Melongok Jendela Surgawi

85
Seorang umat menghormati ikon yang terdapat di dalam Gereja Ortodoks Epifani Suci.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ikonografi bukanlah fotografi, juga bukan lukisan. Ikon adalah sebuah jendela dari surga. Dengannya umat bisa melihat surgawi dan hadir dalam peristiwa tersebut.

Ikon merupakan gambar suci untuk melukiskan citra Tuhan. Kata ikon berasal dari bahasa Yunani eikon, berarti: rupa atau gambar. Kata ikon ditemukan dalam Kitab Kejadian 1:26-27 dan Kolese 1:15.

Ikon berasal dari Gereja-gereja Timur dan berkembang di sana. Ikon memiliki tempat istimewa dalam kehidupan dan ibadat Gereja Timur. Ikon menghiasi gereja dan kediaman umat Kristen Timur. Di rumah, ikon ditempatkan pada posisi terhormat, sering kali berada di pojok ruangan disertai dengan lampu yang menyala.

Di pojok ikon atau pojok bercahaya itu, umat Kristen Timur mencium ikon, membuat tanda salib, membungkuk, atau bersujud. Ketika sebuah keluarga berdoa sebelum makan, mereka tak bergandengan tangan atau menundukkan kepala di sekitar meja. Mereka berbalik dan menghadap ikon.

Bukan Karya Seni
Gereja Timur tak melihat ikon sebagai karya seni, melainkan karya doa dan teologi. Imam Gereja Katolik Ukraina dari Tradisi Byzantin, Pastor Olexander Bohun-Kenez mengatakan, seorang ikonografer adalah orang yang memuji Tuhan dengan tangannya. “Menulis ikon bukan sesuatu yang ingin dia (ikonografer) lakukan, tetapi sesuatu yang Tuhan katakan kepadanya untuk dilakukan,” ujar Pastor Olex, sapaannya, pertengahan Februari lalu.

Dalam Gereja Timur, ikonografer dipandang sebagai teolog. Hanya seorang yang hidup dalam tradisi yang dapat membuat ikon asli. Sang seniman mengawali karya ikonnya dengan doa dan puasa. Saat selesai, ikon dibawa ke gereja, ditempatkan di atas meja suci bersama Injil, di mana benda tersebut dikuduskan oleh doa dan “dibenamkan” dalam Liturgi Ilahi.

Terkadang, ikon diurapi dengan minyak dan direciki dengan air suci sebelum digunakan di gereja atau di rumah. Ikon bagi umat Kristen Timur memberi pengajaran iman kepada semua indera.

Pemimpin Gereja Ortodoks Koptik di Indonesia, Pastor John Edward, mengatakan, meskipun umat memberi penghormatan terhadap ikon, bukan berarti benda tersebut dimaksudkan untuk disembah atau dihormati sebagai sesuatu yang suci dalam diri ikon itu sendiri. “Bukan ikon yang kita hormati, melainkan orang atau peristiwa yang digambarkannya,” katanya.

Ikon, tambah imam kelahiran Mesir, dianalogikan seperti jendela. Sehingga umat bisa melihat dunia spiritual dan membantu untuk merenungkan peristiwa dalam Kitab Suci, Yesus, serta para kudus.

Pastor John membeberkan, ikon Ortodoks Koptik memiliki simbol dan makna tertentu. Misal, figur dalam ikon Koptik kerap ditulis dengan kepala besar, artinya individu itu dikhususkan untuk kontemplasi dan doa. Selain itu, mata figur ikon juga ditulis besar dan lebar. Ini melambangkan mata spiritual yang sanggup melihat melampaui dunia material. Dalam Kitab Suci tertulis, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu.” (Mat. 6:22).

Pada ikon figur, mata orang kudus hanya tertuju kepada orang yang melihat ikon tersebut. Namun, untuk ikon peristiwa, misalnya kisah perumpamaan dalam Injil, hal ini tidak diharuskan.

Selain itu, telinga figur berukuran besar dimaksudkan untuk mendengarkan firman Tuhan. “Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Mrk. 4:23). Seseorang yang hidupnya saleh, menurut Pastor John, menghabiskan lebih banyak waktunya untuk mendengarkan firman Tuhan dan berusaha melakukan kehendak-Nya.

Tak Menghadirkan Emosi
Semua ikon dalam Gereja Katolik Byzantin pun tak ada satupun figur orang kudus yang tersenyum atau terbuka mulutnya. Selain tak menghadirkan emosi, ikon adalah gambaran orang kudus yang berada di surga, sehingga mulutnya terkatup. Ini merupakan ajakan agar umat tidak ngobrol saat berdoa.

Penggambaran simbol-simbol tubuh yang tak lazim ini, oleh Pastor Olex dikatakan karena ikonografi bukanlah fotografi, juga bukan lukisan. Corak ikon begitu unik, sama sekali tak menampilkan sesuatu secara riil jika dilihat dalam cara pandang biasa. Bentuk, ukuran, dan warna ikon tidak realistis. Tanpa latar belakang khusus atau keterangan, orang mungkin takkan mengenal siapa atau apa sebenarnya yang ditulis dalam ikon tersebut.

Hampir segala sesuatu di dalam ikon memiliki aspek simbolis. Misal, Yesus, orang-orang kudus, dan para malaikat memiliki nimbus atau lingkaran cahaya di kepala. Malaikat (dan seringkali Yohanes Pembaptis) memiliki sayap karena mereka adalah pembawa pesan.

Dalam ikon-ikon Gereja Timur, figur dalam ikon memiliki penampilan wajah yang tegas, memegang atribut atau simbol pribadi, dan menggunakan beberapa pose konvensional.

Selain ciri khas sang figur, ikon juga harus memiliki enkripsi atau keterangan.

Simbol warna memainkan peran penting. Emas melambangkan pancaran surgawi dan merah adalah kehidupan ilahi. Biru adalah warna kehidupan termasuk manusia, sementara putih adalah cahaya Tuhan. Warna ini hanya digunakan untuk kebangkitan dan transfigurasi Kristus.

Warna lain yang kerap digunakan dalam ikon adalah hijau. Warna ini mengacu pada kehidupan baru. Jingga berarti semangat. Warna ini dipakai untuk menulis ikon para martir. Sedangkan hitam bermakna kesedihan dan kematian.

Pernyataan Iman
Gereja Ortodoks, menurut Pastor Gabriel Rehatta, melihat ikon sebagai kredo, pernyataan iman, bahwa Allah menjadi manusia. Mengutip pernyataan uskup sekaligus teolog Ortodoks, Kallistos Ware, Pastor Gabriel mengatakan, orang Kristen harus melihat ikon seperti Kitab Suci. Saat membaca Kitab Suci, menimbulkan iman. Begitu pun terhadap ikon. Sewaktu melihat ikon, kita hadir secara rohani dalam peristiwa Yesus atau orang kudus dalam ikon tersebut. Sementara, St Yohanes dari Damaskus, lanjut Pastor Gabriel, melihat ikon sebagai sebuah jendela dari surga. Dengannya umat bisa melihat surgawi dan hadir dalam peristiwa tersebut.

Lantaran ikon merupakan pernyataan iman. Ikon tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Penulisan ikon memiliki kanon. Tak ada ruang menduga-duga. Karena itu, tiap ikon harus memiliki keterangan, entah peristiwa atau nama figur dalam ikon tersebut.

Pada hari Minggu pertama masa Prapaskah, ujar Pastor Gabriel, Gereja-gereja Timur merayakan Minggu Ortodoksi. Perayaan ini memperingati kemenangan Gereja terhadap bidaah ikonoklasme dan bidaah-bidaah lain. “Umat akan membawa ikon dari rumah. Dan ada perarakan ikon dalam perayaan tersebut,” ujarnya, saat ditemui di Gereja Ortodoks Epifani Suci Jatiwaringin, Jakarta Timur.

Hermina Wulohering/Yanuari Marwanto

HIDUP NO.11 2019, 17 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here