Carestha Widjaja : Ketika Pengusaha Furnitur Kelola Sekolah

324
Carestha Widjaja.
[HIDUP/Julius Rendy Nugroho]
Carestha Widjaja : Ketika Pengusaha Furnitur Kelola Sekolah
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dengan latar belakang yang bukan pendidikan, Resta justru memiliki pandangan yang berbeda dalam mengelola sekolah. Hasilnya, di luar dugaan!

Sebagian ruangan di Sekolah Katolik Marie Joseph, termasuk ruang kelas disulap menjadi ruangan gelap. Di dalam ruangan-ruangan tersebut siswa-siswi sekolah ini memamerkan kreativitas mereka dalam Marie Joseph Art, Science and Technology Festival. Festival yang mengusung konsep glow in the dark ini rupanya digelar sebagai bentuk perayaan HUT ke-15 sekolah ini. Konsep ini diusung oleh Carestha Widjaja, Ketua Yayasan Amal dan Kurban Jakarta yang menaungi sekolah di Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini.

Memang bukan hal biasa, merayakan ulang tahun sekolah dengan menggelar pameran seni yang terbuka untuk umum. Kebanyakan sekolah terbiasa melakukan pentas seni yang menampilkan band, dance, dan drama musikal. Namun, menjadi wajar ketika konseptornya adalah orang yang biasa berkecimpung dalam dunia seni rupa.

Resta, demikian Carestha Widjaja disapa, didapuk sebagai pimpinan yayasan sejak tahun ajaran ini dimulai. Sebelumnya ia telah bergabung sebagai sekretaris yayasan. Namun, profesi utamanya adalah pengusaha dalam bidang impor furnitur. Selain mengimpor furnitur dari Eropa, ia juga memiliki studio desain khusus untuk mengembangkan produk lokal yang setara dengan barang impor.

Era Baru
Sekolah Katolik Marie Joseph Jakarta berdiri bersamaan dengan Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS) Kalimantan Barat. Berawal dari KB dan TK, kini Marie Joseph telah memiliki SD, SMP, dan SMA. Karena banyak permintaan, sekolah mengikuti perjalanan pendidikan angkatan pertama terus hingga SMA. Perjalanan 15 tahun Marie Joseph Jakarta tidak melulu berjalan mulus. Seiring dengan banyak penutupan sekolah Katolik, Marie Joseph juga mengalami penurunan jumlah siswa dalam tiga tahun terakhir. Yayasan berpikir untuk melakukan perubahan dalam manajemen sekolah. Maka dipilihlah orang muda untuk memimpin dan membawa era baru bagi Marie Joseph.

“Mengelola sekolah merupakan perubahan yang besar bagi saya. Biasanya mengurusi furnitur, benda mati, sekarang mengurusi yang hidup,” ujar Resta. Setelah mempelajari, ia menemukan bahwa finansial memang mempengaruhi keputusan orangtua menyekolahkan anak. Orang berduit zaman dulu cenderung memilih sekolah Katolik bagi putra-putrinya. Namun, orangtua masa kini lebih memilih sekolah internasional dibandingkan ke sekolah nasional baik negeri maupun Katolik atau swasta. Kendati demikian, Resta tak menampik sekolah Katolik masih menjadi favorit. Selain karena kedisiplinannya, pertumbuhan iman anak juga menjadi pertimbangan orangtua.

Dari sekitar jumlah 900 siswa saat ini, Resta memiliki PR untuk menggaet 400 lagi demi memenuhi jumlah maksimal kapasitas sekolah. Ia berpikir cara untuk berubah adalah mengikuti perkembangan zaman, bagaimana menjadikan sekolah tempat yang tidak hanya nyaman, tetapi juga memberikan suasana yang menyenangkan saat belajar serta fasilitas tambahan yang bermanfaat kepada siswa-siswi. Selain dengan sekolah internasional yang terkenal lebih maju dalam sains dan teknologi, Resta melihat Marie Joseph yang ia sebut ‘masih bayi’ ini harus berkompetisi dengan big brothers, yaitu sekolah-sekolah Katolik yang mempunyai lapangan, taman, dan usianya lebih tua.

Karenanya, ia berpikir meski tak punya lapangan besar, anak-anak harus tetap mempunyai ruang berekspresi dan tidak ketinggalan dalam sains dan teknologi. Dengan latar belakang pengusaha furnitur, Resta memutuskan mengubah wajah Sekolah Marie Joseph menjadi boutique school. Dengan memainkan desain interior, sekolah ini pun menjadi sangat nyaman. Warna-warni dan furnitur yang menghiasi sekolah membuat siapapun betah berada di dalamnya. Sejak awal, ia menginginkan Marie Joseph menjadi sekolah favorit tidak hanya semata-mata menaikkan jumlah siswa. Ia mengakui penambahan jumlah siswa dimaksudkan agar para karyawan bisa bertahan hidup, dibandingkan harus menaikkan biaya sekolah.

Resta mengakui banyak pihak yang menganggap boutique school terlalu modern untuk sekolah Katolik. Namun, ia mengatakan boutique school di Finlandia biasanya diperuntukkan bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih. Bisa jadi karena anak tersebut memang special secara mental atau memang anak dari kalangan menengah ke atas. Boutique school di sana eksklusif di mana setiap kelas isinya hanya sepuluh siswa. Namun, untuk hal ini tidak Resta terapkan di Marie Joseph. “Kami mengambil konsepnya itu benar-benar seperti boutique hotel. Di mana kami memberikan fasilitas yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain juga dengan kegiatan-kegiatan tambahan,” ujarnya.

Ia menyiapkan tempat khusus di mana anak-anak dapat memotong kayu, melebur plastik dan kreativitas lain melalui kegiatan-kegiatan langsung. Resta juga menerapkan pola pikir pengusaha dalam mengelola sekolah. “Kalau servis dan produk kita bagus, konsumen pasti menceritakan kepada orang lain,” tuturnya. Untuk itu, ia membuka akses sekolah kepada masyarakat umum melalui Marie Joseph Art, Science and Technology Festival. Secara gratis, siapapun bisa datang dan menikmati karya warga sekolah ini. “Kami merasa perlu orang-orang datang dan melihat seperti apa sekolah ini dan terutama anak-anak kami seperti apa,” katanya.

Ia mengakui banyak pihak yang berpikir festival ini tidak terlalu penting untuk dilakukan karena membutuhkan kerja keras luar biasa. Namun, tekadnya bulat. Ia berhasil meyakinkan seluruh pihak bahwa festival glow in the dark ini dapat berjalan dengan segala upaya yang dikerjakan.

Festival ini memberikan pengalaman-pengalaman menarik bagi pengunjung, antara lain berupa pengajaran daur ulang di mana banyak instalasi seni yang merupakan kreasi siswa-siswi Marie Joseph yang dibuat dari botol plastik, kardus, dan kantong plastik bekas. Seluruh materi daur ulang merupakan dukungan yang diberikan oleh Badan Misi Pelestarian Lingkungan Yayasan Budha Tzu Chi dalam usaha mendukung pelestarian lingkungan. “Anak-anak kami menerima kiriman lautan sampah plastik, membersihkan kemudian mengelolanya. Ketika festival dibuka, anak-anak ini juga yang menjadi
penjaga stan dan pemandunya. Ini memberikan kebanggaan tersendiri, mereka bisa menghargai usaha mereka dan mengalami sendiri prosesnya,” tutur ibu dua anak ini. Semua proses instalasi seni ini dilakukan oleh guru, murid, karyawan, dan tim yayasan. “Yang outsource hanya instalasi listrik,” imbuhnya.

The power of mouth yang Resta harapkan benar-benar terwujud. Tanpa undangan resmi, ribuan pengunjung mendatangi sekolah ini. Sekolah Marie Joseph ramai dibicarakan di social media. Apalagi saat liburan akhir tahun, tidak sedikit siswa-siswi dari sekolah negeri dan Muslim yang mengunjungi. Mahatma Gandhi School bahkan melakukan 16 kali rute kunjungan tanpa diundang. “Jadi bukan saya atau suster-suster atau guru-guru yang menceritakan bahwa Marie Joseph bagus, tetapi orang-orang yang datang, siapapun itu. Katolik, Kristen, Muslim bisa menceritakan kita, dalam konteks tidak seperti marketing, tapi menceritakan pengalaman mereka saat di sini,” ujar alumna salah satu universitas ternama di Australia ini.

Dengan latar belakang yang bukan pendidikan, Resta justru memiliki pandangan yang unik di luar orang pendidikan kebanyakan. “Kalau dari dulu saya tahu saya akan menjadi orang yang mengurus sekolah, saya tentu akan berada di lingkungan pendidikan saja. Dengan begitu, saya tidak akan memberikan ide atau gagasan berbeda karena kami semua melihat yang sama,” kilahnya.

Carestha Widjaja

Pengalaman:
• Direktur PT. Technigroup Indonesia
• Direktur PT. SLK Indonesia – IGDX Holdings Ltd.
• Manager IGDX Holdings Ltd. Kuala Lumpur, Malaysia
• Sales Representative British Airways, Melbourne, Australia

Hermina Wulohering

HIDUP NO.10 2019, 10 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here