Adat dan Pastoral Perkawinan di Papua

237
Pastor Norbertus Broery Renyaan OFM mengesahkan Sakramen Pernikahan empat pasutri.
[Wandi Raya OFM]
Adat dan Pastoral Perkawinan di Papua
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Berpastoral di Papua kerapkali berhadapan dengan masalah perkawinan. Adat-istiadat masih menjadi tantangan utama.

Lirik lagu cinta kasih Allah dicurahkan dalam hati kita, mengiringi langkah empat calon pasutri menuju altar Tuhan untuk merayakan Sakramen Perkawinan.

Empat calon pasutri ini berasal dari Paroki Kristus Terang Dunia Yiwika, Dekanat Pegunungan Tengah, Keuskupan Jayapura. Mereka merayakan Sakramen Perkawinan setelah sekian lama tinggal bersama bahkan sudah memiliki anak. “Mereka hidup dengan perasaan bersalah dan dengan Sakramen Perkawinan ini, mereka ingin membangun lagi hidup rumah tangga yang sah di hadapan Tuhan dan sesama,” ujar Pastor Norbertus Broery Renyaan OFM, Kamis, 21/02.

Merefleksikan Injil Mat 19: 4-6, Pastor Broery, mengajak empat pasutri ini untuk belajar setia kepada pasangan. Spiritualitas mengasihi pasangan hendaknya menjadi kekuatan dalam menghadapi setiap masalah. Belajar menjadi satu, bukan lagi dua, adalah tanda memperbaiki setiap kesalahan-kesalahan dalam rumah tangga. “Arti mereka bukan lagi dua adalah tanda persatuan bahwa mereka mau memperbaiki kehidupan dalam rumah tangga yang lebih baik,” ujar Pastor Broery.

Sebagai Kepala Paroki Kristus Terang Dunia, Pastor Broery menceritakan pengalaman perkawinan di parokinya. Menurutnya selama empat tahun berkarya di paroki ini, perayaan Sakramen Perkawinan merupakan yang kedua kalinya. Pertama kali juga dirayakan dengan kasus yang sama.

Empat pasangan yang saling menerimakan Sakramen Perkawinan ini adalah pasutri yang juga terpilih sebagai Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kristus Terang Dunia Yiwika. Oleh karena itu, empat pasutri ini diharapkan supaya menjadi model dan contoh bagi keluarga-keluarga yang belum menikah secara Gereja Katolik. “Kami memberi tugas kepada mereka agar mereka menjadi garam dan terang dunia bagi keluarga-keluarga yang lainnya,” jelas Pastor Broery.

Keempat pasutri yang sudah lama tinggal bersama ini merasa bersyukur, karena selain sudah menerima sejumlah materi selama pembinaan, mereka juga kini telah sah menjadi keluarga Katolik. Mereka berharap bahwa keluarga-keluarga lain yang belum menikah Gereja segera membereskannya.

Di Dekanat Pegunungan Tengah, umumnya pengesahan Sakramen Perkawinan kepada mereka, baik itu untuk pasangan muda maupun yang sudah berkeluarga tetapi belum nikah Gereja, masih amat sulit. Hal ini menyebabkan banyak keluarga Katolik yang hidup bersama tanpa adanya ikatan perkawinan secara Gereja. Akibatnya banyak pula yang tidak dapat merayakan Sakramen Ekaristi karena terhalang dengan pernikahan. Anak-anak mereka pun menjadi sulit dalam menerima sakramen-sakramen Gereja.

Pastor Broery berharap, persoalan-persoalan pastoral semacam ini harus segera diselesaikan para pelayan pastoral. Di Papua mungkin perilaku umat yang masih kuat memegang adat istiadat, tetapi juga karena tingkat pengetahuan umat atas sejumlah sakramen-sakramen Gereja masih amat minim sehingga perkawinan selalu bermasalah.

Sementara itu, Pastor Steven Belyanan MSC yang sedang berkarya di Keuskupan Agung Merauke tak menampik pastoral perkawinan menjadi penting di Papua. Hal ini, menurut Pastor Steven karena kurangnya tenaga pastoral sehingga banyak umat yang tidak terlayani. Konsekuensinya kurangnya pemahaman umat akan sakramen-sakramen serta pendidikan iman. “Banyak umat yang berpikir perkawinan itu sudah sah kalau dilakukan secara adat. Perkawinan di Gereja itu bukan yang utama. Di sini pastoral selalu berhadapan dengan tradisi dan adat-istiadat,” jelas Pastor Steven.

Wandi Raya OFM (Jayapura)

HIDUP NO.11 2019, 17 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here