Beato Eugéne Bossilkov CP (1900-1952) : Darah Martir Uskup Nikopoli

70
Beato Eugéne Bossilkov CP.
[bossilkov.org]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – “Penguasa bangsa-bangsa lalim boleh membunuh nyawa kita, tetapi mereka tidak akan dapat membunuh iman kita,” ujar Mgr Eugéne Bossilkov CP suatu hari.

Tahun 1947, Mgr Eugéne Bossilkov CP ditahbiskan sebagai Uskup Nikopoli, Bulgaria. Ia menggantikan Mgr Vasco Séirécov (1975-1977). Sejak pengangkatan itu tugas utamanya adalah berada di tengah-tengah umat miskin, para penderita cacat, dan kaum marginal.

“Melayani sampai terluka”, begitu bunyi slogan pelayanan Mgr Eugéne, saat memulai pelayannya sebagai uskup. Sehari-hari, ia hadir di perkampungan-perkampungan kumuh, penjara, dan panti rehabilitasi kejiwaan. Praktisnya, ia hadir di mana ada penderitaan. Ia hidup dan melayani mereka dengan pastoral persahabatan.

Mgr Eugéne meyakini, bahwa umat butuh gembala yang menyapa. Umat sadar, bahwa teriakan mereka tidak akan sampai ke telinga pemerintah komunis Bulgaria. Dalam diri Mgr Eugéne lah, mereka menemukan pribadi yang mampu dan mau mendengar mereka.

Terus Setia
Hidup rohani Mgr Eugéne sudah tumbuh sejak kecil. Ia lahir dengan nama Vincent Bossilkov dalam sebuah keluarga Katolik di Belence, Bulgaria pada16 November 1900. Di keluarganya, ia dikenal sebagai pribadi yang setia, semangat, dan saleh. Meski lahir dalam keluarga yang sederhana, kedua orangtuanya telah menanamkan kecintaan pada iman Kristiani.

Begitu juga panggilan Vincent menjadi seorang Pasionis, sudah dimulai sejak ia belia. Di kampungnya, saat itu berkarya para imam Pasionis dari Provinsi Mater Sanctae Spei, Belanda. Di saat itulah, ia berkenalan dengan para imam Congregatio Passionis Iesu Christi/CP itu. Kedekatan dengan para Pasionis ini membentuk pribadinya untuk mencintai sesama. Spiritualitas pelayanan kepada orang kecil menjadi modal utama baginya.

Vincent pun akhirnya mulai masuk menjadi calon imam Pasionis. Ia menjalani pendidikan di Belanda dan Belgia. Di saat ini juga, ia mengambil nama biara “Eugéne” dan mengikrarkan kaul pertama sebagai Pasionis pada 1920.

Sejak awal di seminari, Frater Eugéne langsung menunjukkan kesetiaannya pada tugas dan tanggungjawab yang diberikan. Ia juga seorang yang kritis dalam hal hidup rohani. Hatinya penuh cinta kepada setiap orang di sekitarnya. Setelah berjuang dalam pendidikan di seminari Pasionis, ia lalu ditahbiskan imam sebagai seorang Pasionis pada 25 Juli 1926.

Namun, jalan panggilan Pastor Eugéne ternyata tidak berhenti untuk hanya menjadi imam. Ia dipilih Paus Pius XII menjadi Uskup Nikopoli tahun 1947. Kesederhanaan dan kebapaannya membuat umat Nikapoli tak meragukan cintanya.

Alhasil, dengan modal ini, Mgr Eugéne dapat bertugas dengan penuh semangat meski saat itu di Bulgaria tengah terjadi pergolakan politik. Negara di bagian tengah Benua Eropa itu telah dikuasai oleh paham komunis. Dalam kondisi ini, rakyat rindu ada yang mau mendengar suara mereka. Tentu, harapan ini tak dapat mereka tumpukan pada pemerintah Komunis. Satu-satunya harapan mereka adalah Gereja.

Di sini lah, Mgr Eugéne hadir sebagai sosok “pahlawan”. Ia menjadi saksi bisu jeritan hati umat yang terluka. “Aku sadar, nyawaku taruhannya. Tetapi aku ingin mati bersama mereka. Karena dengan begitu, hidupku berarti,” ujarnya.

Totalitas Gembala
Di awal kepemimpinan Mgr Eugéne di Nikopoli, Partai Komunis Bulgaria (Bâlgarska Komunisticheska Partiya/BKP) menunjukkan taring kekuasaan di Bulgaria (1946-1989). Partai Komunis Bulgaria berkuasa saat koalisi Front Tanah Air mengambil alih kekuasaan tahun 1944 atau menjelang akhir Perang Dunia II (1939-1945). Lewat kudeta ini, Tsar Bulgaria pun digulingkan. Komunis lalu melebarkan sayap dengan mengendalikan angkatan bersenjata Bulgaria. Sang proklamator komunis, Dimitar Blagoev pun mulai berkuasa.

Hal paling mendasar yang dilakukan Komunis Bulgaria adalah memutuskan pasokan kebutuhan dasar manusia. Segala upaya dibuat untuk bisa menghasilkan pangan, sandang, dan papan bagi komunis sendiri. Tindakan ini sontak memutuskan pengaruh-pengaruh asing ke Bulgaria. Namun, musuh terbesar yang dihadapi komunis di Bulgaria yang masih tersisa adalah Gereja Katolik. Bagi Komunis, Gereja adalah kekuatan asing.

Alhasil, konsekuensi dari kekuasaan komunis ini pun segera mengikuti. Segala bentuk peribadatan seketika dilarang, termasuk para imam dan biarawan-biarawati dilarang beraktivitas. Banyak biara kosong dan dijadikan gudang dan sarana umum bagi komunis. Di akar rumput, umat pun ditangkap dan dibunuh. Sebagian menghabiskan hidup di penjara.

Mgr Eugéne melayani umat di saat kebutuhan dasar umat terengut. Ia melihat begitu banyak penderitaan yang dialami umat. Ia tak berdaya saat melihat umatnya menderita saat kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi. “Apa guna hidup bila tidak makan, tidak memiliki pakaian, dan tidak memiliki tempat tinggal?” tanyanya suatu hari.

Kesadaran ini membuat Mgr Eugéne ingin menyerahkan hidupnya kepada umatnya. Ia yakin bila kebutuhan dasar ini terpenuhi, iman mereka semakin dikuatkan-bahkan menghadapi ancaman kematian sekalipun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here