Memilih Pemimpin yang Berkualitas

133
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK. COMMinggu, 14 April 2019, Minggu Palma Yes 50: 4-7; Mzm 126:1-2ab, 2cd, 3, 4-5, 6; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11

“Memilih pemimpin yang berkualitas cinta akan Allah dan menghargai martabat manusia adalah bagian dari tindakan hidup beriman”

PERAYAAN Minggu Palma merupakan pintu masuk bagi semua umat Katolik untuk merenungkan secara mendalam arti hidup memilih Kristus sebagai pemimpin dalam hidupnya. Tahun ini, perayaan iman hampir dilakukan bersamaan dengan pesta demokrasi.

Umat diajak menggunakan hak memilih para pemimpinnya dalam hidup bernegara dan berbangsa. Maka tindakan untuk memilih presiden, wakil presiden serta anggota legislatif mesti menjadi bagian aktualisasi imannya: memilih pemimpin yang berkualitas cinta akan Allah dan kemanusiaan.

Di sinilah iman itu mendapat konteksnya yang amat aktual. Memilih pemimpin yang berkualitas cinta akan Allah dan menghargai martabat manusia adalah bagian dari tindakan hidup beriman.

Tindakan beriman adalah tindakan secara sadar dan bertanggung jawab memilih seorang andalan yang mewarnai hidup seseorang. Sebagai orang katolik, kita telah memilih tokoh Yesus Kristus sebagai pemimpin kita.

Dia adalah pemimpin yang menggerakkan kita untuk menentukan pilihan politis yang benar, komitmen sosial yang tulus, perilaku berkebangsaan­ berkeindonesiaan (konteks kita umat katolik Indonesia), serta menghargai martabat manusia serta alam semesta yang tidak boleh dieksploitasi demi kepentingan keserakahan politis, keserakahan ekonomis, dan keserakahan ideologis.

Keserakahan pada intinya adalah roh yang menistakan martabat luhur manusia, mengabaikan kesejahteraan bangsa, dan keamanan hidup bersama. Bacaan liturgis pada Minggu ini menuntun kita untuk mengakui bahwa Yesus Kristuslah pemimpin kita.

Dia adalah Yang terberkati yang datang sebagai RAJA dalam nama Tuhan (Luk 19:38). Dialah figur seorang pemimpin yang datang sebagai RAJA damai. Nabi Yesaya memperjelas kualitas kepemimpinan Yesus (Yes 50:4­7). Dia adalah Tuhan yang memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.

Dia adalah figur pemimpin yang memberikan pertolongan dan tindakan pertolongan itu dirasakan serta dialami secara konkret oleh orang yang dipimpinnya. Maka orang mengakui dengan berkata: “Tuhan Allah menolong aku” (Yes 50:7).

Rasul Paulus (Flp 2:6­11) menyampaikan keyakinan pribadinya perihal gaya kepemimpinan Yesus. Dia bukan figur pemimpin yang merendahkan orang lain atau yang memandang dirinya tinggi, congkak hati. Dia justru pemimpin yang bersolider dengan manusia yang sedang bertarung dan bekerja tulus dalam pergumulan hidup yang riil.

Dia pemimpin yang bukan mengumbar janji pemecahan persekutuan, memilah sesama manusia demi kepentingannya. Pemimpin yang berkualitas cinta akan Allah dan kesejahteraan manusia siap bertarung bersama para pengikutnya apapun tantangannya.

Bahkan siap mengorbankan dirinya sampai ke tingkat pengorbanan yang paling luhur menyerahkan hidupnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Merasakan dan memahami kepemimpinan Yesus, maka Paulus mengkampanyekan Kristus kepada umat di Filipi dan tentu saja kepada kita umat Katolik Indonesia dengan pernyataan imannya: “Yesus Kristus adalah Tuhan” (Flp 2:11).

Dialah Mesias, yang membawa penyelamatan umat manusia dan alam semesta ini. Kualitas kepemimpinan Yesus yang cinta akan Allah dan umat manusia itu berbenturan dengan arus rendah nafsu kemanusiaan kita;

Bertentangan dengan arus kehausan berkuasa dan kongkalingkong politik kepentingan para tokoh agama, ahli taurat, serta orang-­orang kebanyakan yang kena hasutan para pembenci kepemimpinan yang baik dan berprikemanusiaan (Bdk Luk 23:18­23), serta kepemimpinan seorang Yesus yang mengarus-utamakan pengabdian kepentingan keselamatan semua manusia.

Kepemimpinan Yesus yang mengutamakan pengakuan keberbedaan antar manusia yang patut dihargai dan disuburkan. Yesus konsisten dengan agenda keselamatan seluruh umat manusia dan alam semesta ini, selaras dengan rancangan kasih Allah.

Merayakan Minggu Palma dan memasuki Pekan Suci boleh dikatakan sebagai kesempatan kita mempertegas kembali keputusan untuk memilih pemimpin yang sejati, bukan saja dalam konteks hidup beriman, tetapi terutama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat Indonesia.

Ada calon pemimpin negara kita yang berusaha menjalankan pengabdian kepemimpinannya selaras dengan semangat Yesus. Maka kita memilih, mendukung dan meneguhkan pemimpin seperti itu.

Selamat memasuki Pekan Suci dan selamat menjalankan kewajiban mulia memilih pemimpin bangsa Indonesia, negara kesatuan yang kita cintai bersama.

 

Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM
Uskup Bogor

HIDUP NO.15 2019, 14 April 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here