Demi Perdamaian, Paus Mencium Kaki Presiden dan Pemimpin Oposisi Sudan Selatan

1507
Paus Fransiskus berlutut dan mencium kaki Presiden Sudan Selatan Salva Kiir di Casa Santa Marta, Vatikan, Italia pada Kamis (11/4/2019). Kemudian setelahnya, Paus juga melakukan hal yang sama kepada pemimpin oposisi Riek Machar. [Dok.Vatican Media]
Demi Perdamaian, Paus Mencium Kaki Presiden dan Pemimpin Oposisi Sudan Selatan
4 (80%) 5 votes

HIDUPKATOLIK.com – Ritual pembasuhan/ penciuman kaki tidak hanya dilakukan pada perayaan Kamis Putih saja dalam rangkaian Prapaskah. Paus Fransiskus telah mendahului perayaan itu dengan berlutut dan mencium kaki para pemimpin pemerintah dan oposisi di negara bagian termuda di dunia, Sudan Selatan.

Ketika itu Simon Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”. Yesus menjawab, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

Kini pengertian akan teladan Yesus itu, dapat kita saksikan pertama kalinya dari seorang pemimpin Katolik sedunia di Casa Santa Marta (Italia) kepada Presiden pertama Republik Sudan Selatan Salva Kiir Mayardit, pemimpin oposisi Riek Machar Teny Dhurgon (yang berpegang teguh pada pemberontak dan berperang dengan Pasukan Kiir), serta Penasihat Politik Pemerintah Sudan Selatan Rebecca Nyandeng De Mabior.

Dilansir Vatican News Kamis (11/4/2019), aktivitas spontan dan luar biasa diluar protokoler kenegaraan itu dilakukan oleh Paus Fransiskus pada bagian akhir kata sambutan, di akhir retret spiritual yang telah dijalaninya.

“Kepada kalian bertiga yang menandatangani Perjanjian Perdamaian, saya meminta Anda, sebagai saudara, tetap dalam damai,” kata Paus.

I ask you from the heart. Let us move forward. There will be many problems, but don’t be afraid, go forward, resolve the problems.” Dari lubuk hatinya, Paus meminta mereka untuk melangkah maju dan jangan takut untuk menyelesaikan masalah, meski akan menjumpai banyak permasalahan.

Usai pidato itu, secara Paus Fransiskus menyampaikan harapannya. “Anda telah memulai suatu proses; semoga berakhir dengan baik. Meski banyak pergulatan akan timbul, ini harus tetap di dalam kantor.” Namun, kata Paus, “di depan orang-orang: berpegangan tanganlah, tetap bersatu”.

Melalui cara ini, Paus ingin mengatakan, “dari warga negara biasa, Anda akan menjadi Bapa Bangsa.”

Dalam kata sambutan yang telah dipersiapkan, Bapa Suci merenungkan “tatapan Tuhan”, dan “tatapan rakyat”. Paus memulai pidatonya dengan kata-kata yang digunakan oleh Tuhan yang bangkit untuk menyapa murid-muridnya yang putus asa, mengikuti kebangkitan: “Damai sejahtera bagi kamu!”

“Damai adalah karunia pertama yang Tuhan bawa kepada kita dan komitmen pertama yang harus diupayakan para pemimpin bangsa,” kata Paus Fransiskus. Menurutnya, perdamaian adalah kondisi mendasar untuk memastikan hak-hak setiap individu dan pengembangan integral dari seluruh rakyat.

Baca: https://www.hidupkatolik.com/2019/04/11/34999/paus-kita-semua-pendosa-yang-memerlukan-pengampunan/

Tatapan Tuhan
Paus melanjutkan dengan merefleksikan sifat unik dari pertemuan tersebut yang berlangsung di Vatikan, sebagai suatu retret rohani yang ditandai dengan perenungan batin, doa yang penuh kepercayaan, refleksi mendalam, dan pertemuan rekonsiliasi.

Paus Fransiskus mendefinisikan tujuan retret sebagai salah satu dari “berdiri bersama di hadapan Tuhan dan membedakan kehendak-Nya”.

Dia mengingatkan otoritas sipil dan gerejawi yang hadir mengenai tanggung jawab besar bersama mereka untuk masa kini dan masa depan rakyat Sudan Selatan. Tentang bagaimana Allah akan meminta kita untuk memberikan pertanggungjawaban, tidak hanya tentang kehidupan kita sendiri, tetapi kehidupan yang lain juga.

Setiap retret spiritual harus membuat kita merasa seperti kita berdiri di depan “tatapan Tuhan…yang mampu melihat kebenaran di dalam kita dan untuk menuntun kita sepenuhnya kepada kebenaran itu,” tutur Paus.

Paus Fransiskus kemudian menceritakan kembali tentang bagaimana Yesus memandang Petrus, pertama-tama memberitahukannya untuk melaksanakan rencana-Nya demi keselamatan umat-Nya. Paus menyebut pandangan itu sebagai “pemilihan” atau “kehendak”.

Kemudian ketika Yesus memandang Petrus untuk kedua kalinya adalah setelah Petrus menyangkal Tuhan tiga kali, yakni pada Kamis Putih. “Ini adalah tatapan yang menyentuh hati Petrus dan membawanya ke dalam pertobatan”, kata Paus.

Akhirnya, setelah kebangkitan, “Yesus sekali lagi menetapkan pandangan-Nya kepada Petrus dan memintanya tiga kali untuk menyatakan cintanya”. Saat itulah Dia kembali mempercayakan Petrus “dengan misi untuk menggembalakan kawanan domba-Nya.”

“Tatapan Yesus bertumpu, di sini dan sekarang, pada kita masing-masing”, lanjut Paus Fransiskus. “Sangat penting untuk memenuhi pandangan ini dan bertanya pada diri sendiri: “Apa misi saya dan tugas yang Allah percayakan kepada saya untuk kebaikan umat-Nya?”.

Dengan pernyataan itu, Paus menekankan bahwa Yesus telah menaruh kepercayaan besar pada kita dengan memilih kita untuk menjadi rekan kerja-Nya dalam penciptaan dunia yang lebih adil. “Pandangan-Nya menembus kedalaman hati kita: Ia mencintai, mengubah, mendamaikan, dan menyatukan kita”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here