Kontemplasi dalam Karya

54
Kelompok Awam Pasionis Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang, Keuskupan Agung Pontianak melakukan prosesi salib.
[NN/Dok.Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ragam salib direnungkan oleh keluarga Pasionis dalam karya pelayanan sehari-hari. Percakapan dengan Tuhan menjadi titik balik menuju pertobatan sejati.

Pendiri Kongregasi Pasionis, Santo Paulus dari Salib pernah menulis: “Kristus yang tersalib merupakan objek pemikiran dan renungan yang paling disukainya”. Objek pemikiran ini kemudian oleh para Pasionis diterjemahkan sebagai usaha “berwawan hati” dengan Tuhan yang menderita. Bentuk konkret percakapan ini terwujud dalam doa.

Doa dialogat ini kiranya mampu membawa orang memahami kebesaran kasih Tuhan. Percakapan-percakapan dengan Tuhan yang menderita lewat doa, selanjutnya dipahami sebagai usaha berkontemplasi dalam ragam karya.

Lewat berbagai karya, para Pasionis belajar “berjalan” menuju Allah. Karya-karya itu terkristal dalam kesadaran bahwa bila Kristus tersalib, maka mereka harus ikut “tersalib”. Salib mereka tak lain adalah belajar setia dalam bekerja, berdoa, melayani, dan bermenung. Dari salib ini kemudian muncul harapan agar setiap orang mengalami pertobatan.

Salib dalam Karya
Para Suster Rubiah Pasionis di Pertapaan Santo Paulus dari Salib Malang, Jawa Timur sepakat bahwa salib adalah situasi pengosongan diri. Mereka berusaha mengalami persatuan cinta sempurna dengan Allah dalam ragam karya, sesuai misi mereka, “Mewartakan Sabda Salib”.

Suster Scolastika Adus CP mengatakan, para rubiah hendak mengakrabkan penderitaan Kristus dalam karya keseharian. Hidup kontemplasi dalam karya dirasakan dari bangun tidur hingga kembali tidur. “Rubiah Pasionis ingin mewujudkan aspek kontemplatif ini sebagai bentuk hidup sejati seperti Kristus yang karena cinta, mau mengalami sengsara,” jelas Sr Scolastika.

Partisipasi dalam hidup Yesus, terutama sengsara-Nya menjadi kewajiban para rubiah dalam berkarya. Diawali dengan semangat cinta kontemplasi ini, mengalir tanggungjawab, ketekunan, dan kesetiaan. Para Rubiyah ingin menjadi partner Allah dalam pewartaan Injil.

Maka bentuk-bentuk pewartaan yang ditawarkan dalam biara adalah adorasi dan syukur. Misal, setiap hari Jumat menjadi hari istimewa karena mengingatkan mereka pada sengsara dan wafat Yesus. Mereka mengenangnya secara khusus dalam bentuk doa, meditasi, pelaksanaan devosi kepada sengsara Yesus. Di hari petang, mereka mengadakan devosi Jalan Salib atau devosi lain yang berkaitan dengan penderitaan. Pelaksanaan doa dan meditasi pribadi selama setengah hari juga berlaku pada hari Minggu.

Refleksi hidup dalam doa terekam juga dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti doa Jam Sengsara, renungan Jam Sengsara, dan doa Tujuh Persembahan Darah Mulia Yesus. Selain itu, hidup kontemplatif juga diwujudkan dengan pembuatan patung, lilin, dan benda-benda rohani lainnya.

Sr Scolastika mengatakan, keheningan merupakan jembatan bagi mereka berpapasan wajah dengan Allah. Mereka mampu merasakan bulir-bulir penderitaan Kristus dalam refleksi via dolorosa. “Kehadiran para rubiah tak lain menjadi kesempatan terlibat bersama Yesus memanggul salib menuju Golgota,” ungkapnya.

Sementara itu, hidup kontemplasi dalam karya juga dirasakan Sr Mia CP. Sebelumnya, ia pernah mengalami hidup bersama anak-anak panti asuhan dan yatim piatu di Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati di Jakarta dan Panti Asuhan Bunda Pengharapan Pontianak, Kalimantan Barat. Ia berefleksi anak-anak kerap dianggap “salib” bagi keluarga. Orangtua sering menganggap kehadiran anak hanya menyusahkan. Tak heran banyak anak dilupakan, dibuang, dan terlantar.

Barangkali, menurut Sr Mia, kehadiran anak sebagai salib dalam keluarga bisa diberi bobot spiritual. Pendekatan spiritual ini menjadi sebuah relasi interpersonal yang dibangun dengan sikap-sikap manusiawi yaitu merangkul dengan penuh ketulusan, melindungi, menjaga, dan mengajarkan anak-anak. Semua aspek ini dilakukan untuk membantu anak-anak kembali merasakan kasih sayang, cinta, dukungan, dan perhatian. “Kami ingin menciptakan suasana dimana panti asuhan menjadi sebuah keluarga yang di dalamnya tumbuh rasa empati dan simpati,” ucap Sr Mia.

Bekerja sebagai seorang sahabat bagi anak-anak mengingatkan Sr Mia soal derita Yesus. Salib bagi seorang pendamping tak lain adalah gagal memberi cinta kepada anak-anak. Pendamping harus mampu menyadarkan anak-anak, akan rasa sakit, malu, kecewa, dan perasaan ditinggalkan sebagai sebuah proses hidup. Menumbuhkan rasa percaya diri anak,
memulihkan kondisi psikologis anak adalah salib yang harus dipikul seorang Pasionis. “Inilah tahap transformasi yaitu mau melakukan sesuatu yang kecil dengan cinta yang besar.”

Dalam refleksinya, Sr Mia percaya bahwa setiap Pasionis dipanggil untuk menyerupai Yesus yang tersalib. Karena itu, rasa lelah dan jenuh yang dialami para suster yang melayani anak-anak menjadi persembahan hidup kepada Tuhan. Integritas pelayanan dapat terjadi karena manusia mampu membangun relasi yang intim dengan Tuhan.

Anak adalah mutiara terindah dari Tuhan untuk orang tua. “Jangan sia-siakan mereka karena mereka adalah nafas dan kehidupan kita. Cintailah mereka apapun keadaannya. Mereka tak pernah ingin dilahirkan ke dunia ini seandainya mereka tahu bahwa mereka akan diserahkan ke tangan orang lain,” ajaknya.

“Kebodohan” Salib
Salib tidak saja dirasakan bagi para Pasionis yang berkaul. Di Indonesia ada Awam Pasionis atau Sahabat Yesus Tersalib, mereka juga merefleksikan peristiwa salib Kristus. Kelompok beriman ini, kendati tetap hidup dalam panggilan masing-masing, berusaha hidup secara rohani bersatu dengan saling Tuhan.

Awam Pasionis ini terdiri dari kaum awam yang bertujuan menghayati, mengekspresikan, dan mengusahakan kenangan akan sengsara Yesus dalam perkataan, karya kerasulan, dan pekerjaan duniawi lainnya. Mereka ingin memaklumkan seperti Paulus dari Salib bahwa partisipasi aktif dalam ragam karya adalah partisipasi dalam misteri Salib Kristus.

Ketua Awam Pasionis Indonesia, Aurelia Yoanitha Deviara Pradnya menceritakan pengalamannya berkontemplasi dalam misteri Paskah Kristus. Baginya misteri Paskah nampak dalam hidup doa, refleksi Kitab Suci, dan bacaan-bacaan rohani. Kehidupan doa ini membuat Awam Pasionis merasa terpanggil untuk saling menghormati, menghargai, menerima, dan saling membantu.

Maka itu, banyak kegiatan yang dibuat Awam Pasionis yang terungkap dalam pertemuan-pertemuan rutin. Dalam pertemuan itu, ada doa bersama, dialog persaudaraan mengenai hidup kerasulan, katekese yang sepadan, rekoleksi atau retret tahunan tentang janji setia. “Tujuannya agar membantu para anggota mengusahakan sunguh-sungguh kesucian dengan mengalami spiritualitas cinta kasih dengan memandang Kristus yang tersalib.”

Awam Pasionis ingin memiliki pasio (pengorbanan), di mana dalam hati ada cinta yang menggebu-gebu. Hati yang menggebu-gebu ini bertumbuh atas dasar kerelaan Tuhan untuk mau menderita. Masalahnya bagi Aurelia bahwa kenyataan hidup banyak orang memandang penderitaan sebagai sesuatu peristiwa dimana Allah lepas tangan dari hidup manusia. “Padahal rahmat Tuhan itu datang dalam keadaan sehat maupun sakit,” pungkasnya.

Dalam kegiatan-kegiatan Awam Pasionis tercermin sharing pengalaman sebulan dua kali tentang pengalaman salib. Awam Pasionis sangat terbuka dalam membagikan penderitaan karena dengan begitu ada perasaan saling menguatkan. Keterlibatan ini diwujudkan dalam segala segi kehidupan. Peristiwa salib terealisasikan dalam keluarga, dunia pekerjaan, kehidupan pelayanan paroki, bahkan sel yang lebih luas yaitu masyarakat.

Di paroki misal, para Awam Pasionis merasa terpanggil sebagai pengajar katekumen, bina iman pelajar, persiapan komuni, anggota koor, dan lainnya. Awam Pasionis bertugas membantu pastor paroki dalam reksa pastoral. Mereka harus memperkenalkan salib bukan sebagai sesuatu yang hina, lemah, tetapi sebuah kemenangan Kristus atas maut.

Menenggelamkan diri dalam kasih Allah yang tak terbatas, tampak dengan jelas dalam tugas-tugas Awam Pasionis. “Perjalanan menuju kesempurnaan” ini tidak saja menjadi tanggungjawab kaum tertabis tetapi juga seluruh umat.

Pastor Markus Murjoko CP, Superior Biara Pasionis Beato Pio Campidelli Malang menambahkan bagi orang percaya, dalam kelemahan tampak seluruh cahaya dari kebijaksanaan Allah. Karena itu dalam komunitas karya, seorang Pasionis dituntut taat tanpa berusaha menghindari “kebodohan” salib. “Sebab dalam kelemahan, tampak kekuatan Allah supaya tidak seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah,” demikian pesannya.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Willy Matrona

HIDUP NO.10 2019, 10 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here