Refleksi Injili atas Hak Milik

23
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kita sering mendengar berbagai ajakan dan ajaran motivator. Isinya bagaimana hidup bahagia. Sebagian besar menawarkan, konsep bahagia bisa dicapai dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang melampaui keperluan dasariah. Banyak motivator yang menuturkan, betapa kita bahagia, jika bisa menikmati perjalanan keliling dunia.

Ada lagi yang berbicara tentang nikmatnya memancing di luar negeri di musim dingin. Motivator lain membanggakan betapa senang memiliki rumah tinggal yang mewah. Semuanya bisa tercapai, jika memiliki kecukupan uang. Kecukupan uang baru bisa kita raih jika kita punya penghasilan yang melebihi orang lain. Kurang lebih begitulah kisah-kisah sukses yang dipaparkan dalam kehidupan.

Alfons Jehadut melalui buku Harta Milik Secara Alkitabiah mengajak kita jeda sejenak dari hidup yang kompetitif ini. Ia menawarkan cara memahami dan memperlakukan harta milik kita secara alkitabiah. “Penting, karena terkait dengan persoalan etis dan religius,” tulisnya.

Kekayaan, kemiskinan, dan pengunaan harta dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, diasumsikan, bahwa komunitas murid-murid Lukas mencakup juga sejumlah orang kaya yang menikmati kemewahan hidup zaman Gereja Perdana. Karenanya, pasti Lukas perlu memberi motivasi kepada orang-orang kaya tersebut, agar suka rela membantu jemaat lain yang miskin dan berkekurangan. Sedang kalangan yang kurang mampu atau miskin, diajak tetap berteguh dalam iman.

Buku ini juga mengupas surat-surat yang dikirim oleh Rasul Paulus, membicarakan pengumpulan sumbangan bagi jemaat miskin di Yerusalem. Paulus menaruh perhatian cukup besar tentang pemanfaatan harta kekayaan orang-orang yang mampu bagi kalangan yang berkekurangan. Hal itu dituangkan dalam surat-suratnya kepada jemaat di Roma (15:25-32), Galatia (2:10), 1 Korintus (16:1-4) dn 2 Korintus (8-9).

Bagian akhir buku ini mencoba menyandingkan gagasan harta milik menurut teologi biblis dengan harta kekayaan menurut konsep mekanisme pasar bebas. Buku ini menjabarkan bahwa pandangan tentang uang dan harta sebagai anugerah Allah, berseberangan dengan ideologi pasar yang mengajarkan keyakinan ‘no free lunch’ dan segala pencapaian adalah imbalan dari kinerja dan hasil produksi yang memadai dari pemanfaatan sumberdaya secara cerdas mau lalui kerja keras. Paham usang tentang uang dan harta sebagai ‘upah atas ketaatan kepada Allah’, dalam ideologi pasar sudah digantikan dengan ganjaran atas produktivitas. Karenanya, ideologi pasar menyingkirkan kaum miskin dan kaum lanjut usia yang dinilai sudah tidak produktif.

Penulis mengulas betapa pandangan, bahwa uang dan harta adalah titipan Allah yang bisa digunakan bagi kebaikan bersama, kini digantikan oleh ideologi pasar yang sepenuhnya beranggapan bahwa uang dan harta adalah milik pribadi yang dapat digunakan bagi pemenuhan kesenangan diri sendiri.

Sejak halaman pertama sampai akhir, buku ini mengajak kita menimbang-nimbang. Setidaknya, kita jadi memikirkan apakah diri kita tergolong orang yang memiliki uang dan harta, atau bukan. Selanjutnya, kita diajak mengevaluasi diri, sejauh mana keterikatan ktia terhadap berhala yang dinamakan uang dan harta.

Judul Buku : Memahami dan Memperlakukan Harta Milik Secara Alkitabiah
Pengarang : Alfons Jehadut
Penerbit : Lembaga Biblika Indonesia, 2019
Tebal : 149 halaman

Albert Kuhon

HIDUP NO.11 2019, 17 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here