Panti Sosial Tresna Werdha Karitas : Tetap Bersyukur di Kala Senja

154
Sebagian lansia penghuni Panti Werda Karitas bersama dengan Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC.
[NN/Dok.Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tempat ini bukanlah sekadar penampungan para lansia. Di sini ini martabat para lansia diluhurkan.

Udara pagi begitu sejuk mengisi halaman Panti Sosial Tresna Werdha Karitas (Selanjutnya Panti Werda Karitas) Cimahi, Jawa Barat. Opa-oma penghuni panti ini, bersama beberapa perawat telah memadati halaman itu. Sebagian besar dari mereka menggunakan kursi roda namun tidak menyurut semangat mereka untuk memulai hari dengan senam pagi. Mereka mengikuti setiap gerakan instruktur, di hadapan mereka.

Senam pagi sangat baik bagi kebugaran tubuh lebih khusus bagi para lansia. Ini sangat membantu untuk perenggangan otot mereka yang sudah renta, melancarkan peredaran darah dan menjaga kesehatan jantung.

Saat beberapa melihat lansia sebagai pribadi pasif dan bermalas-malasan, di Panti Werda Karitas, stigma itu dihilangkan. Mereka perlu diberi motivasi. Dengan begitu, setiap hari merupakan kesempatan untuk memulai hari dengan kebahagiaan.

Terlantar
Hari senja layaknya sebuah masa emas. Masa di mana bisa menyaksikan kebahagiaan anak serta bercengkerama dengan cucu dan cicit. Hal tersebut menjadi impian setiap lansia. Suster Mariana Ambar Juliastuti OP mengungkapkan, tidak semua lansia mengalami masa senja yang indah. Banyak dari mereka justru mengalami kesepian. Kebahagiaan mereka hilang saat mereka ditinggal oleh anak maupun cucu mereka. “Banyak dari mereka yang tidak diurus. Mereka ditelantarkan begitu saja. Tidak mengherankan jika angka depresi di usia senja begitu tinggi,” kata Kepala Panti Sosial Tresna Werdha Karitas ini.

Suster Mariana menjelaskan, lahirnya Panti Werdha Karitas berangkat dari keprihatinan Suster Philomena OP terhadap kehidupan para lansia yang kurang diperhatikan. Suster Philomena melihat sebuah realitas yang miris, orangtua yang terlantar karena tidak memiliki sanak saudara. Suster Philomena akhirnya memutuskan untuk mendirikan panti itu pada tahun 1980. Hanya berselang enam tahun kemudian, dirintis pendirian panti tahap kedua.

Panti Werdha Karitas ini pada awalnya menerima lansia perempuan. Namun setelah 22 tahun berkiprah, tepat pada tahun 2002, panti ini membuka pintu bagi lansia pria. Terbukanya pintu bagi para opa diprakarsai oleh Suster Edmunda OP. Ia tergerak menerima lansia pria setelah dilihatnya seorang lelaki renta sedang mengais-ngais makanan di tempat sampah.

Penghuni Panti Werdha Karitas berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu panti ini juga terbuka untuk umum tanpa terkecuali. Beberapa dari mereka diantar oleh keluarga sendiri untuk tinggal di sini. Selain itu, ada juga yang dibawa oleh umat atau siapa saja yang mengenal fasilitas panti ini.

Dalam karyanya, Panti Werdha Karitas bertanggung jawab atas kelangsungan lansia yang tinggal di sana. Mereka berusaha merawat mereka dengan sebaik-baiknya, tidak membeda-bedakan suku dan agama.

“Siapa pun boleh tinggal di panti ini. Sejak berdirinya panti ini mempunya komitmen tidak hanya berhenti pada pelayanan semata bagi lanjut usia miskin dan terlantar. Panti ini juga memberikan perlindungan, perawatan dan pemberdayaan lanjut usia yang disantuni di dalamnya,” beber Suster Mariana.

Menghargai Hidup
Ada tiga hal pokok dalam kiprah Panti Werdha Karitas. Pertama, panti bertekad meningkatkan taraf kesejahteraan lansia. Untuk itu, mereka terus meningkatkan pelayanan panti, agar dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi lansia di hari tuanya. Kedua, mereka memberikan kesempatan kepada lansia untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Ketiga, mereka juga berusaha meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan para lansia dengan menanamkan pola hidup sehat.

Suster Mariana mengungkapkan, usia lanjut sangat sensintif dan rentan. Perlu melakukan pendekatan khusus terhadap mereka. Hal yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana merawat diri mereka di hari tua. Perlu diketahui, di masa-masa seperti ini mereka memerlukan motivasi dan dorongan agar mampu menghadapi masa kering, terutama karena kesepian. “Mereka hanya butuh sapaan sebagai bentuk pengakuan dari diri mereka. Usia manusia semakin senja semakin berkurang rasa percaya diri. Apalagi para lansia yang mengalami penolakan,” ujar Suster Mariana.

Agar para lansia mengalami sukacita dan kegembiraan, perlu diberikan aktifitas Setiap hari. Rutinitas tersebut dilakukan mulai dari pagi hingga malam. Menurut Suster Mariana, aktifitas mereka sengaja dipadatkan, sehingga mereka sangat santai dan tidak memikirkan banyak hal. Hal ini dilakukan agar mereka tidak stres.

Berbagai aktivitas dijalankan seperti Terapi Aktivitas Kelompok: Art Therapy, Senam Pagi, Pemeriksaan Kesehatan, Expressing Feelings, Kegiatan Peningkatan Fungsi Kognitif hingga Terapi Aktivitas Kelompok: Music Therapy.

Kehidupan rohani mereka juga perlu ditunjang agar mereka begitu dekat dengan Allah. Suster Mariana mengungkapkan, dengan usaha semacam ini, maka lansia tidak akan lagi kehilangan harapan dan tetap menghargai hidup. Dengan demikian di masa tua ini, mereka tetap terus merasa bersyukur bahwa Tuhan terus menjaga mereka. “Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka sedetik pun,” tuturnya.

Citra Allah
Kehadiran Panti Werdha Karitas ini merupakan sebuah perwujudan perutusan ke tengah para lansia yang ditinggalkan dan terlantar. Suster Mariana mengakui, sebagian besar lansia ini adalah mereka yang ditinggalkan oleh keluarga. Meski sebagian dari mereka masih memiliki anak, mereka akhirnya dititipkan di panti. Dalam keadaan seperti itu, mereka mengalami bagaimana merasakan kesendirian di hari tua. “Ketika mereka begitu jauh dari anak-anak mereka, kadang mereka merasa gagal karena tidak mampu dekat dengan anak-anak atau cucu-cucu mereka. Mereka malah merasa diri mereka ditolak,” ujar biarawati Dominikan ini.

Suster Mariana berpesan, jangan sampai seorang anak tega menelantarkan orangtua mereka. Menurutnya, tindakan ini telah merendahkan martabat manusia itu sendiri. Lansia harus disadari sebagai bagian dari kehidupan manusia.

Ia menegaskan, Panti Werdha Karitas berusaha merangkul dan mengangkat harkat martabat orangtua lansia yang terlantar, miskin, dan papa.

Panti Werdha Karitas hadir dan terlibat dalam Gereja dan masyarakat Indonesia untuk mewujudkan serta mengangkat harkat martabat manusia sebagai ciptaan dan citra Allah. “Tempat ini bukanlah penampungan para lansia, akan tetapi menjadi sebuah rumah di mana manusia di-luhurkan. Bahwa Lansia sebagaimana manusia pada umumnya perlu dihargai,” ujar Suster Mariana.

Willy Matrona

HIDUP NO.14 2019, 7 april 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here