Umat Katolik Sri Lanka Ikuti Misa via TV dan Radio

243
Umat Kristen Sri Lanka berdoa di barikade dekat Kuil St. Anthony di Kolombo, ibukota Srilanka pada Minggu (28/4). [Dok.AFP atau pemberi lisensi]
Umat Katolik Sri Lanka Ikuti Misa via TV dan Radio
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comKarena ketakutan akan serangan teror bom membuat gereja-gereja di seluruh Sri Lanka ditutup pada hari Minggu, umat Katolik mengikuti Misa Kudus melalui siaran langsung dari televisi dan radio oleh Kardinal Malcolm Ranjith.

Kekhawatiran akan serangan bom bunuh diri telah menjauhkan umat Kristen dari aktivitas mengikuti perayaan ekaristi (Misa) pada hari Minggu di Sri Lanka. Gereja Katolik telah menangguhkan Misa dan sekolah Minggu hingga kondisi keamanan membaik, pasca serangkaian teror terhadap gereja-gereja dan hotel-hotel kelas atas yang terjadi pada Minggu Paskah (21/4) lalu.

Seminggu setelah bom bunuh diri terjadi pada Minggu Paskah yang telah menewaskan lebih dari 250 jiwa di 3 gereja dan 3 hotel mewah, umat Katolik, dari rumah mereka mengikuti siaran langsung Perayaan Ekaristi melalui televisi dan radio yang diselenggarakan oleh Uskup Agung Kolombo Kardinal Malcolm Ranjith.

Dalam homilinya Kardinal Ranjith menyampaikan, “ini adalah waktu dimana hati kita diuji oleh kehancuran besar yang terjadi pada Minggu lalu,” di hadapan para anggota klerus dan para pemimpin negara itu di sebuah kapel kecil di Kolombo.

“Ini adalah waktu dimana muncul banyak pertanyaan seperti, ‘apakah Tuhan benar-benar mencintai kita, apakah Dia berbelas kasih kepada kita’, dapat muncul dalam hati manusia,” tutur Kardinal Ranjith.

Para pejabat keamanan Sri Lanka telah memperingatkan bahwa kaum militan terkait dengan kelompok Negara Islam yang berada di balik aksi bom bunuh diri 21 April lalu sedang merencanakan serangan dan bisa saja mengenakan seragam.

Baca: https://www.hidupkatolik.com/2019/04/24/35577/ini-pernyataan-sikap-kwi-dan-pgi-terkait-peristiwa-bom-di-sri-lanka/

Gerbang gereja telah ditutup dengan gembok semenjak terjadinya serangan itu.

Semua sekolah di negara ini juga masih ditutup.

Pos pemeriksaan dan operasi militer telah menjadi sangat umum di sebagian besar desa. Pertemuan umum dan layanan keagamaan telah dibatalkan. Langkah-langkah pengamanan yang sulit telah diadopsi oleh lembaga publik dan swasta, disertai dengan petugas keamanan yang memeriksa barang bawaan dan kendaraan.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena telah melarang semua jenis penutup wajah di tempat-tempat umum sebagai tindakan keamanan.

Umat ​​Kristen dan Muslim khawatir mereka akan menjadi sasaran setelah militer memperingatkan akan terjadinya lebih banyak serangan terhadap pusat-pusat keagamaan.

Di distrik Ampara di bagian Timur, yakni tempat terjadinya baku tembak dan ledakan yang menewaskan 15 orang setelah serangan polisi pada Jumat, sejumlah tentara menjaga Gereja Anglikan St. Maria Magdalena.

Sebuah catatan yang ditulis pada gerbang itu menyatakan bahwa gereja dan sekolah akan ditutup sampai Senin, 6 Mei yang akan datang. Sejumlah tentara juga ditempatkan di sisi luar masjid terdekat dari lokasi tersebut.

“Tidak ada yang punya hak untuk membunuh orang yang tidak bersalah,” imbuh Kardinal Ranjith lagi dalam homilinya. “Hentikan pembunuhan ini, atas nama Tuhan. Kehidupan manusia adalah yang paling indah dan kita semua adalah unik,” tandas Kardinal Ranjith.

“Tuhan telah menciptakan manusia bagi orang lain dan setiap orang adalah cerminan dari Tuhan, tetapi kejadian ini adalah suatu penghinaan terhadap umat manusia. Kami berdoa untuk perdamaian dan kehidupan yang saling berdampingan serta saling memahami tanpa pemisahan.”

Banyak orang Sri Lanka percaya, keretakan hubungan yang dalam antara Presiden Sirisena dan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe telah menggerogoti kondisi keamanan nasional.

Berhenti mencari Kesalahan
Uskup Agung Kolombo, yang kedua gerejanya turut mengalami serangan bom, mengkritik pemerintah Sri Lanka karena gagal menindaklanjuti laporan intelijen yang memperingatkan tentang aksi terorisme.

Kardinal Ranjith mengkritik pertengkaran yang terjadi di tingkat atas pemerintahan itu. Dia mengatakan bahwa perilaku pemerintah benar-benar tidak dapat diterima dan dia akan menghentikan layanan ibadat/ kebaktian Gereja apabila ia telah diperingatkan sebelumnya.

Pada saat seluruh negara telah dipengaruhi oleh bencana besar, politisi sudah semestinya berhenti mencari kesalahan satu sama lain. “Sebaliknya,” kata Kardinal Ranjith, “mereka harus melakukan diskusi luas tentang langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk menyelesaikan hal ini dan membawa negara ini keluar dari krisis yang sedang terjadi.”

Kardinal Ranjith mengeluh bahwa keamanan belum cukup ditingkatkan di sekitar gereja. “Kami tidak puas dengan pengaturan keamanan dan mendesak pihak berwenang untuk memastikan keselamatan kami,” katanya kepada wartawan.

Baca juga: https://www.hidupkatolik.com/2019/04/30/35880/simpati-umat-lintas-agama-di-paroki-bongsari-untuk-korban-bom-di-sri-langka/

Saat ini Kepolisian Sri Lanka masih berusaha untuk melacak 140 orang yang diyakini memiliki keterkaitan dengan Negara Islam.

 

Sumber: vaticannews.va/ Robin Gomes (29 April 2019, 17:10)
Penerjemah: Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here