Beato Bartolomé Blanco Márquez (1914 –1936) : Surat Cinta Martir Ekaristi

154
Beato Bartolomé Blanco Márquez dan sang adik Antonio Márquez.
[seducidosporjesus.blogspot.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – “Siapapun yang mati untuk Kristus harus menghadap ke depan, berdiri tegak, dan membuka mata memandang peluru surgawi”, ujar Bartolomé Blanco Márquez sebelum ditembak.

“Untuk Maruja. Ingatanku akan cintamu akan lenyap dalam makam gelap. Selama hatiku berdetak, di situ ada cintamu.” Begitu bunyi penggalan puisi Bartolomé Blanco Márquez untuk Maruja, sang pacar. Kalimat itu ditulis Bartolomé sesaat sebelum dibunuh.

Bartolomé harus mengakhiri hidupnya pada usia 22 tahun. Di masa pergolakan bersenjata di Spanyol, ia menjadi korban kekejaman tentara pemberontak melawan diktator Spanyol, Jenderal Franco (1892-1975). Sebelum dibunuh, ia dipaksa melepaskan imannya. Dari pada melepaskan imannya, ia memilih mati untuk mempertahankannya. Ia dijatuhi hukum mati pada 2 Oktober 1936.

Misteri Ekaristi
Konfrontasi di tahun 1930-an telah memporak-porandakan Spanyol. Nilai kemanusiaan, moral, sosial, dan spiritual sekejap hilang setelah Jenderal Franco berkuasa. Orang Kristen tradisional pun terpaksa terseret arus pemerintahan ini. Konsekuensinya, paham sekularisme berasas multiagama secepat kilat menjadi budaya orang Kristen tradisional. Tetapi sebagian besar juga Kristen tradisional dengan cepat bergerak mengamankan situasi ini. Misi “menyelamatkan Allah” dari perbudakkan Franco dimulai dari Catalonia sampai ke pelosok-pelosok Spanyol.

Satu dari sekian ribu umat yang berjuang mempertankan iman ini adalah Bartolomé. Berjiwa muda dan penuh kesalehan, begitu orang mengenalnya. Dirinya tak ingin menerima tawaran baru soal percaya pada Tuhan. Baginya, iman adalah ekspresi personal kepada Tuhan yang ditunjang dengan ketaatan. Meski berusia remaja, ia berpikiran arif dengan menolak segala bentuk kebebasan beriman yang ditawarkan pemerintah.

Kelahiran Pozoblanco, Provinsi Córdoba, Spanyol, 25 November 1914 ini tidak memiliki alasan pasti untuk melepaskan imannya. Menurutnya, Katolik artinya menerima dengan iman, wahyu Tuhan, dan mau menanggapi undangan-Nya. Kristus yang diikuti harusnya menjadi pusat hidup manusia. Dia adalah pribadi yang mewahyuhkan Diri-Nya dan bersatu dengan manusia.

Kebenaran ini membuat Bartolomé bertumbuh menjadi remaja yang saleh. Meski menjadi yatim piatu sejak kecil, ia dan adiknya Antonio, merasa Kristus adalah kekuatannya. Maka sejak diasuh oleh bibi dan pamannya, Antonio Blanco García dan Ana Blanco Yun yang berprofesi sebagai pengrajin kursi, ia bertumbuh menjadi pribadi yang lugas dan bertanggungjawab. Ia tak lalai dalam doa pribadi. Berkat imam-imam Salesian Pozoblanco, ia menjadi katekis awam pada usia 18 tahun.

Anak muda energik seperti Bartolomé menyadari bahwa kehadiran Kristus secara nyata dalam Gereja adalah saat Ekaristi. Kristus yang hadir secara aktif atas kuasa Roh Kudus telah mengurapi para imam untuk membuat mukjzat; hosti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Ia sangat tertarik dengan peristiwa konsekrasi saat Ekaristi.

Ia berangan-angan tubuh Kristus yang disantapnya kelak menjadikan dirinya sebagai sakramen kesatuan untuk menyelamatkan Gereja dari berbagai ajaran. Ia ingin menjadi satu korban dari satu Kristus, yang wafat dan bangkit. Remaja periang ini ingin seperti Kristus yang rela tubuhnya tercabik-cabik demi keselamatan manusia.

Refleksi ini terus dibawahnya sampai ketika dipaksa wajib militer. Beberapa kali diutus bela negara, Bartolomé berpegang teguh pada perkataan Rasul Paulus, “Kristus adalah segalanya (Kol. 3:11)”. Dengan ketaatan menerima Kristus dan ajaran-Nya ini, Bartolomé ingin berbuat sesuatu kepada Gereja. Pada 18 Agustus 1936, saat menjalani cuti militer. Selama masa ini, ia menolak segala bentuk mobilisasi Angkatan Bersenjata yang ingin menggulingkan militer Franco.

Ia percaya perkataan Kristus, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Fil. 1:21), tetapi menurutnya kematian melawan Franco hanya kebodohan. Tidak ada keuntungan melawan sang diktator sebab tindakan tersebut adalah partisipasi manusiawi bukan kehendak Ilahi. Bartolomé bila kelak meninggal, ingin seperti Kristus dimana kematiannya memberi efek pertobatan bagi banyak orang.

Peluru Surgawi
Ketakterlibatan ini membuat putra pasangan suami-istri Ismael Blanco Yun dan Felisa Márquez Galán ditahan dan dipenjarakan di Penjara Jaen, Spanyol, pada 24 September 1936. Di sana, ia bertemu beberapa imam dan awam Katolik. Bukan rasa takut yang didapat dalam penjara, malahan rasa syukur karena bisa bebas merayakan Ekaristi. Setiap malam para imam bergantian membagikan roti pengganti hosti kepada para tahanan. Sungguh iman Bartolomé semakin mendalam akan Ekaristi.

Selama persidangannya, Bartolomé menolak semua tawaran pembebasan bila menanggalkan iman. Tak mudah mengubah iman remaja 22 tahun ini. Kematian yang berefek pertobatan bagi umat manusia seperti Kristus adalam misi Bartolomé. Dirinya tidak memprotes segala fitnah di pengadilan. Bahkan ketika dijatuhi hukuman mati, Bartolomé menengadah ke awan dan membuat tanda salib.

Bartolomé menulis kepada keluarganya, “Bila kelak Anda ingin membalas kematian saya, balaslah secara Katolik. Dalam iman Katolik tidak ada pedang ganti pedang tetapi hati ganti hati. Kekerasan hanya bisa dibalas dengan kasih. Lewat itu kita akan disebut orang-orang merdeka yang memberi pengampunan kepada banyak orang.”

Menurut dokumen beatifikasinya, Bartolomé berjalan ke tempat eksekusi dengan bertelanjang kaki: agar lebih sesuai dengan Kristus. Ia membuka baju dan hanya menggunakan sehelai kain pengganti celana.

Sebelum ditembak, ia mencium borgol, hal ini mengejutkan para tentara. Dia menolak untuk ditembak dari belakang. Ia berkata, Siapapun yang mati untuk Kristus harus menghadap ke depan, berdiri tegak, membuka mata memandang peluru surgawi. “Untuk Kristus Raja kita, Jadilah!,” teriaknya saat terjatuh ke tanah di bawah guyuran peluru.

Ia meninggal sebagai martir. Kematiannya sekaligus memberi efek pertobatan bagi beberapa rekannya yang dipenjara. Mereka yang pelan-pelan melupakan iman melihat kejadian ini sebagai bentuk pertobatan hakiki. Satu per satu menawarkan diri dihukum mati dengan cara ditembak sambil menghadap ke depan.

Bartolomé dan rekan-rekannya dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XVI pada 28 Oktober 2007 di Lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan. Ia dibeatifikasi bersama sekitar 498 martir. Dalam kelompok orang-orang ini terdapat nama Martir Ekaristi Beato Bartolomé Blanco Márquez.

Kematian Beato Bartolomé meninggalkan satu jejak iman: Kristus akan terus hidup dalam rusuk dan darah orang Katolik Spanyol. Air dan darah Kristus menandakan Pembaptisan sekaligus pembaharuan batin dalam pertobatan bagi Gereja Spanyol.

“Kematian para martir Spanyol layak seperti kisah manusia pertama. Tuhan membuat Adam dan mengatakan, Tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Tuhan telah mengambil sebuah tulang rusuk para martir Spanyol dan menempatkan dalam tubuh umat Katolik Spanyol. Tulang itu harus memberi nyawa,” ujar Paus Benediktus XVI dalam Misa Beatifikasi para martir Spanyol.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.10 2019, 10 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here