Bruder Peter Tabichi OFM : Cerita dari Guru Terbaik Dunia

65
Bruder Peter Mokaya Tabichi, OFM saat menerima penghargaan sebagai guru terbaik dunia di Dubai, UEA.
[ghettoradio.co.ke]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Melihat murid-muridnya tumbuh dalam pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri adalah kegembiraan terbesarnya dalam mengajar.

Pagi itu masih pucat, saat seorang berjubah cokelat menapaki jalan di lembah terpencil, Desa Pwani, Nakuru, Kenya. Bruder Peter Mokaya Tabichi OFM sudah terbiasa menempuh lebih dari enam kilometer, untuk sampai ke sebuah warnet. Perjalanan itu ia tempuh, karena ia hendak mengunduh materi pelajaran untuk mengajar anak-anak didik di kelasnya.

Materi-materi itu tak memungkinkan untuk diunduh di Keriko Secondary School (SMP) Keriko, tempat ia mengajar. Hanya ada satu unit komputer di sana. Jangankan internet, jaringan telepon seluler saja buruk. Namun, ia tak ingin murid-muridnya ketinggalan zaman.

Namun, perjuangan Bruder Peter itu kini berbuah prestasi yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Siswa-siswanya mampu berprestasi bahkan sampai ke dunia international. Ini mampu diraih Keriko Secondary School di dalam minimnya fasilitas di sekolah negeri ini. Tak hanya semata soal sarana, rasio guru dan siswa pun hanya 1:58. Satu ruangan kelas yang hanya bisa menampung 35 sampai 40 siswa, tak jarang diisi 70 atau 80 siswa.

Menyerahkan Upah
Lebih dari 90 persen murid Bruder Peter berasal dari keluarga yang tidak mampu. Membeli buku dan seragam tidak masuk dalam daftar kebutuhan mereka. Bahkan, sepertiganya yatim piatu atau hanya memiliki satu orangtua saja. Penyalahgunaan narkoba, kehamilan di luar nikah, bunuh diri, dan pernikahan dini sangat umum terjadi di sana.

Untuk pergi ke sekolah, siswa Bruder Peter harus berjalan sejauh tujuh kilometer untuk tiba di sekolah yang letaknya dekat Biara Fransiskan ini. Namun, bagi anak-anak itu, mendapat kesempatan untuk belajar pun sudah sebuah keberuntungan. Masih ada banyak anak lain yang masih belum tersentuh pendidikan.

Keadaan-keadaan yang sulit ini tidak sedikit pun memadamkan semangat bakti Bruder Peter. Ia justru semakin tertantang mengembangkan potensi siswanya. Demi mendukung siswa-siswinya, ia menyerahkan 80 persen upahnya setiap bulan untuk mereka. Ia sadar, dengan cara inilah, sepiritualitas seorang Fransiskan sungguh terwujud. “Ada kepuasan tersendiri yang datang saat membantu orang lain,” kata Bruder Peter.

Bruder Peter tidak hanya membantu anak didiknya dalam hal materi. Ia ingin anak-anaknya maju, dalam berpikir dan berinovasi. Untuk itu, ia pun membentuk sebuah kelompok pengembangan bakat. Lewat kelompok ini, ia memompa semangat siswanya untuk lebih tekun belajar ilmu pengetahuan. Di sini, para siswa juga belajar mendesain proyek penelitian mereka. “Saya ingin ilmu pengetahuan menjadi jalan menuju masa depan mereka,” ungkapnya.

Buah Ketekunan
Pekerjaan hebat tidak dilakukan dengan kekuatan, tapi dengan ketekunan. Pepatah seorang sastrawan Inggris ini rasanya tepat menggambarkan perjuangan Bruder Peter dan siswa-siswanya. Berkat bimbingannya, mereka berhasil menciptakan sebuah alat yang memungkinkan orang buta dan tuli untuk mengukur sebuah objek.

Kejutan yang mereka buat ternyata masih berlanjut, proyek ini berhasil membawa Keriko Secondary School menduduki posisi puncak dalam ajang Kenya Science and Engineering Fair 2018. Tidak hanya itu, pamor sekolah itu semakin mendunia saat meraih juga penghargaan dari Royal Society of Chemistry. Yang terakhir ini diberikan oleh sekumpulan ilmuwan dari Inggris. Kini, tim Keriko Secondary School bersiap untuk berpartisipasi dalam Intel International Science and Engineering Fair 2019 di Arizona, Amerika Serikat.

Berkat prestasi-prestasi ini, semakin banyak siswa di Nakuru yang termotivasi untuk dapat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Nilai ujian khusus anak perempuan juga mengalami peningkatan. Hasil ini karena Bruder Peter mendorong muridnya menjadi pribadi yang lebih percaya diri. “Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan membangkitkan kebanggaan dalam diri mereka,” ujarnya.

Sebagai seorang guru, Bruder Peter pun terkejut dengan prestasi yang berhasil diraih siswanya. Pada ujian tahun lalu, anak-anak perempuan bahkan memimpin anak laki-laki dalam empat mata ujian. Ia gembira melihat murid-muridnya tumbuh dalam pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan. “Ketika mereka menjadi ulet, kreatif, dan produktif dalam masyarakat, saya mendapatkan banyak kepuasan.”

Alhasil, Keriko Secondary School kini kebanjiran siswa. Pendaftaran siswa baru juga meningkat 400 persen dalam tiga tahun. Prestasi non akademis siswa pun moncer, angka ketidakdisiplinan turun dari 30 per minggu menjadi hanya tiga. Ketika tahun 2017, hanya 16 dari 59 siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Tahun lalu, ada 26 siswa yang kuliah setelah lulus.

Pengakuan Global
Bekerja di Nukuru, tugas seorang pendidik tidak hanya di lingkup sekolah. Bruder Peter yang harus ia sadarkan juga anggota masyarakat yang selama ini hanya memberi cibiran pada ilmu pengetahuan. Untuk itu, pelajaran di sekolah tidak lagi mencukupi. Di akhir pekan, ia dan empat guru lainnya, mengunjungi murid-muridnya untuk memberikan pelajaran tamabahan. Pada kesempatan ini mereka juga bertemu dan ngobrol dengan keluarga siswa. “Ada banyak petensi siswa putus sekolah, mengunjungi keluarga mereka sekaligus dapat menyadariakn orang tua untuk tetap menyekolahkan anak mereka,” tuturnya.

Bruder Peter adalah wujud nyata misi Fransiskan di Afrika Timur. Misi mereka difokuskan pada peningkatan kapasitas dan kemampuan holistik petani kecil dan pemuda desa baik melalui sektor pendidikan formal, negeri atau swasta, maupun melalui promosi pertanian berkelanjutan. Kerja keras, welas asih, dan niat baiknya bagi republik di pantai timur Afrika ini, mendapatkan pengakuan global.

Sang bruder dinobatkan sebagai Guru Terbaik Dunia Tahun 2019 oleh Varkey Foundation. Ia menyisihkan 10.000 nama dari 179 negara. Ia menjadi orang Afrika pertama yang meraih penghargaan bergengsi ini. Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta, menggambarkan Bruder Peter sebagai teladan atas apa yang dapat dicapai oleh semangat kemanusiaan. “Peter, kisah Anda adalah kisah Afrika, benua muda yang penuh dengan bakat. Murid-murid Anda telah menunjukkan bahwa mereka dapat bersaing di antara yang terbaik di dunia dalam sains, teknologi, dan semua bidang usaha manusia,” ujar sang presiden.

Selain membawa pulang sebuah trofi, Bruder Peter juga berhak atas uang senilai USD 1 juta atau sekitar Rp 14 miliar. Uang tersebut ia berikan untuk kepentingan sekolah. Dia juga berjanji untuk terus berbakti bagi siswa-siswinya dan masyarakat luas dengan memulai proyek yang akan memperbaiki kehidupan mereka. “Penghargaan ini bukan tentang saya tetapi merupakan pengakuan terhadap kaum muda Afrika yang hebat. Saya bisa berada di sini karena pencapaian siswa-siswi saya,” kata

Bruder Peter dalam pidato saat menerima penghargaan di Dubai, UEA, Minggu, 24/3. Bruder Peter mengatakan, orang muda Afrika adalah orang muda yang menjanjikan; keingintahuan, bakat, kecerdasan, dan keyakinan mereka. “Orang-orang muda Afrika tidak akan lagi terhambat oleh harapan yang rendah. Afrika akan menghasilkan ilmuwan, insinyur, pengusaha yang suatu hari akan terkenal di setiap sudut dunia. Dan anak-anak perempuan akan menjadi bagian besar dari kisah ini,” pungkasnya.

Bruder Peter Mokaya Tabichi OFM

Lahir : Kisii, Kenya, 17 Mei 1982
Orangtua : Lawrence Tabichi
Pendidikan : Sarjana Pendidikan Sains dan Matematika, Egerton University, Njoro, Kenya (lulus 2006)
Kaul Pertama : September 2012
Kaul Kekal : 6 Desember 2018

Hermina Wulohering/Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.14 2019, 7 April 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here