Dari Gereja Mandiri Menuju Gereja Misioner

426
Dari Gereja Mandiri Menuju Gereja Misioner
4.5 (90%) 2 votes

Mengedepankan Kemanusiaan
Pengalaman-pengalaman ini membuat Mgr Leo dalam segala keterbatasan menyerukan agar umat Katolik menjadi nabi di tanah sendiri. Seruan ini dilontarkan salah satunya saat berhadapan dengan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua.

Pastor Yohanes Jonga menyebutkan, kasus-kasus yang berkaitan dengan HAM ini di antaranya berkaitan dengan militer, kekerasan akibat main hakim sendiri, konflik antar klan, dan gerakangerakan separatis. Yang terakhir ini, meski tidak signifikan masih kerap terjadi. Ia juga menyebutkan ada beragam kasus kekerasan dalam rumah tangga yang patut menjadi perhatian Gereja.

Persoalan-persoalan ini terjadi akibat banyak faktor. Pastor John, demikian sapaannya, menyebutkan ini salah satunya karena persoalan migrasi yang tidak terkontrol. Ada perpindahan penduduk begitu besar dari luar Jayapura. Hal ini menimbulkan banyak masalah di sektor sosial dan ekonomi. Belum lagi isu literasi, dan absenya penegakan hukum membuat isu ini terus bergulir tanpa penyelesaian yang jelas. Sejumlah penelitian soal pelanggaran HAM di Papua khususnya di Jayapura menyebutkan, isu ini bahkan telah menjadi perhatian internasional.

Dalam konteks hidup menggereja, masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ternyata menjadi isu yang paling dominan. Pastor John menjelaskan, di Papua umumnya, perempuan selalu identik dengan dapur, rawan selingkuh, emosional, dan dianggap kurang mampu. Stigma ini akhirnya berdampak pada ketidakadilan yang dialami perempuan.

Peraih Yap Thiam Hien Award tahun 2009 ini mengatakan, perempuan kerap menganggap persoalan ini sebagai sesuatu yang kodrati. Mereka pasrah dan bertahan dalam pandangan takut diduakan, diceraikan, membuat mereka hanya mengusap dada dan menerima semua itu. “Maka itu Gereja tidak boleh tertidur pulas di atas diskriminasi, persoalan-persoalan HAM di Jayapura,” ujarnya.

Pastor Jhon menyebutkan, masalah lain yang muncul adalah sengketa lahan antar warga. Tak salah bisa menyebutkan juga hadirnya perusahan-perusahan seperti kelapa sawit memberi andil terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM ini. Belum lagi menyusul ekspolitasi alam secara liar.

Masalah-masalah yang mencuat ini membuat orang Papua kurang menaruh kepercayaan kepada pemerintah. Orang Papua, sekalipun tidak semuanya, dicurigai sebagai pendukung gerakan separatis yang dimotori Organisasi Papua Merdeka. Pemerintah selama ini berusaha membasmi separatis Papua yang dianggap musuh negara. Pemerintah cenderung mengedepankan pendekatan keamanan. Di pihak lain, organisasi separatis menganggap pemerintah sebagai penjajah. “Maka selama relasi ini tidak diperbarui, pelanggaran HAM akan terus terjadi di Papua,” ujar Pastor Jhon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here