Doa Tiga Waktu

526
Keluarga Emanuel Sae melakukan Doa Angelus bersama di Taman Doa Maria St Yohanes Penginjil Blok B, Kebayoran, Jakarta Selatan.
[HIDUP/Marchella A. Vieba]
Doa Tiga Waktu
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Angelus sekaligus menjadi devosi menghormati penjelmaan Tuhan menjadi manusia. Dari sini, umat pelan-pelan berusaha menggapai kesucian.

Doa Malaikat Tuhan, atau biasa disebut dengan Doa Angelus, rasanya sudah terlalu akrab bagi siswa di SMP Strada Budi Luhur Bekasi, Jawa Barat. Sudah sejak lama tradisi ini dijalankan hingga hari ini.

Seiring waktu, ada perkembangan yang dilakukan dalam melakukan Doa Angelus ini. Tak hanya dalam Bahasa Indonesia, doa yang didaraskan setiap jam 12 siang ini dilafalkan B ahasa Inggris dan Sunda. Karena sekolah berada di dalam Provinsi Jawa Barat, alhasil siswa juga berdoa dalam bahasa itu.

Setiap hari di SMP Strada, Doa Angelus dibacakan secara bergantian. Setiap hari mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Anak-anak diberikan lembaran teks doa berbahasa Sunda agar bisa bersama-sama mendaraskan doa. Dengan begitu, siswa dapat berdoa sekaligus melestarikan budaya.

Budaya Doa
Dengan Doa Angelus, anak-anak dibiasakan untuk membiasakan diri dengan budaya doa. Guru Agama Katolik, Robertus Andi Nurcahyo menjelaskan, kalau saudara Islam punya salat lima waktu, umat Katolik punya tradisi Doa Angelus yang baik. “Kalau tidak di sekolah, di mana lagi, mungkin di rumah pun jarang,” ungkapnya.

Kepala Sekolah SMP Strada Budi Luhur, Rosa Endah Budi Lestari menuturkan, kebijakan praktek Doa Angelus memang sudah dilakukan lama. Ini sangat penting agar murid mengetahui tradisi Gereja Katolik, bahwa ada Doa Angelus yang cukup kuat. “Kami sebagai sekolah Katolik pastinya menanamkan nilai-nilai Katolik. Salah satunya lewat tradisi Doa Angelus yang kami lakukan setiap jam 12 siang,” terangnya.

Menurut Rosa, dengan Doa Angelus, siswa diingatkan untuk berhenti sejenak, merenung, dan mendekatkan diri pada Tuhan. Doa Angelus yang bila dirapalkan mungkin tidak sampai lima menit, menjadi saat hening bagi orang Katolik. Ia mengatakan, tantangan yang ada yaitu apakah mereka betul-betul meresapi, menghormati dan melakukan doa dengan sungguh atau tidak.

Baik Andi maupun Rosa berharap agar tradisi ini terus berjalan dan menjadi kebiasaan baik yang tertanam dalam diri muridnya. “Kita menghidupkan tradisi doa Katolik. Anak-anak dan guru mempunyai waktu hening, berhenti sejenak dari aktivitasnya. Pun di luar sekolah mereka bisa melakukan dengan kesadaran sendiri,” tutur Rosa.

Turun Temurun
Saat libur panjang sekolah, Zakarias Mario Da Silva diajak berlibur ke kampung halaman orang tuanya di Flores. Bertandang ke rumah sang oma, Zam, demikian ia disapa, kala itu masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar melihat rutinitas doa yang dijalankan oleh keluarganya di sana. Mau tak mau Zam pun harus terbiasa mengikuti kebiasaan itu, secara khusus Doa Angelus. “Rumah oma itu di samping gereja. Setiap lonceng berbunyi di jam enam dan jam 12 itu kita langsung diajak berdoa Angelus,” kenangnya.

Zam mengaku, dulu ia masih enggan melakukan kebiasaan tersebut karena jenuh melakukan Doa Angelus setiap hari selama ia berlibur di sana. Sekembalinya ke Jakarta, justru menumbuhkan rasa rindu akan kebiasaan berdoa Angelus. Melihat kerinduan sang anak terhadap Doa Angelus bersama, maka sang ibu, Ernastina De Rozari menyambut baik keinginan anaknya. Ia membeli lonceng kecil agar bisa merasakan hal yang sama seperti di kampungnya. “Kita jadi rajin melakukan Doa Angelus di rumah bersama. Misalnya jam enam pagi, berebutan untuk bunyikan lonceng, dan Doa Angelus bersama, baru bersiap mandi untuk ke sekolah,” kisah Zam.

Erna berkata, ia pun diperkenalkan Doa Angelus dari orangtuanya yang sudah rutin mempraktekan doa tersebut. Orangtuanya memang mengajarkan kepada Erna agar terbiasa berdoa. Dari mulai jam enam pagi, usai melakukan Doa Angelus, mereka sudah harus ada di gereja yang berada di sebelah rumahnya untuk mengikuti Misa pagi. Jam 12 siang mereka kembali berdoa Angelus dilanjutkan dengan rosario. Jam tiga sore mereka kembali berkumpul untuk koronka. Setelah itu, mereka bertemu lagi jam enam sore mereka kembali berdoa Angelus, dan seterusnya. “Memang kebiasaan kami seperti itu. karena bagi mama saya, hidup dengan doa itu semuanya bisa dijalankan dengan baik. Apabila sakit, bisa kuat dan bertahan karena doa. Dan kami melakukan itu,” ungkapnya.

Kebiasaan hidup doa tersebut akhirnya menjadi warisan turun temurun yang ditularkan kembali kepada anak-anaknya. Keluarga mereka pun aktif terlibat dalam berbagai kegiatan gereja. Lebih lagi seorang dari empat anaknya sudah mengucap kaul kekal dalam Ordo Fransiskan (Ordo Fratrum Minorum/OFM). “Harapannya dengan sering mengucap Doa Angelus itu, semakin mengingat karya Yesus, penyertaan Yesus, karya Bunda Maria sebagai perantara kita juga selalu teringat, tertuang dan berusaha hidup seperti mereka.”

Hingga dewasa kini, kebiasaan itu terus hidup dan dilakukan, meski tidak selalu bersama di rumah karena kegiatan masing-masing. Zam tak menampik, bahwa sesekali ia melewatkan Doa Angelus. Namun sebisa mungkin, ia pasti mempunyai waktu untuk melakukan Doa Angelus. “Karena kalau ga dilakukan (Doa Angelus) itu rasanya ada yang kurang,” tegas Zam.

Keluarga Emanuel Sae menekuni Doa Angelus sebagai rutinitas dalam keluarga sejak tahun 2016. Kepulangan sang ibu menjadi titik balik bagi Eman. Sejak di tinggal ibunya, ia setia berdoa Angelus. Ayah dari tiga anak ini menuturkan, bahwa dalam keluarganya memang dibiasakan untuk doa bersama dengan mengajak anak-anaknya.

Setiap jam enam pagi, mereka mendaraskan Doa Angelus bersama-sama. Sedangkan pada jam 12 siang, Eman pribadi menepikan diri untuk melakukan Doa Angelus secara pribadi, sedangkan anak-anaknya melakukan Doa Angelus di sekolah. “Mereka sekolah di sekolah Katolik dan di sana kan ada juga Doa Angelus setiap jam 12, jadi mereka tetap melakukan. Nanti sore jam enam baru kami kembali doa bersama, dilanjutkan dengan membaca Kitab Suci,” jelas umat Paroki St Yohanes Penginjil Blok B, Keuskupan Agung Jakarta ini.

Anak sulungnya, Laurensia Amelia Septi Anggira Sae yang duduk di kelas 10 SMK Tarakanita mengungkapkan, Doa Angelus ini memang sudah dikenalnya sejak SD. Ia ingat, kebiasaan Doa Angelus di rumah dilakukan karena ajakan ayahnya. Ia mengaku, awalnya karena terpaksa, kemudian menjadi terbiasa dan terus dilakukan dengan kesadaran sendiri. “Jadi udah tergerak aja kalau sudah jam nya ya Doa Angelus. Doa rutin yang ada jamnya dan mengingatkan kepada Tuhan,” ucap Amel.

Kepulangan sang istri empat bulan yang lalu ke hadapan Bapa menjadi pukulan yang berat bagi Eman dan keluarga. Namun, ini tak menyurutkan tradisi keluarga untuk tetap mendaraskan Doa Angelus. “Semoga ini tidak habis, sampai anak-anak berkeluarga juga diteruskan, terbina dari sekarang dan nanti diajarkan kembali ke anak-anak mereka,” tandas Eman.

Menguatkan dan Mengingatkan
Sebagai Dominikan Awam, Theo A. Atmadi OP kerap mendaraskan Doa Angelus dalam tiga waktu. Pagi hari bersamaan dengan ibadat pagi (laudes) siang pada jam 12, dan sore bersama dengan ibadat sore (vesper). Ia mengenal Doa Angelus secara rutin sejak SMA, di mana sekolah mengajak siswanya mendoakan Angelus di siang hari. ketika dirinya bergabung dalam Persaudaraan Dominikan Awam, doa ini semakin rutin didaraskan karena bersamaan dengan doa mendoakan ibadat harian.

“Doa Angelus terasa menguatkan dan mengingatkan kita bahwa Tuhan dan Bunda Maria menyertai kita,” kata Theo. Mendoakan Angelus mengalami rasa kedekatan kepada Tuhan. Koordinator Nasional Persaudaraan Dominikan Awam di Indonesia ini menjelaskan bahwa tradisi Doa Angelus memang dipelihara terutama dalam persaudaraan dominikan awam. Istrinya, yang adalah anggota dominikan awam, juga melakukan hal yang sama. Rutinitas itu kemudian menular di dalam rumah dengan sendirinya.

Theo berharap, semoga semakin banyak umat Katolik mendoakan Angelus. Doa ini akan mengingatkan pada kemurahan hati Yesus dan kerendahan hati Bunda Maria.

Doa Angelus juga telah menjadi bagian dari kehidupan Biara St Antonius Padua Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Frater Gabriel Rionaldi Emar OFM mengutarakan, ia bangga sebab Doa Angelus berasal dari tradisi Fransiskan. “Saya bersyukur mendaraskan doa angelus karena St Fransiskus juga pernah mendoakannya,” ujarnya.

Sebagai bentuk rasa syukur itu, Frater Aldi, melaksanakan Doa Angelus tak hanya bersama dengan komunitas, tetapi juga secara pribadi terutama ketika ia sedang berada di luar biara.

Baginya, madah doa Bunda Maria “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” dalam Doa Angelus menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menghidupi panggilannya sebagai kaum religius. “Fiat bunda Maria menempatkan saya untuk senantiasa berusaha menanggapi dan mengikuti kehendak Tuhan. Hal ini yang terus mengingatkan saya ketika hidup saya mulai melenceng dari cara hidup Fransiskan,” ungkapnya.

Frater Markus Laba Hadjon OFM yang tinggal di Biara Don Scotus Kampung Ambon, Jakarta Timur mengaku terkesima dengan pengenangan inkarnasi dalam Doa Angelus. “Saya merasa amazing ketika memaknai kehadiran Yesus ke dunia dalam wujud manusia. Jadi Ia benar-benar 100% Allah 100% manusia, wow,” ungkapnya.

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan bagi Frater Markus. Hal itu ia teladani dari Fransiskus sendiri yang menyatakan harus menghidupi doa dan menjadi doa itu sendiri. Doa akan menjadi suatu realita ketika secara benar menghidupinya dalam tindakan. “Semua doa, khususnya Angelus dapat membantu memberikan kesadaran untuk menyadari kelebihan dan kekurangan kita dihadapan Allah.”

Marchella A. Vieba
Laporan: Felicia P. Hanggu, Gloria P. Hanggu

HIDUP NO.12 2019, 24 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here