Beato Tiburcio Arnaiz Muñoz SJ (1865 – 1926) : Rasul Ignasian di Pedesaan

53
Beato Tiburcio Arnaiz Muñoz SJ.
[diariosur.es]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Baginya latihan rohani Ignatian mampu membuka percakapan akrab dengan Tuhan.

Daerah Poyales del Hoyo di Provinsi Ávila, Spanyol bukan tempat yang didambakan. Banyak imam menolak, saat mereka akan ditugaskan ke tempat ini. Meski hanya berjarak 190 kilometer dari Kota Madrid, namun kebanyakan umat di sini hidup miskin. Lagi, sebagian umat yang masih keturunan Andalusia, masih kuat dipengaruhi budaya-budaya Islam.

Banyak imam menilai, membuka misi di Poyales del Hoyo, hanya buang tenaga. Namun, di antara banyak penolakan, Pastor Tiburcio Arnaiz Muñoz justru bersemangat saat ia ditugaskan di sini. Ia meyakini, puncak pelayanan seorang imam bukan di dunia pendidikan, tetapi ambil bagian dalam derita kaum marginal.

Anak Manja
Sejak kelahiran, Arnaiz sebenarnya telah menjadi harapan bagi Ezequiel Muñoz, sang ayah. Kelahiran Arnaiz, sontak mengobati kerinduan Ezequil akan kehadiran seorang anak laki-laki. Oleh karenanya, wajah kalau Arnaiz diperlakukan agak istimewa, dibandingkan dua saudarinya, Gregoria dan Maria.

Mulai bayi, Arnaiz telah dimanjakan Ezequil. Perhatian yang berlebihan ini akhirnya berakibat buruk pada pribadi Arnaiz. Anak itu terdidik sebagai pribadi yang manja, cengeng, dan keras kepala.

Cerita mulai berubah saat Ezequil meninggal dunia pada Agustus 1870. Kematian ini membawa duka sekaligus cambuk bagi Arnaiz. Di usia yang terbilang belia, Arnaiz harus keluar dari rasa nyaman. Ia harus berjuang dengan membantu sang ibu mencari uang.

Arnaiz mulai menyadari, perannya pengganti sang ayah di dalam keluarga. Kelahiran Valladolid, Spanyol, 11 Agustus 1865 ini tak ingin sang ibu membanting tulang sendiri. Ia merasa kasihan kepada sang ibu. Di usia 12 tahun, ia pun mulai bekerja keras. “Aku kasihan melihat ibu membanting tulang sendirian, biarkan aku membantumu,” ujar Arnaiz.

Keterbatasan ekonomi, membuat Arnaiz melupakan pendidikannya. Ia hanya ikut kursus kecil untuk melatih keterampilannya bekerja. Beruntung, Arnaiz sebenarnya cukup cerdas. Dengan begitu, ia dapat belajar hal-hal baru dengan cepat.

Namun begitu, sang ibu tak pernah lelah mengingatkan tiga anaknya untuk dekat dengan Tuhan. Ketiga anaknya tak lupa untuk berdoa setiap hari. Bahkan, Arnaiz pun menjadi putra sakristi di gereja di biara Suster-suster Dominikan di San Felipe, Valladolid. Dari sini, kehidupan rohani Arnaiz mulai terbangun semakin kuat.

Hidup Membiara
Suster-suster Dominikan itu pun dapat melihat, bagaimana ketulusan dan kerendahan hati Arnaiz. Para suster pun mendorongnya menapaki panggilan religius. Tak hanya mereka, sang ibu juga mendorong Arnaiz untuk menjadi imam. Saat usianya cukup, atas bantuan para suster Dominikan, ia mendaftar ke seminari. Waktu berputar, Arnaiz lalu menyandang
status sebagai calon imam Keuskupan Valladolid.

Frater Arnaiz semakin yakin akan panggilannya yang bersumber dari Tuhan. Selama itu pula, ia tidak pernah mau menyusahkan siapapun. Ia menjadi seminaris yang hidup dengan tujuan jelas. Dengan begitu, hasil studinya pun gemilang. “Kupersembahkan hidupku ini untukmu Tuhan,” begitu Frater Arnaiz selalu mengulang dalam doa.

Perjuangan Frater Arnaiz tak sia-sia, saat usianya 25 tahun, ia ditahbiskan menjadi Imam Keuskupan Valladolid oleh Kardinal Antonio María Cascajares y Azara pada 20 April 1890. Setelahnya, ia mendapat tugas perdana menjadi kepala Paroki Villanueva de Duero (1893-1896). Setelah itu, ia melanjutkan studi teologi di Universitas Toledo.

Setelah menggondol gelar Doktor teologi, banyak yang menduga Pastor Arnaiz akan bertugas di sebuah lembaga pendidikan. Sayang, perkiraan ini meleset, ia justru menawarkan diri bekerja di sebuah paroki di Poyales del Hoyo pada 19 Desember 1896. Keputusan yang mengundang senyum banyak kolegianya. Mereka tidak menduga, Pastor Arnaiz mau bertangan kotor bekerja di “paroki miskin” itu.

Sejak memulai pastoralnya di paroki kecil itu, Pastor Arnaiz menjadi sahabat kaum miskin. Ia turut merasakan penderitaan umatnya. Ia menolak segala kemewahan yang ditawarkan umat-umat kaya kepadanya. Sejak itu pula, ia dicintai umat bukan kehebatan berkhotbahnya tetapi ketulusan hatinya. “Aku bahagia tinggal bersama kalian. Aku berharap dapat membantu kalian untuk semakin beriman,” ujar Pastor Arnaiz kepada umat-umatnya yang sederhana itu.

Di tengah karyanya di Poyales del Hoyo, ada sebuah berita duka yang harus diterima Pastor Arnaiz. Sang ibu meninggal menyusul ayahnya yang telah pergi jauh sebelumnya. Sontak ini mendatangkan pedih yang mendalam dalam diri Pastor Arnaiz. Di tengah persaan duka ini, ia dikuatkan oleh umat yang silih berganti datang kepadanya.

Belokan ke Ignatian
Berkarya di tengah umat sederhana, lambat laun semakin memupuk sebuah kerinduan yang ada dalam diri Pastor Arnaiz. Sejak lama, ia tertarik dengan semangat St Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus. Ada getaran dalam hati untuk mengikuti suara itu dan menjadi anggota Ignasian. “Kalau ini memang jalanmu, bantulah aku untuk mengikutinya Tuhan,” begitu diucapkan Pastor Arnaiz.

Lewat proses yang melelahkan, Pastor Arnaiz mantap untuk bergabung dengan Serikat Yesus. Ia pun memulai menjalani panggilan di Novisiat Serikat Yesus di Granada pada 30 March 1902. Di tahun awal ini, sama seperti para frater Jesuit teman angkatannya, Pastor Arnaiz tetap mendapatkan pengetahuan tentang ragam spiritualitas Ignasian. Di sini lah, Pastor Arnaiz mulai menemukan arah pastoralnya sebagai pembimbing spiritual. Ia mengakhiri formasi dasar Serikat Yesus ini pada tahun 1904.

Saat resmi menjadi imam Serikat Yesus, Pastor Arnaiz semakin mendalami spiritual Ignasian. Dalam bidang ini pula, ia membenamkan dirinya dalam pastoral. Ia pun mulai bertugas memimpin aneka retret dan rekoleksi.

Tahun 1912, Pastor Arnaiz mendapat tugas ke Málaga, untuk memberikan retret kepada calon-calon imam Jesuit. Di situ, ia berkenalan dengan José María Rubio dan Mgr Francisco de Paula Tarín. Dari pertemuan ini, ia mendapatkan amunisi baru dalam gerak pastoralnya.

Pastor Arnaiz menggabungkan instrumen kerasulan modern dengan latihan rohani Ignasian. Dalam pewartaannya, ia menyasar semua orang tak terkecuali. Ia juga masuk dalam komunitas orang Andalusia.

Rasul Pedesaan
Dengan semangat Ignasian, Pastor Arnaiz terus berkarya di medan-medan sulit di Málaga. Ia menaklukan desa-desa terpencil yang tak dijamah Gereja. Ia hadir menceritakan jalan-jalan hening St Ignatius kepada umat. Ia semakin menjelma menjadi pastor energik, bersahabat, dan berkotor tangan. Di waktu bersamaan, ia bisa mengambil peran petani membajak sawah sekaligus berkatekese di sana.

Kemurahan hatinya ini membuat banyak wanita mengaguminya dan mengikuti teladannya. Mereka membantu Pastor Arnaiz sampai ke pedesaan kaum Andalusia. Tahun 1921, ia bertemu María Isabel González dari Valle Sarandeses (1889-1937). Pertemuan ini melahirkan ide mendirikan asosiasi wanita awam yang mendedikasikan hidup mereka pada penginjilan di pedesaan miskin. Tahun 1922, Pastor Arnaiz dan Isabel membentuk sebuah asosiasi bernama Obra de las Misioneras de las Doctrinas Rurales (MDR).

Meski model pastoralnya terus berkembang subur, namun Pastor Arnaiz sadar bahwa perjalanannya telah sampai. Di tengah karya, ia meninggal sebagai rasul desa pada 18 Juli 1926. Saat itu, usianya 60 tahun. “Saya telah berjaga dan melayani sepanjang hidupku. Sekarang Tuhan terimalah jiwaku,” demikian doa yang terus diulangnya menjelang wafatnya. Pekerja di kebun anggur Tuhan ini pergi dengan sejuta karya yang masih terus hidup hingga saat ini.

Proses beatifikasinya pun dimulai Keuskupan Málaga. Paus Yohanes Paulus II menyetujui proses ini pada 5 Desember 1989. Paus Fransikus menyetujui dekrit beatifikasi Pastor Arnaiz pada 18 Desember 2018. Ia dibeatifikasi pada 20 Oktober 2018. Ia diperingati setiap 18 Juli.

Yusti H. Wuarmanuk/Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.09 2019, 3 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here