Enam Tahun Pasca Paus Emeritus Benediktus XVI dan Relevansi Magisterium Gereja

348
Paus Emeritus, Benedictus XVI. [Dok.Media Vatikan]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPaus Benediktus XVI mengumumkan pengunduran dirinya pada 11 Februari 2013. Direktur Editorial Vaticannews mengingat kembali peristiwa ini dan menyarankan bahwa akan salah untuk mengingat Paus Emeritus sekadar untuk alasan ini.

Enam tahun telah berlalu sejak peristiwa yang tidak terduga itu, yakni semenjak Paus kelahiran Marktl, Bayern, Jerman pada 16 April 1927 (umur 91) itu merupakan paus pertama yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan dan usia lanjut.

Setelah delapan tahun menjabat sebagai Paus, Benediktus XVI mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri dari Petrine Ministry (Ministry of Unity for the Universal Church/ Persatuan Gereja Universal) pada akhir Februari, karena ia tidak lagi merasa mampu, secara fisik dan spiritual untuk memikul beban pelayanan itu.

Cukup banyak kondisi yang telah berubah selama abad terakhir dalam tata cara yang telah dilakukan seperti dalam hal perayaan, komitmen, dan perjalanan internasional.

Kesaksian Benediktus XVI
Telah banyak dikisahkan dan ditulis sebelumnya, berita tentang pengunduran diri paus itu. Hasilnya adalah bahwa kita hanya memusatkan perhatian secara eksklusif pada gerakan itu sendiri, teralihkan dari kesaksian pribadi dan, terutama mengenai Magisterium Paus Benediktus XVI.

Magisterium Gereja (menurut Katekismus Gereja Katolik) adalah kesatuan antara Sri Paus dan para uskup dalam kebersamaan dengan-Nya. Dalam beberapa hari mendatang, akan diadakan pertemuan untuk Perlindungan Kaum Minoritas di Vatikan, dengan partisipasi dari Konferensi Para Waligereja (Presidents of Bishops’ Conferences) dari seluruh dunia bersama dengan Paus Fransiskus.

Berkaitan dengan kesaksian Paus Benediktus, perlu diingat bahwa dialah yang menginisiasi pertemuan dengan para korban pelecehan. Perjumpaan yang selalu terjadi itu jauh dari sorotan kamera, dan hal itu termasuk mendengarkan, mendoakan, dan air mata.

Mengikuti berbagai pertemuan tersebut menjadi semakin jelas, disertai dengan aturan yang lebih tegas untuk memerangi wabah yang mengerikan akibat dari pelecehan. Saat ini, tidak ada keraguan bahwa perubahan mental yang diperlukan, pertama-tama ialah bagi para uskup dan para pemimpin agama, agar dapat melewati kemampuan ini, yakni bertemu dengan para korban (pelecehan) dan keluarga mereka.

Hal tersebut membutuhkan partisipasi di tengah kepedihan kisah-kisah dramatis mereka, menyadari bahwa fenomena ini tidak pernah bisa diperangi dengan sekadar norma, kitab undang-undang, atau praktik terbaik tersendiri.

Magisterium Benediktus XVI
Magisterium Paus Benediktus XVI terlalu sering diremehkan oleh pemahaman yang sederhana dan berbagai klise yang dibuat-buat, tidak mampu memahami kekayaan, kompleksitas, dan kesetiaan terhadap ajaran-ajaran Konsili Vatikan II.

Bagaimana kita bisa lupa untuk mengingat desakannya bahwa Gereja “tidak memiliki apa pun dari dirinya sendiri untuk ditawarkan kepada-Nya yang telah mendirikannya, sehingga dia dapat berkata: inilah sesuatu yang luar biasa yang kita lakukan! Alasannya adalah dengan menjadi alat penebusan, membiarkan dirinya dipenuhi oleh firman Allah dan membawa dunia ke dalam kesatuan yang penuh kasih dengan Allah.”

Dalam pidatonya di Concert Hall di Freiburg im Breisgau (Baden-Württemberg, ujung Barat Daya Jerman) pada September 2011, Paus Benediktus XVI terus menggambarkan visinya tentang Gereja; “Ketika dia benar-benar sendiri, dia selalu bergerak; dia terus-menerus harus menempatkan dirinya di dalam pelayanan misi yang telah dia terima dari Tuhan.

Dan karena itu Gereja, sekali lagi, harus selalu membuka diri lagi terhadap kepedulian dunia, yang menjadi miliknya, dan menyerahkan dirinya kepada mereka, untuk hadir dan melanjutkan pertukaran yang suci yang dimulai dengan Inkarnasi.”

Dalam pidato yang sama, Paus Benediktus XVI memperingatkan kecenderungan yang berlawanan yakni sebuah Gereja yang “menjadi puas diri, menetap di dunia ini… Tidak jarang ia memberi bobot lebih besar pada organisasi dan kelembagaan daripada panggilannya untuk keterbukaan terhadap Tuhan, panggilannya untuk membuka dunia terhadap arah yang lain”.

Dalam pidato itu, Paus Emeritus menunjukkan sisi positif dari sekularisasi, yang telah “memberikan kontribusi signifikan terhadap pemurnian dan reformasi batin” Gereja, dengan mengambil alih harta miliknya dan menghilangkan hak-hak istimewanya.

Karena itu ia menyimpulkan, “ketika gereja terbebas dari beban dan kenyamanan yang bersifat materi dan politis, maka ia akan lebih efektif menjangkau dunia secara kristiani. Gereja juga akan benar-benar terbuka terhadap dunia. Gereja akan lebih bebas memenuhi panggilannya untuk pelayanan ibadat ilahi maupun pelayanan umat.”

Sumber: Andrea Tornielli/vaticannews.va

Galeri foto Benediktus XVI
Tanggal 19 Maret, yang diperingati sebagai peringatan Santo Yosef (Selasa, 19/3/2019). Nama yang sama diadopsi oleh Paus Emeritus Benediktus XVI sebagai nama baptisnya. Kardinal Joseph Ratzinger memilih nama Benediktus (Benedictus) pada pemilihannya sebagai Paus pada 19 April 2005.

Berikut ini beberapa kumpulan foto dari Paus Emeritus Benediktus XVI, dilansir dari situs vaticannews.va.

Penerjemah: Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here