Tongkat Uskup

211
Tongkat Uskup
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Saya sangat tertarik dengan tongkat uskup namun saya belum memahami lebih dalam tentang tongkat uskup ini. Saat mana tongkat uskup digunakan dan saat mana tidak digunakan?

Bernardus, Yogyakarta

Tongkat Uskup (latin: baculus pastoralis, tongkat gembala) adalah salah satu dari pontifikalia, atau insignia yaitu tanda-tanda jabatan seorang uskup. Pontifikalia dari kata pontiff, yang menunjuk bukan hanya pada Paus, tetapi juga pada uskup yang menjabat sebagai gembala suatu keuskupan. Sebagai tongkat kegembalaan, tongkat uskup mengingatkan pada kekuasaannya sebagai pemimpin umat dan kedua sebagai seorang gembala yang mengasihi, membela, mengajar dan membimbing umatnya. Ini mengingatkan kita akan sabda Yesus sendiri yang menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10). Juga akan sabda Yesus kepada Petrus sesudah kebangkitan: “Gembalakanlah domba-dombaku” (Yoh. 21).

Bentuknya menyerupai tongkat yang dipakai gembala: tingginya sama atau lebih tinggi dari ukuran tinggi seorang manusia, di bawahnya sedikit runcing dan diatasnya melengkung. Ada yang dihias di bagian atasnya, ada pula yang sederhana saja menyerupai lengkungan tongkat gembala biasa. Tongkat uskup berbeda dari tongkat Paus, yang ujungnya berbentuk salib.

Tradisi ini sudah cukup tua di dalam sejarah Gereja. Isidorus dari Sevilla, seorang uskup yang termahsyur († 636) telah menyinggungnya dalam tulisannya, De ecclesiasticis officiis (Migne, P.L. 83, 785) dan juga dalam Sinode Toledo (tahun 633). Dari sana diperoleh informasi, bahwa penganugerahan tongkat termasuk dalam ritus tahbisan seorang uskup. Tradisi ini dipertahankan sampai sekarang: yaitu diserahkan oleh Uskup pentahbis pada saat pentahbisan, sebagai tanda dimulainya tugas dan kepemimpinannya di keuskupan.

Tongkat uskup itu dipakai oleh uskup di dalam Keuskupannya sendiri, dalam semua liturgi meriah yang terkait erat dengan jabatannya tersebut, kecuali pada Jumat Agung dan Misa Requiem, sebagaimana diatur dalam Pontificale Romanum. Di antara aneka liturgi uskup kita mengenal misalnya Misa Pontifical, yaitu misa yang dirayakan uskup di katedralnya. Ada juga Vesper dan Laudes mulia, penahbisan imam atau diakon, upacara penahbisan gereja atau tempat ziarah tertentu, dan pemberkatan seseorang secarah khusus serta dalam prosesi atau perarakan meriah.

Tentu saja tidak dalam seluruh liturgi uskup memegang tongkat itu, melainkan hanya saat perarakan masuk, saat memberikan berkat dan saat perarakan ke luar. Pada saat mendengarkan Injil, dan pada saat menyampaikan homili uskup juga memegang tongkat gembalanya. Begitu pula saat ia sebagai uskup menerima kaul, janji atau pengungkapan syahadat dari seseorang. Uskup memegang tongkat dengan tangan kiri. Biasanya bagian yang melengkung akan mengarah ke arah umat sebagai lambang kewibawaan dan sikap pastoralnya.

Selain tongkat, masih ada beberapa insignia lain: Cincin Uskup, yaitu lambang ikatan dan tanda kesetiaan pada Gereja. Ada pula Salib dada (pectorale. Bhs. Latin pector: dada), yang dikalungkan seputar leher sampai ke dada. Salib adalah tanda iman, tanda kemenangan Tuhan kita Yesus Kristus atas maut dan lambang penebusan manusia. Tidak ketinggalan adalah Mitra, yaitu mahkota uskup, yang dipakai dalam liturgi bersamaan dengan tongkat uskup. Mitra ini juga dikenakan uskup dalam prosesi, saat duduk, saat menyampaikan homili dan saat menerimakan sakramen-sakramen dan saat memberkati.

Masih ada ornamen lain dari uskup, yaitu topi bundar warna ungu: peliola atau solideo, yang juga dikenakan Uskup di luar perayaan liturgi.

Gregorius Hertanto MSC

HIDUP NO.09 2019, 3 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here