budha, Pastor Wahyudi Agus memohon,”Kami berharap kejahatan teror kemanusiaan di Selandia Baru tidak merebak di berbagai tempat.”

Sementara Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Eduardus Didik SJ, mengungkapkan, “Kami turut berduka dan sedih atas tragedi teror di Selandia Baru. Peristiwa ini menyadarkan virus kebencian antar manusia masih bercokol. Dengan doa bersama ini, kita ingin menunjukkan bahwa kita masih perlu berjuang dan bergandengan tangan menanamkan cinta akan sesama untuk mewujudkan peradaban kasih.”

 

Laporan: Pastor Eduardus Didik Chahyono, SJ (Imam di Paroki Bongsari)
Editor: Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here