Mempersoalkan Penyesalan Tuhan

49
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sejumlah hal yang mengherankan dapat kita jumpai dalam Alkitab, salah satunya pernyataan bahwa Tuhan menyesal. Tuhan menyesal? Bagaimana mungkin Tuhan bisa menyesal? Pikiran para pembaca Kitab Suci terganggu mendengarnya, apalagi penyesalan Tuhan ternyata cukup sering muncul dalam Perjanjian Lama. Tuhan menyesal karena berniat membasmi orang Israel yang berpaling dari-Nya dengan memuja patung anak lembu emas (Kel 32:14); Tuhan menyesal karena mengangkat Saul menjadi raja Israel karena ternyata orang ini tidak taat kepada-Nya (1Sam 15:11); Tuhan juga menyesal karena telah merancang malapetaka besar yang menurut rencana akan ditimpakan kepada orang Niniwe (Yun 3:10).

Penyesalan Tuhan muncul pula dalam kisah banjir besar yang melanda bumi pada zaman Nuh (Kej 6 – 9). Kisah yang menakjubkan ini sebenarnya mengerikan, sebab di sini bumi digambarkan tenggelam total ditelan air bah. Manusia dan berbagai macam makhluk hidup tewas semuanya, kecuali mereka yang ada di dalam bahtera Nuh. Membacanya kita merasa sedih, apalagi belum lama ini negeri kita dilanda sejumlah bencana dengan korban jiwa yang sangat besar. Dikisahkan bahwa banjir besar tersebut didatangkan Tuhan sebagai hukuman atas kejahatan manusia. Tingkah laku manusia begitu buruk, sampai-sampai Tuhan menyesal karena telah menciptakan mereka (Kej 6:6).

Namun, bukankah penyesalan muncul dalam diri seseorang ketika yang bersangkutan menyadari bahwa dirinya melakukan kesalahan atau membuat keputusan yang keliru? Apakah ini berarti Tuhan bisa berbuat salah, sama seperti manusia? Di tempat pertama perlu disadari bahwa pernyataan Tuhan menyesal tentunya tidak berasal dari Tuhan sendiri, melainkan dari sang penyusun kisah yang berusaha memahami pribadi Tuhan, serta menjelaskan hubungan antara Tuhan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Karena Tuhan tidak bisa sepenuhnya terjangkau oleh akal budi manusia, Perjanjian Lama sering meminjam sosok manusia untuk menggambarkan diri-Nya. Demikianlah, sama seperti manusia, Tuhan digambarkan berjalan, melihat, dan mendengar. Ia juga digambarkan memiliki perasaan, sehingga – sama seperti manusia – bisa berkenan, bersukacita, sedih, terharu, marah, dan menyesal. Perasaan Tuhan berubah-ubah tergantung pada sikap dan tingkah laku manusia. Dalam kisah banjir besar, Tuhan dikatakan sangat kecewa karena segala sesuatu yang dahulu Ia ciptakan baik adanya menjadi rusak gara-gara kejahatan manusia. Kekecewaan ini berujung pada penyesalan. Tuhan menyesal karena telah menciptakan manusia.

Dengan berbicara tentang penyesalan Tuhan, Perjanjian Lama kiranya hendak menegaskan citra Tuhan sebagai sosok yang di satu sisi maha kuasa, tetapi di sisi lain maha kasih. Karena maha kuasa, Tuhan unggul atas segala sesuatu dan segala sesuatu berasal dari Dia, termasuk macam-macam bencana yang terjadi di dunia. Itulah salah satu bentuk keadilan Tuhan, sebab bencana-bencana tersebut Ia timpakan kepada orang jahat, sementara orang baik dianugerahi-Nya berkat.

Namun, bersikap adil ternyata juga membuat Tuhan berduka. Ini karena Tuhan pada dasarnya mengasihi segala sesuatu yang Ia ciptakan. Berat bagi Tuhan untuk menghukum manusia, meskipun mereka ini benar-benar jahat dan layak untuk menerimanya. Bukankah Dia sendiri yang dahulu menciptakan mereka? Sesungguhnya, mereka adalah ciptaan yang amat baik. Sayang, mereka menyalahgunakan kehendak bebas yang mereka miliki, sehingga pada akhirnya jatuh di jalan yang salah dan berada di bawah penghakiman Tuhan.

Sekarang ini gagasan tentang penyesalan Tuhan umumnya sudah banyak ditinggalkan. Jangankan sekarang, dahulu pun ada yang tidak menyetujuinya, sebagaimana dapat kita jumpai bahkan dalam Perjanjian Lama sendiri. “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal,” demikian ditegaskan 1 Sam 15:29 (bdk. Mzm 102:28; Yes 48:12). Meskipun demikian, intisari gagasan tersebut jelas masih dikembangkan, terutama dalam ajaran dan ajakan kepada setiap manusia untuk bertobat. Pertobatan diyakini akan membawa manusia kepada keselamatan dan menghindarkan mereka dari hukuman yang telah disiapkan Tuhan bagi orang-orang berdosa.

Jadi, apakah Tuhan adalah sosok yang tidak berubah untuk selama-lamanya? Ataukah Dia itu pribadi yang bersikap dinamis seiring dengan kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia? Gagasan manusia tentang Tuhan yang berkembang saat ini berada di tengah-tengah ketegangan tersebut. Kita diajak untuk turut serta mendalami misteri yang agung ini agar dari hari ke hari kita dapat mengenal pribadi-Nya dengan lebih baik.

Martinus Joko Lelono

HIDUP NO.13 2019, 31 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here