Kisah Aegidius d’Abreu, SJ, Misionaris dan Martir di Batavia

303
Sisa peninggalan Kastil Batavia. [Dok.http://jacatra.blogspot.com]
Kisah Aegidius d’Abreu, SJ, Misionaris dan Martir di Batavia
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comDokumentasi sejarah umat Katolik di Batavia (saat ini Jakarta-red.) selama masa penjajahan Belanda tidak mudah ditemukan, sehingga cukup sulit untuk mengetahui aktivitas pada saat itu.

Namun, sejarah umat Katolik pada era VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1619 – 1799 di Batavia merupakan hal yang menarik untuk diketahui. Berawal dari Gubernur VOC, Jenderal Jan Pieterzoon Coen menguasai kota Jayakarta, lalu membangun kembali dengan nama Batavia pada bulan Mei 1619.

Di dalam benteng pertama itu, pernah dilangsungkan perjamuan suci untuk pertama kali di Asia pada tanggal 3 Januari 1621.

Sisa peninggalan Kastil Batavia. [Dok.http://jacatra.blogspot.com]
Sebelumnya, hanya Gereja Reformasi yang diizinkan melakukan ibadat dan kegiatan kerohanian. Sedangkan umat Katolik tidak diberi izin untuk berkumpul bersama dan berdoa, karena dilarang keras oleh VOC.

Mengapa VOC tidak mengizinkan umat Katolik beribadat? Umat Katolik yang berlayar menggunakan kapal Portugis, ditangkap, dan dibuang ke laut. Mengapa hal ini bisa terjadi?

VOC pertama kali didirikan untuk merampas monopoli cengkeh serta lada dari Portugal. Raja Spanyol Philip yang juga merupakan Raja Portugal adalah musuh besar bagi Belanda. Oleh karena itu, seluruh benteng dan kantor perdagangan milik Portugis di India, Sri Lanka, Melayu, dan Maluku direbut oleh VOC.

Tawanan dan budak-belian yang menggali parit di Batavia. [Dok.”200 tahun Gereja Katolik di Jakarta”]
Akibat penyerangan yang dilakukan VOC, banyak orang Portugis yang beragama Katolik
ditangkap dan ditawan di Batavia.

Bahkan ada yang dijadikan budak untuk membangun kota Batavia. VOC juga membajak kapal dan merampok barang berharga dari orang Portugis dan Spanyol. Hal ini yang membuat kondisi kedua negara itu lemah.

Kisah Seorang Martir 
Di Selat Singapura, VOC merompak kapal Portugis pada tahun 1622. Di dalam kapal itu ada Aegidius d’Abreu, SJ. Aegidius atau Gil d’Abreu dilahirkan di Villa do Campo Maior – Alentejo, Portugal pada tahun 1593.

Pater Jesuit muda ini kemudian ditahan oleh VOC di Batavia. Ketika di penjara, d’Abreu bertemu dengan seorang imam dan bruder dari Ordo Dominikan.

Suatu waktu, d’Abreu berlayar ke Goa dan belajar teologi. Pada tahun 1618, usai menyelesaikan studinya, ia ditahbiskan sebagai imam. Kemudian Gil d’Abreu diutus ke Jepang sebagai misionaris pada tahun 1620. Namun saat pelayaran di Selat Singapura, ia ditangkap dan ditahan di Batavia.

Awal mula di Batavia, d’Abreu masih diizinkan mengunjungi penganut Katolik di empat penjara yang ada di kota tersebut. Ia mulai memimpin kegiatan kerohanian seperti pengakuan dosa dan misa bersama. Tidak hanya itu, di luar tembok ada sebuah rumah gedek dimana tersimpan air yang sudah diberkati. Air ini dibagikan kepada umat Katolik, namun dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Penyalinan rangkuman tentang wafatnya Pater Gil d’Abreau. [Dok.”200 tahun Gereja Katolik di Jakarta”]
VOC tidak mencegah kegiatan d’Abreu, dengan tujuan agar para tawanan tetap tenang dan
tidak melarikan diri. Bagi VOC, tenaga para tawanan sangat dibutuhkan untuk membangun kota.

Meski demikian, VOC juga kesulitan menjaga penjara, karena jumlah tawanan yang sangat banyak, sementara orang Belanda jumlahnya sedikit. Pada akhirnya, kegiatan d’Abreu dilarang. Ia dimasukkan ke dalam ruang terkunci yang bahkan tidak ada ventilasi sama sekali.

Menolak Melarikan Diri

Cap Gereja Reformasi Batavia. [Dok.”200 tahun Gereja Katolik di Jakarta”]
Selama di dalam penjara, d’Abreu dan imam Dominikan merayakan ibadat bersama tawanan Katolik lainnya.

Lama-kelamaan, kegiatan ini diketahui juga oleh sipir penjara. Kedua orang ini dimarahi dan dipukul. Pekerjaan mereka bertambah berat, bahkan jatah makanan dikurangi.

Tidak tahan akan kondisi tersebut, imam Dominikan itu meninggal dunia. Ada beberapa tawanan yang ingin melarikan diri, juga mengajak d’Abreu, namun ditolak olehnya. Alasan d’Abreu tidak ingin ikut, karena masih banyak tawanan Katolik lainnya yang tidak dapat melarikan diri.

Bagi d’Abreu, ia bersedia mati di penjara Belanda. Dalam kondisi disiksa dan menerima pukulan yang kejam, ditambah pekerjaan yang berat dan kurangnya asupan makanan, d’Abreu akhirnya meninggal dunia pada Maret 1624.

 

Sumber: Adolf Heuken, SJ “200 tahun Gereja Katolik di Jakarta”
Henky Honggo


Dilansir dari sumber lain di laman https://vdokumen.com, dalam perjalanan dari Goa ke Jepang, dikisahkan Pater Aedigus d’Abreu, SJ (1624) disergap oleh sebuah kapal Belanda di Selat Singapura dan kemudian dibawa ke Batavia.

Dalam penjara di kota ini telah ditahan beberapa biarawan dan imam. Dari antara mereka beberapa sudah meninggal akibat pukulan kejam para penjaga. Pada mulanya Pater d’Abreu diam-diam dapat mengunjungi emapt penjara lain di dalam kota, bahkan berhasil mendirikan tiga kapel darurat di luar kota.

Pada waktu itu hampir 3000 orang Katolik di Batavia tidak mendapat pemeliharaan jiwa sedikitpun. Sebab, Gubernur JP Coen mengancam hukuman berat bagi setiap imam yang berani memberikan sakramen-sakramen atau pelajaran agama kepada orang Katolik mana pun juga.

Sesudah tindakan yang berani Pater d’Abreu itu diketahui oleh pemerintah Belanda. Ia dijaga lebih ketat. Akan tetapi bersama dengan seorang imam Dominikan yang juga ditahan, Pater dAbreu di waktu malam mempersembahkan Misa Kudus dan tiga kali meninggalkan penjara secara sembunyi-sembunyi untuk mememelihara umat.

Akibatnya, tempat sembahyang dihancurkan, dua imam disiksa dengan kejam dan dipaksa bekerja kasar, sementara jatah makan dikurangi. Ketika diajak melarikan diri oleh para tahanan lain, Pater dAbreu menolak.

Ia ingin tetap membantu tahanan Katolik yang tek berdaya meloloskan diri. Sesudah dua tahun, pada bulan Maret 1624, Pater dAbreu meninggal karena dipukuli oleh para penjaga. Sayang tak seorang pun mengetahui dimana saksi iman Kristen dari Jakarta itu dimakamkan. (Salah satu dari Orang-orang Kudus/ Martir di Indonesia)

Sementara dalam catatan lainnya di laman sejarahlengkap.com, dikisahkan pula para imam Katolik diancam hukuman mati jika ketahuan menyebarkan ajarannya di walayah kekuasaan VOC.

Pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tahun 1624, Pastor Egidius d’Abreu SJ dibunuh di Kastel Batavia karena ketahuan mengajarkan agama Katolik dan juga mengadakan perayaan Misa Kudus di penjara.

 

Editor: Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here