Memberi Penghormatan Terbaik

212
Pastor Budiharyana.
[NN/Dok.Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Peristiwa kematian selain kita mengantar orang menghadap Allah, juga menjadi saat kita mau menyatakan iman.

Kematian adalah proses perubahan dari alam dunia ke alam kekal. Gereja Katolik ingin mendampingi setiap warganya dari sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, hingga menjelang kematian, dan bahkan ketika sudah meninggal hingga proses pemakaman dan peringatan arwah. Merawat jenazah adalah satu dari sekian banyak pendampingan itu.

Lantas seperti apa ajaran atau pedoman pastoral Gereja terkait perawatan jenazah? Berikut petikan wawancara HIDUP dengan Vikaris Episkopal di Kevikepan Surakarta, Keuskupan Agung Semarang, Pastor Budiharyana, Rabu, 4/4.

Apa sebenarnya makna kematian dalam keyakinan Gereja Katolik?

Dari peristiwa Yesus sendiri, kematian mengantar kepada kebangkitan. Kebangkitan Kristus dari kematian menjadi bukti bahwa kematian tidak berkuasa atas diriNya. Kematian, secara Kristiani, tidak terlepas dari penyerahan total dan utuh kepada Allah, Sumber Kehidupan. Kematian juga menjadi saat kita mengalami tindakan Allah yang penuh belas kasih yang akan membangkitkan kita.

Menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kanon 1176, di dalam pemakaman gerejawi, Gereja melakukan tiga hal penting, yaitu memohon kerahiman Allah bagi yang meninggal; menghormati tubuh yang dalam Sakramen Baptis telah menjadi ‘bait Roh Kudus’ yang hidup; dan memberikan penghiburan yang berupa pengharapan Kristiani pada keluarga yang ditinggalkan.

Seperti apa pedoman pastoral Gereja terkait perawatan jenazah?

Perawatan jenazah adalah terkait dengan penghormatan terhadap tubuh karena tubuh merupakan bait Allah dan Roh Allah berdiam di dalamnya. Tubuh dipakai untuk kepentingan relasi dengan Allah sendiri karena tubuh menjadi sarana yang mengantar untuk menuju kepada Allah. Prinsip dasarnya adalah bagaimana cara memanusiakan dan memuliakan tubuh manusia.

Dalam iman Katolik dengan penjelmaan Tuhan Yesus Kristus, penghargaan atas tubuh semakin diteguhkan. Melalui tubuhnya, manusia bisa berbuat baik dan menjadi kudus. Allah menjadi manusia, maka martabat sebagai badan atau tubuh juga dipermuliakan di dalam Kristus. Sesudah kematian, kita tidak mengabaikan peran dan fungsi keutuhan manusia.

Kalau begitu, bolehkah jenazah dikremasi?

Aturannya jelas dalam Ketentuan Pastoral Regio Jawa 2016 mengenai pemakaman gerejawi. Kremasi itu sangat diperbolehkan. Namun, ada ketentuan khusus di mana abu selayaknya ditempatkan di rumah abu atau dimakamkan di dasar laut dalam wadah seperti guci.

Jangan sekali-kali menabur abu di laut atau di langit. Dasarnya adalah kita menghormati kesakralan tubuh. Tubuh duniawi menjadi sarana untuk juga sampai kepada Allah. Tubuh adalah tempat di mana jiwa manusia tinggal sebelumnya, yang nanti juga akan dibangkitkan pada penghakiman terakhir.

Mengapa jenazah umat Kristiani biasanya mengenakan pakaian pesta dan didandani?

Gereja mempunyai pengajaran berdasarkan Kitab Suci atau sejauh diceritakan dalam Kitab Suci. Kehidupan abadi sering disebut perjamuan surgawi, digambarkan sebagai pesta perjamuan. Jadi ketika kita dikumpulkan Allah dalam kehidupan abadi, kita seperti menghadiri sebuah pesta. Maka kita berpakaian layaknya pesta. Sehingga itupun menjadi peristiwa yang menggembiarakan. Duduk bersama Allah dalam kehidupan abadi, situasinya menggembirakan, bersukacita. Maka, dalam bentuk lahiriahnya mengenakan pakaian pesta.

Penguburan atau pemakaman Yesus Kristus menurut catatan Alkitab bisa menjadi acuan untuk proses penguburan orang mati. Zaman Yesus berhubungan dengan kesalehan Yudaisme, selain itu juga merupakan eksperesi dari orang-orang yang mengasihi orang mati tersebut, secara pantas dan wajar.

Dalam kisah penguburan Yesus, waktu penguburan sangat singkat sehingga persiapan terburu-buru karena sabat sudah dekat. Meski demikian, tindakan merawat jenazah Yesus tetap dilakukan dengan cara yang sangat hormat, yaitu dicampuri minyak mur dan gaharu, untuk merawat jenazah Yesus.

Kita bisa melihat bahwa tradisi merawat dan menguburkan jenazah dengan layak sungguh merupakan penghormatan bagi Yesus dan mereka yang meninggal. Merawat jenazah adalah untuk menghormati mereka yang telah meninggal. Gereja juga menetapkan aturan mengenai pemakaman gerejawi dalam KHK Kanon 1176-1185.

Siapa saja yang dapat melakukan perawatan jenazah?

Tidak ada ketentuan atau keharusan siapa yang harus merawat, memandikan, mengenakan pakaian pada jenazah. Biasanya, jika jenazahnya perempuan maka yang merawatnya juga perempuan. Begitu pula kalau laki-laki, perawatnya laki-laki. Namun, tentu yang melakukan ini biasanya mereka yang berani dan memang punya keterampilan-keterampilan dalam merawat jenazah.

Keterampilan itu bisa dipelajari kalau seseorang mempunyai perhatian atau kepedulian dalam hal pelayanan pada jenazah. Dalam komunitas Gereja, ada paguyuban–paguyuban khusus yang memang dalam kelompok itu sering diadakan pembekalan, pembelajaran merawat jenazah.

Apa catatan yang harus diperhatikan dalam perawatan jenazah?

Menangani jenazah harus dilakukan dengan hormat dan sebaik-baiknya. Rasa hormat ini dapat dijadikan prinsip. Dengan kata lain, seseorang telah diperlakukan secara manusiawi dan sama seperti orang lain. Seorang perawat harus memperlakukan tubuh jenazah dengan hormat. Peristiwa kematian adalah peristiwa yang sangat menyentuh yang akan dialami semua orang.

Banyak orang – apapun golongan, status, agama, dan sukunya – akan datang dengan hati terbuka tanpa diundang. Ini adalah kesempatan yang luar biasa bagi umat Katolik memberi pewartaan tentang imannya. Kesempatan terbaik di antara semua peristiwa dalam kehidupan ini. Maka, bagi saya, keseluruhan proses dalam melepaskan orang yang meninggal sangat penting untuk disiapkan seoptimal mungkin. Mulai dari peristiwa merawat jenazah, saat mendoakan, penguburan dan seterusnya.

Banyak orang yang ingin menjadi Katolik setelah menyaksikan peristiwa pemakaman secara keseluruhan. Mereka melihat jenazah orang Katolik tidak menakutkan bahkan didandani. Mereka juga menyaksikan perawatan, pemberkatan jenazah yang dilaksanakan dengan begitu agung. Para pelayan juga dengan setia menunggui sampai ke pemakaman. Itu menjadi peristiwa yang luar biasa.

Saya sekali lagi mengatakan peristiwa kematian selain kita mengantar orang menghadap Allah, juga menjadi saat kita mau menyatakan iman. Maka penting untuk dipersiapkan sebaik-baiknya.

Adakah ritual khusus yang perlu dilakukan saat merawat jenazah?

Ada ritual, dalam arti doa-doa saat perawatan jenazah. Dalam buku Tata Laksana Melepas Jenazah Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang ada disebutkan. Ada ritus pembukanya, pengantarnya, ada bacaan singkat dari Kitab Suci, saat memandikan jenazah, mengenakan pakaian, sampai saat memasukkan jenazah ke dalam peti, semuanya sudah diatur.

Melalui ritual ini, Gereja mau mengajarkan untuk menghormati pribadi manusia seutuhnya. Saat hidup dan telah mati sekalipun manusia dihormati. Meskipun orang itu telah meninggal, tetapi orang itu tetap dipandang masih hidup, yaitu hidup dalam Tuhan, sebab Tuhan Yesus telah bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati” (Yoh. 11:25).

Demikianlah dalam pandangan Gereja Katolik, dengan kematian, hidup ini bukan dilenyapkan, melainkan hanya diubah (bdk. Prefasi Arwah I dalam TPE no. 57). Di satu pihak, keluarga yang ditinggalkan secara manusiawi tetaplah akan merasa sedih tetapi di lain pihak, iman kepada Kristus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup, menguatkan kita akan pengharapan kebangkitan bagi orang yang meninggal. Perlakuan penuh hormat pada jenazah juga mengalir dari kepercayaan iman yang teguh ini.

Maka adalah salah apabila kita tidak menghormati tubuh manusia, atau menganggap tubuh manusia yang telah mati seperti sampah. Untuk jenazah yang sudah hancur tak berbentuk, akibat kecelakaan atau penyakit tertentu, sehingga tidak lagi bisa dilakukan perawatan, itu merupakan kekhususan.

Di beberapa daerah, makam keluarga yang sudah lama meninggal, dibongkar, dibersihkan, kemudian sisa tulang belulang juga dibersihkan, lalu dimakamkan kembali. Bagaimana Gereja menyikapinya?

Paling tidak, Gereja tidak mengatur sampai ke situ. Sekali lagi, apabila itu merupakan tindakan penghormatan kepada orang yang telah meninggal, maka baik-baik saja. Tidak melanggar ajaran iman. Intinya adalah menghormati manusia. Tulang-belulang itu tidak perlu lagi diberkati. Pemberkatan pertama sudah cukup.

Hermina Wulohering

HIDUP NO.15 2019, 14 April 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here