Mengenal Sejarah Hidup St Camilus de Lellis, Pelindung Orang Sakit

1198
St. Camillus de Lellis, pelindung orang sakit, diperingati setiap tanggal 14 Juli. [dok.churchmilitant.com]
Mengenal Sejarah Hidup St Camilus de Lellis, Pelindung Orang Sakit
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Santo Camilus dilahirkan di Bocchiavico, Khieti, Abruzzi, Italia pada 25 Mei 1550 dan wafat pada 14 Juli 1614 di Genoa, Italia.  Ia dinyatakan sebagai beato pada tahun tahun 7 April 1742 dan diberi gelar santo oleh Paus Benediktus XIV, 29 Juni 1746.

Ia adalah anak tunggal dari Yohanes de Lellis, seorang perwira tentara, dan Kamila, seorang ibu rumah tangga yang saleh dan tekun berdoa. Kamilus lahir ketika sang Ibu, Kamila, berusia 60 tahun, berkat doanya yang tiada henti untuk memperoleh keturunan.

Perjalanan hidup Santo Camilus diawali dengan karyanya sebagai seorang tentara. Tuhan menuntun perjalanan hidup selanjutnya, Santo Camilus bekerja di rumah sakit. Ia memperoleh tugas menjadi perawat orang sakit yang sudah sulit untuk disembuhkan.

Ia akhirnya terpanggil menjadi imam dan mendirikan sebuah tarekat religius baru yang disebut Tarekat Hamba Orang-orang Sakit (Kamilian).

Mimpi Barisan Pemuda Bersalib
Selama Kamilus masih dalam kandungan ibunya, Ibunya pernah bermimpi, melihat segerombolan orang muda, berjalan berbaris, dan yang paling depan adalah yang paling besar dan tinggi diantara mereka.

Di dada mereka masing-masing terpampang SALIB. Sambil memandang mereka, dia mendengar sebuah suara yang berkata, “yang paling depan itu adalah anakmu.”

Baca juga: https://www.hidupkatolik.com/2019/04/02/34619/relikui-santo-camilus-pelindung-orang-sakit-tiba-di-indonesia/

Mimpi itu selalu menghantui Kamila dan menimbulkan ketakutan pada dirinya. Dia selalu berpikir bahwa mungkin anaknya kelak menjadi penjahat, dan salib itu adalah suatu tanda hukuman yang diberikan kepadanya karena kejahatannya itu.

Kamilus yang Nakal
Kelahiran Kamilus menjadi buah bibir orang-orang di kampungnya. Mereka menjuluki Kamila sebagai Elizabeth masa kini, karena melahirkan anak di usia yang tua. Mereka pun bertanya-tanya, “menjadi apakah anak ini kelak?”

Saat mau diberi nama, semua keluarga dan tetangga sepakat supaya diberi nama “Kamilus”, karena ia adalah buah doa yang tiada henti dari mamanya, Kamila. De Lellis diambil dari nama faham ayahnya, Yohanes de Lellis.

Kamilus kemudian bertumbuh menjadi anak yg besar, tinggi, lebih dari anak-anak seusianya. Namun Kamilus juga mengembangkan kepribadian yang jelek, yaitu keras kepala, suka bercekcok dengan teman-temannya, dan suka berjudi.

Mengetahui hal itu, Kamila menjadi sedih. Dia berpikir bahwa apa yg dia mimpikan dan takuti sejak kehamilan, menjadi kenyatan. Karena itu Kamila selalu mengingatkan Kamilus akan mimpi itu, dan berpesan agar dia berubah.

Namun demikian, selain kepribadian yang keras dan nakal itu, Kamilus memiliki hati yg penuh kasih terhadap setiap pengemis yang datang ke rumahnya.

Kamila meninggal ketika Kamilus berusia 13 tahun. Dia pergi dengan membawa kesan bahwa anaknya menjadi seorang penjahat. Karena ayahnya selalu pergi ke medan perang, kemudian Kamilus dipercayakan kepada kerabatnya.

Kehidupan sebagai Tentara dan Luka yang Tak Tersembuhkan
Ketika berusia 17 tahun, Kamilus mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara. Dia bergabung dengan sang ayah yang menjadi tentara Kerajaan Napoli dan juga Venezia. Hasil upah dari perangnya selalu dihabiskan dengan berjudi.

Selain itu, karena keseringan bepergian, tumit kaki kanannya menjadi luka. Dan luka itu tak tersembuhkan sampai akhir hayatnya. Maka sewaktu menjadi tentara, dia dirawat pertama kalinya di Rumah Sakit St Yakobus, Roma, tempat pasien dengan penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan dirawat. Setelah membaik, Kamilus kembali ke medan perang.

Ayahnya meninggal ketika Kamilus berusia sekitar 23 tahun, dan dia kehilangan figur yang sebelumnya dapat menuntun dia. Maka karena kebiasan judinya yang masih kuat, Kamilus sampai jatuh miskin karena kalah judi, lalu melarat dan menjadi seorang pengemis di pintu gereja Manfredonia.

Sambil mengemis, dia melihat pembangunan sebuah gereja. Kemudian tergeraklah hatinya untuk melamar sebagai tukang bangunan. Ternyata itu adalah pembangunan gereja para imam Kapusin (Capuchin).

Karena keuletannya bekerja, para Romo Capuchin mengangkat Kamilus menjadi courrier biara, untuk mengantar surat, roti, hosti, anggur, dan lain-lain, dari biara ke biara Capuchin. Selama bekerja, melihat para pastor yang berjubah setiap hari, lama-kelamaan Kamilus menjadi tertarik untuk menjadi seorang imam Capuchin.

Pertobatan: “Cukup Sudah Dunia Ini…”
Tanggal 2 Februari 1575, dalam sebuah perjalanan mengantar barang-barang biara, di sebuah tempat yang gersang, Kamilus jatuh tersungkur dari keledainya.

Dan dalam ketidak-sadaran, dia mendengar suara yang menusuk hatinya. “Kamilus, cukup sudah dunia ini…” Suara itu begitu menusuk, dan membuat Kamilus sadar bahwa itu adalah hari terakhir dia memikirkan hal duniawi.

Kemudian ketika kembali ke biara, dia membulatkan tekatnya untuk bertobat dan meninggalkan masa lalunya, lalu memutuskan untuk menjadi Pastor Capuchin.

Capuchin dan Luka di kaki
Kamilus kemudian melamar menjadi Capuchin dan diterima. Dia sempat masuk Novisiat. Dia merasa bahwa Tuhan memanggilnya ke sana. Namun, karena sering disentuh jumbai jubahnya, luka di tumit kakinya kambuh lagi. Maka terpaksa dia dirawat lagi di Roma, di RS St. Yakobus. Ketika pulih, dia pun kembali ke biara Capuchin sebagai Novis.

Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Lukanya kian kambuh kembali akibat sering disentuh jumbai jubah. Maka, karena alasan kesehatan, Kamilus dikeluarkan dari Biara Capuchin. Kamilus seolah tak punya pilihan lain, selain kembali ke rumah sakit st. Yakobus, tempat dimana kakinya dirawat.

Rumah Sakit St. Yakobus dan Benih Panggilan Melayani Orang Sakit
Berbeda dengan kondisi ketika masih tentara, atau sebagai Novis Capuchin, kali ini Kamilus dirawat sebagai pasien yang tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa. Maka sambil merawat dirinya, dia melamar menjadi pekerja di rumah sakit itu.

Di Rumah sakit San Giacomo, Roma, dedikasinya dihargai dengan menjadi pengawas. Kamilus mengabdikan sisa hidupnya untuk merawat orang sakit. Bersama dengan Santo Yohanes Allah, dia disebut sebagai pelindung rumah sakit, perawat, dan orang sakit.

Dengan saran dari temannya St Philip Neri, dia belajar untuk menjadi imam dan ditahbiskan pada usia 34 tahun. Bertolak belakang dengan nasihat temannya, Kamilus meninggalkan San Giacomo dan mendirikan sebuah jemaat sendiri. Sebagai atasan, ia mencurahkan banyak waktunya untuk merawat orang sakit.

Amal adalah perhatian pertamanya, tetapi aspek fisik rumah sakit juga menjadi perhatiannya. Camillus bersikeras memperhatikan akan kebersihan dan kompetensi teknis dari mereka yang melayani orang-orang sakit.

Para anggota komunitasnya mengikat diri untuk melayani para tahanan dan orang-orang yang terinfeksi oleh wabah serta mereka yang sekarat di rumah-rumah pribadi. Kamilus  sendiri menderita penyakit pada kakinya selama hidupnya.

Dalam kondisi sakit menjelang ajal, Kamilus meninggalkan tempat tidurnya sendiri untuk melihat apakah pasien lain di rumah sakit membutuhkan bantuan.

 

Sumber: Pastor Cyrelus Suparman Andi, MI (Rektor Seminari Santo Kamilus, Maumere); franciscanmedia.org
Editor: Antonius Bilandoro