Setan dan Dosa

179
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mengapa setan mencobai manusia dan apa urusannya dengan manusia? Seringkali juga manusia mempersalahkan setan dalam setiap kesalahannya, apakah ini benar?

Puji, Magelang, Jawa Tengah

Kisah setan si penggoda dapat kita temui banyak dalam Kitab Suci, mulai dari kisah Adam dan Hawa (lih. Kej. 3) sampai dengan Yesus (lih. Mat 4:1 dan paralelnya). Dalam Kisah Kejadian tersirat sebuah pertanyaan dasar mengenai asal-usul dosa, dari mana datangnya. Jawaban dari Kejadian adalah demikian: “di luar manusia memang ada sebuah ‘kekuatan kuasa’ yang bisa menyesatkan, menggodai, dan menjerumuskan, tetapi akhirnya dosa sungguh-sungguh tergantung dari kebebasan manusia untuk memutuskan, apakah mau melawan Allah atau tetap setia kepada-Nya.”

Di dalam Kejadian, kekuatan itu dipersonifikasikan dalam sosok ular, si Iblis. Dia menyesatkan Adam dan Hawa dengan gambaran Allah pencemburu, yang mengekang kebebasan manusia dengan larangan. Sebagai gantinya dibangkitkanlah hasrat untuk menjadi sama dengan Allah. “Digoda oleh setan, manusia membiarkan kepercayaan akan Penciptanya mati di dalam hatinya, menyalahgunakan kebebasannya dan tidak mematuhi perintah Allah. Di situlah terletak dosa pertama manusia” (KGK 397).

Setan atau iblis dimengerti dalam Kitab Suci sebagai malaikat yang jatuh, karena dalam kebebasannya sebagai mahluk rohani, ia memilih menolak Allah dan kerajaan-Nya secara tetap (KGK 392). Setan membenci Allah dan tidak menghendaki baik Allah maupun kerajaan-Nya. Ia juga tidak ingin makhluk lain masuk ke dalam kerajaan Allah. Karena itu selain pemberontak, setan juga pengganggu semua rencana Allah. Karena kebenciannya, ia bekerja melawan Kerajaan Allah yang berlandaskan Yesus (lih. KGK 395).

Itulah alasan mengapa setan selalu berusaha menyesatkan manusia. Bahkan Yesus tidak luput dari pencobaannya. Setan ingin menggagalkan semua rencana Allah. Dikatakan setan adalah “pendosa dari awal” (1 Yoh 3:8), “bapa segala dusta” (Yoh 8:44). Sebagai roh, kekuatannya juga besar, sehingga tipu dayanya kuat. Ia datang bagai malaikat terang, memesona manusia dan mengajak mereka tidak mematuhi Tuhan lagi (bdk. pencobaan pada Yesus).

Tapi bagaimanapun juga, setan hanyalah satu sisi dari realitas dosa. Di sisi lain ada kebebasan manusia dan kekuatan rahmat. Karena itu untuk pertanyaan kedua: “Pantaskah kita menyalahkan setan dalam setiap dosa kita?” hendaklah kita bertanya balik: ke manakah kebebasan kita?

Yang membuat kita berdosa bukan hanya godaannya saja, tetapi juga kebebasan kita untuk melawan godaan itu. Lagi pula setan tidak hanya menggodai kita dalam sosok tertentu yang menakutkan atau memikat saja, tetapi juga melalui pengaruh kuasa jahat yang menjerat.

Jadi istilah setan bisa juga menunjuk pada kuasa jahat itu sendiri. Oleh taktiknya yang halus dan lihai, manusia bisa terbuai dan menyalahgunakan anugerah Tuhan dalam dirinya. Keinginan dan hasrat kita, yang sebenarnya merupakan anugerah ciptaan, bisa menjadi sekadar nafsu liar. Kepandaian dan idealisme bisa membuat kita hanya ingat diri dan buta akan kasih Tuhan. Begitu pun kebebasan dan hati nurani kita bisa diperlemah dan lumpuh. Bilamana pengaruh itu terjadi, hati nurani tidak bisa lagi menuntun akal budi untuk mencintai dan memuliakan Tuhan.

Pengaruh setan pastilah bisa menyebabkan kita berdosa, tetapi pengaruh itu hanya berefek kalau kita kehilangan kebebasan diri dan kehilangan kekuatan untuk melawannya. Di situlah pentingnya percaya akan Yesus: kedatangan-Nya mengalahkan iblis dan segala kegelapannya. Yesus telah menang atas Iblis; orang berimanyang telah memilih Kristus menang juga atas Iblis itu.

Gregorius Hertanto MSC

HIDUP NO.12 2019, 24 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here