Paroki St Antonius Padua Bidaracina : Mendulang Ilmu Masa Lalu

360
Dari kiri ke kanan: Andreas Firman, Lucy Iskandar dan Helena Sukotjo.
Paroki St Antonius Padua Bidaracina : Mendulang Ilmu Masa Lalu
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Paroki ini pernah dinobatkan sebagai Putera Altar (PA) dengan jumlah terbanyak se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) bahkan dunia.

Sepucuk surat resmi berstempel lambang Kepausan datang ke KAJ. Isi surat itu meminta Putera Altar Paroki St Antonius Padua Bidaracina, Jakarta Timur, melayani Misa Akbar Paus Paulus Yohanes II saat mengunjungi Indonesia tahun 1989. Alangkah bahagianya wajah pembina PA, Bruder Stephanus Sumardi SCJ kala itu. “Ini kebanggaan bagi kami, kapan lagi bisa melayani Paus,” ungkap Andreas Firman, anak didik Bruder Sumardi yang turut dalam pelayanan kelompok 100 untuk melayani Misa Akbar Paus.

Selain itu, Bruder Sumardi menerima sebuah surat lain yang menyatakan PA Paroki Bidaracina adalah PA dengan jumlah terbanyak di seluruh dunia pada saat itu. Pada buku kenangan 75 tahun paroki ini, dituliskan, di era 1980-an hingga awal 1990-an PA mencapai 375 orang. Anggotanya dimulai dari siswa yang duduk di kelas V SD hingga bangku kuliah. Besarnya jumlah anggota memang tidak bisa terlepas dari sosok sang pembina.

Bruder Sumardi adalah sosok yang dikenal tegas dan disiplin. Sosoknya yang penuh karisma membuat banyak anak ingin selalu dekat dengannya. Firman menuturkan, pola pembinaan khas Bruder Sumardi menjadi salah satu sumbangsih berkembangnya PA saat itu. Bruder Sumardi adalah seorang biarawan, katekis, ayah, dan sahabat. Ia selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat berkumpulnya para PA di luar gereja. Namun, hal yang paling membekas bagi Firman adalah ketika sang bruder memintanya mengajar adik angkatannya. Semula ia berpikir untuk mengajar hal teknis seputar pelayanan altar, namun betapa kagetnya Firman ketika bruder meninggalkan buku saku berjudul ‘Budi Pekerti’. Dalam buku itu ditunjukkan cara bagaimana menerima telepon yang baik, bertamu, tata krama di meja makan, dan berbicara kepada orang yang lebih tua, muda, dan sebaya.

Bagi Bruder Sumardi, PA harus mendapat bimbingan yang komprehensif baik teori dan praktik. Para PA diajarkan budi pekerti agar menjadi pribadi baik yang berbudi luhur bukan semata untuk membuka kerinduan panggilan menjadi imam. “Ketika dia sudah menjadi dewasa, ketika dia berkeluarga, dia akan menjadi seorang ayah yang baik dalam keluarga, ketika dia bekerja dia akan menjadi karyawan yang baik dalam perusahaannya, bahwa kebetulan ada yang menjadi imam di antara anak-anak itu adalah panggilan dan bukan karena diarahkan,” imbuh Firman.

Kedua ibu yang anaknya pernah bergabung menjadi PA, Helena Sukotjo dan Lucy Iskandar mengaku bersyukur anaknya bisa bergabung dalam misdinar. Firman juga berpendapat bahwa wadah misdinar adalah wadah paling krusial karena di rentang usia 8 hingga 17 tahun anak berada pada masa penyerapan untuk belajar segala hal. Untuk itu, misdinar menjadi wadah yang cocok untuk menyerap segala yang baik agar mampu mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas tetapi juga berbudi. “Buah pendidikan PA itu bisa dirasakan sekarang di mana banyak dari mereka yang menjadi aktivis paroki dan sebagian menjadi imam,” tutur Firman.

Kini, PA paroki ini telah menerima Puteri Altar sejak 2004. Di atas kertas, demografi anak muda per tahun 2016 paroki ini terhitung lumayan. Namun akibat kesibukan generasi milenial dan generasi z yang berbeda dengan generasi sebelumnya, membuat minat tak sebesar dulu. Meskipun jumlah PA tidak sebesar dulu namun semangat PA paroki ini patut diacungi jempol. Mereka tetap meluangkan waktu untuk berlatih walaupun pada malam hari. Pembina, Ampri Pratikno berharap kualitas dan kuantitas PA terus bertambah dan berkembang. “Para alumni pun dapat terus aktif mewarnai pelayanan liturgi,” tandasnya.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.10 2019, 10 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here