Intuisi Politik Jemaat Kristiani Purba

92
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa kali dalam WA Group penulis HIDUP muncul wacana tentang evaluasi positif terhadap politik dan aktifitas berpolitik. Ada pihak yang memberi penilaian positif mengenai politik dan aktifitas politik. Atas dasar itu, orang Katolik didorong terjun ke politik dan tidak takut berpolitik. Ada evaluasi historis bahwa ada keengganan di kalangan orang Katolik untuk terjun ke politik, karena pengandaian bahwa politik itu kotor dan akan mengotori manusia. Tetapi ada juga yang mengajukan catatan kritis terhadap hal itu setelah mempertimbangkan situasi nyata perpolitikan nasional kita yang karut-marut
oleh pertarungan perebutan kekuasaan.

Tanpa bermaksud memberi pilihan sikap terhadap salah satu sisi, di sini saya hanya mau menyampaikan sebuah pendapat yang saya sarikan dari sebuah studi atas beberapa buku dari ahli kitab suci Katolik kenamaan dari Amerika Serikat, P. Raymond E. Brown. Dalam A Once-and-Coming Spirit at Pentecost, (Minnesotta: Liturgical Press, 1994) P. Brown membuat sebuah pengamatan singkat mengenai “ketajaman intuisi politik jemaat Kristiani purba”. Menurutnya, jemaat Kristiani purba yang dianggap “sederhana” itu, mempunyai intuisi politik yang sangat kuat yang membuat mereka mampu melakukan pilihan orientasi politik yang tepat sehingga bisa survive dan menguasai dunia.

P. Brown mengatakan bahwa setelah jemaat Kristiani purba dikejar-kejar dari Yerusalem pasca perajaman Stefanus (Saulus terlibat; Kis 7:54-60), mereka keluar dari sana dan mencari tempat hidup baru (Kis 8:1b-3). Mereka dihadapkan pada beberapa pilihan yang sulit. Kata P. Brown, di hadapan mereka tersedia tiga pusat yang sangat besar. Pertama, Alexandria. Itu adalah kota pendidikan, kota akademia. Di sana ada perpustakaan mahabesar Akademia Plato yang dibakar Justinianus tahun 529. Kota ini menarik sebab sudah sebelum Masehi ada komunitas Yahudi di sana. Yang paling terkenal ialah filsuf-teolog Philo dari Alexandria. Kedua, Athena. Kota ini adalah kota kebudayaan Helenis. Pusat keindahan, pusat peradaban Yunani yang sempat menguasai dunia pada jaman Alexander Agung dan sedikit beberapa masa sesudahnya. Di kota Athena ini terdapat banyak gedung dan bangunan indah. Dari sana juga ada banyak filsuf terkenal. Ada banyak patung dewa-dewi yang indah, mahakarya seniman Yunani yang luar biasa.

Tetapi, kata P. Brown, orang Kristiani purba tidak merasa tertarik untuk memilih ke kedua pusat intelektual dan pusat kebudayaan dan peradaban tadi sebagai basis pergerakan mondial mereka. Mereka merasa bahwa kedua pusat itu tidak mempunyai daya untuk mengubah dunia dan menguasainya.

Bagi mereka tinggal satu pilihan: Roma. Saat itu Roma adalah pusat pemerintahan, pusat perpolitikan, pusat aktifitas politik. Orang Kristiani purba pun, dibawah pimpinan Petrus dan Paulus, akhirnya lebih memilih untuk menuju Roma. Hal itu tampak dalam Kisah Para Rasul yang memuncak di Roma (Kis 28:11-31). Seakan-akan mereka mempunyai naluri politik yang kuat bahwa bila mereka bisa menguasai pusat perpolitikan dunia saat itu maka mereka bisa menguasai dunia. Memang itulah yang terjadi.

Dari uraian singkat ini tampak bahwa jemaat Kristiani purba tidak takut terjun ke dalam politik. Mereka terjun ke dalamnya dan ikut mengubah dunia dari sentrum perpolitikan itu. Sejak semula hingga kini mereka membuktikan ketajaman dan kebenaran intuisi tersebut. Betapa dahsyatnya intuisi politik tersebut. Betapa kuatnya daya transformasi dari keterlibatan dan aktifitas politik.

Fransiskus Borgias M.

HIDUP NO.09 2019, 3 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here