Exultate Justi in Domino : Bejana untuk Belajar Musik Liturgi tanpa Akhir

148
Exultate Justi in Domino dalam konser Adoramus Te Christe di Katedral Jakarta.
[NN/Dok.Pribadi]
Exultate Justi in Domino : Bejana untuk Belajar Musik Liturgi tanpa Akhir
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Perbedaan aliran musik anggota paduan suara ini tak menghalangi niat mereka mendalami Musik Liturgi. Menyanyi berarti mendengarkan sabda, berdoa, dan merenung.

Gereja Santa Maria Maria Diangkat ke Surga atau Katedral Jakarta, mulai sepi. Umat yang baru saja mengikuti Misa Mingu itu berangsur pulang. Sementara di salah satu ruangan di Ruang Santo Andreas, masih kompleks gereja ini, berkumpul anggota Paduan Suara Exultate Justi in Domino (EJID). Mereka tengah mengikuti latihan kor dengan serius.

Beberapa lagu sudah mereka nyanyikan dalam sesi latihan siang itu. Meskipun mengambil lagu-lagu dari Puji Syukur, mereka tidak tampak bosan. Beberapa lagu lain dalam Bahasa Latin, juga mereka nyanyikan dengan suara merdu.

Ketua Paduan Suara EJID Odilia Elisetiawati mengungkapkan, Exultate Justi in Domino selalu menanamkan kepada anggotanya untuk menjaga tradisi Musik Liturgi. “Musik Liturgi sangat berbeda dengan musik yang lain karena memiliki kekayaan tersendiri. Ini merupakan khazanah musik Gereja yang perlu dipertahankan. Kelompok-kelompok
kor di Gereja memiliki tugas mulia ini, termasuk EJID,” kata Odil, sapaan akrab Odilia Elisetiawati, kepada HIDUP.

Bejana Vokal
Sejak didirikan pada tanggal 31 Agustus 1980, paduan suara ini menjadi wadah untuk menggali potensi olah vokal kaum muda di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Bila dirunut ke belakang, paduan suara ini berawal dari sekelompok orang muda Katedral Jakarta yang memiliki minat dan kecintaan akan musik vokal, kemudian menular kepada kaum muda dari hampir seluruh paroki di KAJ.

Odil menjelaskan, terbentuknya kelompok ini menjadi wadah pembentukan sekaligus pembinaan kaum muda Katolik dalam melayani Tuhan melalui olah vokal. Hal ini sesuai dengan pilihan namanya yakni Exultate Justi in Domino yang berarti “bersorak-sorailah orang-orang benar dalam nama Tuhan”.

Odil mengatakan, paduan suara ini telah berkomitmen merawat Musik Liturgi. Menurutnya, musik di dalam gereja harus searah dengan semangat Gereja yakni membuat perayaan liturgi lebih meriah dan agung. “Kelompok ini memilih visi memperkenalkan musik Gereja, dalam hal ini Musik Liturgi kepada siapa saja, terutama orang muda,” ujarnya.

Lebih lanjut Odil mengatakan, membentuk karakter Musik Liturgi tidaklah mudah. Perlu kerja keras. Dibutuhkan latihan terus menerus dan komitmen setiap anggota.

Odil bersyukur mengingat Paroki Katedral sangat mendukung seluruh program EJID. Sarana dan tempat disediakan paroki.

Anggota paduan suara ini terdiri dari lintas usia, mulai dari 20 hingga 60 tahun. Sebagian besar merupakan kaum muda. Perekrutan anggota biasanya dilakukan dua tahun sekali dengan melewati serangkaian audisi, tes vokal, dan wawancara. Paduan suara yang ‘bermarkas’ di Paroki Kateral ini melakukan latihan dua kali dalam seminggu yakni hari Sabtu pukul 16.00-20.00 dan Minggu pukul 11.00-13.00 WIB. Mereka juga latihan saat mendapat undangan dari luar seperti acara perkawinan, syukuran, atau sebelum konser yang rutin diadakan dua tahun sekali.

Tawaran konser dan lomba seringkali datang kepada paduan suara ini namun mereka tidak mengambil kesempatan itu. “Kami punya agenda sendiri. Kami fokus kepada pelayanan. Lomba lebih bersifat hiburan. Kami merasa kesulitan dari sisi waktu dan teknis. Tugas kami di gereja begitu banyak,” Odil memberi alasan.

Gempuran Musik Profan
Sementara itu, pelatih EJID Vincentius Dermawan mengatakan, lagu-lagu profan merupakan tantangan bagi Musik Liturgi. “Godaan-godaan untuk membawakan lagu-lagu profan selalu muncul setiap saat. Sebagai satu keluarga kami saling meneguhkan agar jangan sampai tergoda,” jelasnya.

Lebih lanjut Vincen — begitu Vincentius Dermawan akrab disapa, membeberkan menghadapi gempuran musik profan perlu menggali komitmen bersama terus menerus.

Selain itu, yang lebih utama, menurutnya, adalah terus mendengarkan suara Gereja sebagai Ibu. Dengan cara seperti itu, kualitas Musik Liturgi akan dibentuk. “Bukan soal jumlah anggota melainkan membangun kualitas musik. Ada yang berpikir bahwa musik Gereja harus meriah dan heboh. Pikiran seperti itu harus dihilangkan,” ujarnya.

Menurut Vincen, mempertahankan tradisi Musik Liturgi butuh tanggung jawab yang besar. “Hal inilah yang selalu ditanamkan kepada anggota EJID. Para aktivis paduan suara Gereja khususnya EJID harus menyadari bahwa kelompok paduan suara merupakan penjaga gawang Musik Liturgi,” paparnya.

Pada dasarnya Musik Liturgi, kata Vincen, dinyanyikan bersama umat yang sedang berziarah kepada-Nya. “Musik Liturgi harus membawa keselamatan bagi umat. Di sinilah letak kekayaan nyanyian liturgis jika benar-benar dihayati. Itu bukan sekadar menyanyi karena syair-syair itu berasal dari perikop Kitab Suci. Dengan demikian, menyanyi berarti mendengarkan sabda, berdoa, dan merenung,” ujarnya.

Bagi EJID, nyanyian adalah doa. “Hal ini sesuai dengan moto EJID, yaitu Qui Bene Cantat, Bis Orat. Moto ini memberarti, siapa yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali,” tuturnya.

Wadah Belajar
Setiap anggota paduan suara memiliki karakter masing-masing. Sebelum menjadi anggota tetap paduan suara ini, setiap anggota memiliki aliran musik. Perbedaan tersebut tentu saja tidak mudah untuk disatukan. Meskipun demikian masing-masing anggota tetap membangun komitmen untuk mempelajari Musik Liturgi.

Odil menjabarkan EJID, untuk menyelaraskan perbedaan itu butuh keterbukaan untuk saling mempelajari satu sama lain. “Musik Liturgi bukan sekadar musik melainkan memiliki nilai-nilai. Maka kami menyelam ke dalam Musik Liturgi ini,” urainya.

Menurut Odil, sebagai khazanah Gereja Katolik, Musik Liturgi memiliki nilai yang begitu tinggi sehinga harus benar-benar dipahami. Musik Liturgi memiliki nilai sejarah, sabda, doa hingga pesan moral.

“Musik Liturgi seringkali dinilai sangat membosankan oleh banyak orang. Sampai-sampai banyak yang mencoba menggantinya dengan lagu-lagu pop, musik yang meriah dan teriak-teriak di gereja. Ini karena tidak belajar dan kurangnya keterbukaan,” beber Odil.

Pendapat senada disampaikan Vincen. Ia menambahkan melencengnya praktik liturgi ini disebabkan karena banyak orang tidak memahami Musik Liturgi. Selain itu, terdapat sifat pasif umat untuk tidak terlibat dalam nyanyian liturgi saat ibadah berlangsung.

Menurut Vincen, nyanyi saja tidak cukup tetapi perlu meresapi dan mendalaminya. “Itu juga menjadi spirit kami. Kami tidak hanya sebatas bernyanyi tetapi belajar Musik Liturgi, prinsip liturgi harus seperti apa. Saya selalu menyarankan kepada setiap orang untuk menyesuaikan diri dengan petunjuk liturgi. Jadi, Paduan Suara EJID menjadi wadah belajar tanpa ada kata akhir,” imbuhnya.

Willy Matrona

HIDUP NO.10 2019, 10 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here