KISAH IBU PENOLONG BIBIR SUMBING DIANGKAT KE PANGGUNG DRAMA MUSIKAL

89
Sr Andre memeriksa kondisi seorang bayi bibir sebelum menjalani operasi pada saat bakti sosial. (Dok. Yayasan Sinar Pelangi)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – USKUP Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo, mengungkapkan kekagumannya terhadap para misionaris yang berkarya di Indonesia. Ia melihat mereka rela meninggalkan kemapanan hidup di negara asalnya untuk membantu masyarakat-masyarakat sederhana di tempat lain.

Ketika banyak orang berlomba untuk mengejar kesuksesan dan kenikmatan, para misionaris malah datang ke negara-negara terbelakang. “Kadang kala saya tidak habis pikir masih ada orang yang mau meninggalkan kemapanan hidupnya untuk membantu orang lain yang mengalami kekurangan, kesulitan, dan masalah. Tentu karya Roh Kuduslah yang menggerakkan hati mereka untuk punya kepedulian kepada sesama,” ujar Mgr Suharyo.

Mgr Suharyo menyampaikan hal tersebut untuk menyambut drama musikal yang mengangkat sosok Sr Andre Lemmers FCJM. Drama musikal tersebut akan dipentaskan pada Sabtu, 1/6/2019, di Balai Sarbini, Jakarta Selatan.

Jalan cerita drama musikal ini diangkat dari buku biografi berjudul Sr Andre Lemmers FCJM: Penolong Bibir Sumbing dari Spaarndam. Buku ini ditulis oleh A. Bobby Pr, dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Kekaguman Mgr Suharyo disampaikan, mengingat kisah perjalanan hidup Sr Andre sungguh unik dan menarik. Dari gadis yang suka berfoya-foya menjadi sosok biarawati yang mengabdikan hidupnya untuk orang-orang sederhana yang jauh dari negara kelahirannya, Belanda.

Pementasan drama musikal yang disutradarai oleh Septian. Ia melibatkan anak panti asuhan dan karyawan Yayasan Sinar Pelangi dalam pementasan tersebut. Hasil penjualan buku dan pementasan drama musikal diperuntukkan untuk mewujudkan pembangunan panti werdha, kapel, dan sarana fasilitas Yayasan Sinar Pelangi.

Acara ini juga sebagai perayaan ulang tahun ke-30 Yayasan Sinar Pelangi. “Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dengan berbagai cara sehingga Yayasan Sinar Pelangi dapat melayani selama 30 tahun di Bumi Nusantara di bawah kepemimpinan Sr Andre bersama para suster Putri Hati Kudus Jesus dan Maria, FCJM,” ungkap Ketua Panitia Taswin.

Menjadi Pembantu

Sr Andre berasal dari keluarga sederhana. Sebelum menjadi biarawati, namanya adalah Theodora Antonia Maria Lemmers. Dia lahir dari pasangan Hendrikus Waladimir Albert Ernest Lemmers dan Cornelia Maria van der Vaart pada 6 Juni 1943 di Pumerland, Belanda Utara.

Suasana Perang Dunia II tidak terlalu berdampak banyak bagi keluarga Hendrik dan Cornelia. Kehidupan di desa membuat mereka dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk hidup. Namun, lain halnya dengan mereka yang tinggal di kota. Mereka harus mencari bahan makan ke desa-desa yang masih punya persediaan makanan.

Pemandangan ini menjadi menjadi pengalaman pertama Ted, panggilannya kala itu, melihat kesulitan orang lain. “Keadaan masyarakat di desa masih lebih baik karena dapat hidup dari tanaman dan hewan-hewan ternak yang dipelihara di sekitar rumah atau ladang,” ujar perempuan anak ketiga dari 11bersaudara ini.

Hendrik pada awalnya adalah karyawan sebuah peternakan di Pumerland. Dalam perkembangannya, majikannya menyerahkan peternakan itu untuk orang lain. Hendrik harus berganti pekerjaan. Setelah sempat bekerja di pabrik susu di Ilpendam, dia akhirnya menjadi penjaga gudang tentara di Spaarndam.

Theodora Antonia Maria Lemmers bersama orangtua dan saudara-saudarinya di Belanda.
(Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Ted dan saudara-saudarinya tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat. Sejak dini kedua orangtuanya sudah menanamkan ajaran Kristus kepada anak-anaknya. Hidup doa ditanamkan mulai sejak bangun hingga tidur. Hari minggu keluarga Hendrik dan Cornelia berangkat ke gereja bersama-sama untuk mengikuti Misa di Paroki Adelbertus Spaarndam.

Hendrik dan Cornelia juga mendorong anak-anaknya untuk aktif dalam kegiatan menggereja. Ted dan saudara-saudarinya terlibat dalam kegiatan orang muda Katolik (OMK) di paroki. Setiap hari Jumat sore Ted bersama teman-temannya datang ke gereja untuk menyapu, mengepel, dan membersihkan peralatan Misa.  Selain kegiatan di lingkungan gereja, Ted juga ikut dalam kelompok orang muda yang namanya Don Bosco. Dia juga terlibat dalam kelompok sandiwara (toonel) di desanya. Bakat kepemimpinan Ted tumbuh dalam kelompok-kelompok muda ini.

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD), Ted melajutkan ke Voortgezet Lagere Onderwys (VGLO), setingkat SMP. Sayangnya dia terpaksa putus sekolah ketika ibunya sakit keras. “Saya tidak menyesal berhenti sekolah karena saya susah untuk belajar. Saya lebih suka kerja,” ujarnya mengenang peristiwa yang terjadi pada saat dia berusia 14 tahun.

Sejak ibunya sakit, Ted membantu ayahnya untuk mencari nafkah. Dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga. Setelah bekerja di rumah majikannya, dia menggunakan sepeda untuk bekerja sebagai pemerah sapi milik tetangganya. Dia pun bersama anggota keluarga lainnya bekerja di ladang milik orang lain.

Ted tidak mengeluh atas tanggung jawab yang harus dipikul untuk membantu keluarganya. Lagi pula kedua orangtuanya juga pekerja keras. Dia melihat sendiri bapaknya meski menjadi penjaga gudang masih menjual tenaga untuk mengerjakan ladang orang lain, merawat sapi tetangga, atau mengumpulkan rumput kering. Rumput kering itu dijual kepada tetangga untuk makanan sapi pada musim dingin. Ted melihat ayahnya bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Dengan berbagai pekerjaan itu, dia tumbuh menjadi gadis yang perkasa.

Pekerjaan yang paling dia sukai adalah memerah sapi. Pada saat itu dia membayangkan artis idolanya Ria van der Valk yang menyanyikan lagu Rockin Billy. Lagu itu mengisahkan kehidupan pemerah sapi.

Sebagian pendapatannya disisihkan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian lagi dia gunakan untuk foya-foya dengan teman-teman di desanya. Kafe ini menjadi tempat dia bergaul. Bir adalah minuman yang biasa dia nikmati. Ted juga terbiasa menghisap rokok bersama teman-temannya. bersama kawan-kawannya pergi Ted juga sering dengan menggunakan motor untuk piknik atau menghadiri pesta-pesta di desa tetangga.

Setelah ibunya sakit, Ted menjadi pembantu di Spaarndam, Belanda.
(Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Usia 21 tahun kehidupannya berubah ketika dia memutuskan untuk menjadi biarawati . Keputusan ini ditentang dan dianggap ‘gila’ oleh keluarga, pastor paroki, dan teman-temannya. Mereka mengenal sosok Ted sebagaisosok perempuan yang tidak bisa diam dan liar. Tekadnya sudah bulat. Meskipun tak ada seorang mendukung, termasuk kekasihnya, Ted sudah bulat dengan keputusannya menjadi biarawati Franciscanae Cordis Jesus et Mariae  (FCJM).

Kongregasi ini didirikan oleh Muder Clara Pfänder pada tahun 1860. Muder Clara sendiri mendirikan kongregasi ini ingin meneladani hidup dan karya dari St. Fransiskus dari Asisi. Di Indonesia kongregasi ini memiliki nama Kongregasi Fransiskanes Puteri-puteri Hati Kudus Yesus dan Maria.

Sejak masuk biara Sr. Andre Lemmers FCJM, namanya setelah jadi biarawati, sudah bertekad ingin menjadi misionaris di negara-negara berkembang. “Saya bukan ingin membaptis umat lain tapi mau hadir bersama orang-orang sederhana agar mereka dapat juga merasakan kasih Kristus yang begitu besar”.

Sr Andre Lemmers FCJM saat novis, 1965 (Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Niatnya didukung oleh pimpinannya. Namun karena dia hanya memiliki ijazah SD maka Sr. Andre diminta untuk mengikuti pendidikan SMP terlebih dahulu. Sebagai bekal di tanah misi, Sr. Andre mengambil pendidikan perawat. Dia juga mengambil kursus instalasi listrik, perawatan dan perbaikan mobil, dan tukang kayu.

Menjadi Misionaris

Setelah sehari menempuh perjalanan dari Belanda, Sr. Andre tiba di Jakarta, Indonesia pada 14 Mei 1973. Setelah belajar bahasa Indonesia beberapa bulan dia pun memulai karyanya sebagai misionaris di pedalaman Irian Jaya, nama Papua waktu itu. Di tempat itu dia memberikan penyuluhan kesehatan dan cara hidup sehat bagi masyarakat sederhana.

Sr Andre Lemmers FCJM memberikan pelayanan kesehatan dan gizi kepada anak-anak balita di Pejompongan, Jakarta.
(Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Karyanya di Papua hanya berumur empat tahun. Dia terserang penyakit malaria dan menghadapi beberapa persoalan. Setelah kembali ke Belanda beberapa bulan, Sr Andre datang lagi ke Indonesia. Kali ini dia berkarya untuk masyarakat sederhana yang tinggal di kolong jembatan, pinggir kali, dan tempat pembuangan sampah di Jakarta. Karyanya pun tetap sama. Mendampingi masyarakat agar dapat hidup sehat dengan memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan.

Setelah sempat mendirikan Yayasan Budhi Darma Driwanti bersama dr. Warno dan Santi, Sr Andre membentuk Yayasan Sinar Pelangi. Yayasan ini dia bentuk  bersama Sr. Secilia Siringoringo FCJM dan Ryanna Mayame Kasioen. Tujuannya untuk menolong anak-anak penyandang disabilitas agar mereka dapat keluar dari isolasi yang membelenggu. Baik belenggu yang datang dari keluarga ataupun lingkungan sekitarnya.

Pada tahun pertama Yayasan Sinar Pelangi berdiri, pasien bibir sumbing banyak berdatangan. “Sampai-sampai banyak orang menyebut saya ini bapak sumbing. Karena mereka melihat penampilan saya seperti laki-laki. Rambut pendek. Suara saya seperti laki-laki. Jadinya saya dianggap bapak-bapak,” katanya sembari tertawa.

Sr Andre Lemmers FCJM memeriksa kondisi seorang bayi bibir sebelum menjalani operasi pada saat bakti sosial. (Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Atas dukungan Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ, Yayasan Sinar Pelangi yang tadinya berkantor di Jl. Kerinci, Jakarta Selatan pindah ke Bekasi, Jawa Barat. Setelah itu menyarankan agar Yayasan Sinar Pelangi pindah ke Bekasi, Jawa Barat.

Seiring perjalanan waktu, karya yayasan ini semakin berkembang. Pasien yang ditangani tidak hanya bibir sumbing tetapi juga mereka yang menderita luka bakar, hidrosefalus, microcefalus, noma, struma atau gondokan, tumor, atresia ani (tidak punya lubang anus), dan berbagai penyakit lain. Meskipun demikian pasiennya tetap dari keluarga sederhana yang tak mampu membiayai operasi.

Selain pasien disabilitas semakin bertambah jumlahnya, karya Yayasan Sinar Pelangi pun semakin berkembang. Yayasan Sinar Pelangi mendirikan balai pengobatan (1992), kamar perawatan pasien (1996), gedung kerajinan tangan (1997), gedung panti asuhan (2002), bengkel otomotif (2003), gedung fisiotrapi (2003), klinik bedah umum (2007), ruang pengasuh panti asuhan (2014), kolam renang untuk fisioterapi (2016), panti jompo (mulai pembangunan 2017). Tentunya semakin besar karya sosial yang dilakukan semakin besar pula dana yang dibutuhkan maka dia harus mencari dana ke sana ke mari untuk dapat membiaya pengobatan para pasien.

Mujizat Terjadi

Setiap pasien yang menjalani operasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Padahal mereka berasal dari keluarga sederhana. Berkat para donatur yang menyalurkan bantuannya lewat Yayasan Sinar Pelangi, mereka dapat ditolong. “Mujizat selalu terjadi di tempat ini. Tuhan selalu mengirimkan orang-orang baik dan tulus membantu pasien-pasien yang membutuhkan pertolongan,” ujar Sr. Andre haru.

Selain dari sumbangan para donatur, Yayasan Sinar Pelangi juga menjual barang rongsokan, pupuk, sayuran, tanaman, lilin, puzle kayu, jahitan. Perhatian Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sangat besar membantu Sr. Andre. Sejak kepemimpinan Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Soekoteo SJ (1970-1995),  KAJ memberikan kesempatan Sr. Andre mencari dana keliling paroki.

Sr Andre bersama Mgr Ignatius Suharyo. (Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Pengganti Mgr. Leo pun memberikan dukungan senada, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ (1996-2010) Mgr. Ignatius Suharyo (2010-sekarang). Mereka mendukung karya yang telah digulirkan Sr. Andre. “Mgr. Suharyo selalu memberikan perhatian kepada kami. Dia tidak pernah menolak permintaan kami. Setiap kali bertemu di mana pun, beliau selalu menyapa dan menanyakan keadaan kami,” ujar Sr. Andre.

Tak selamanya perjalanan Yayasan Sinar Pelangi berlangsung mulus. Persoalan internal dan eksternal kerap dihadapi. Pada awal pembangunan balai pengobatan, Sr. Andre sempat mendapat tentangan dari beberapa orang. Biara tempat dia tinggal pernah hendak dibakar oleh sekelompok orang. Pernah pula para perampok masuk ke dalam biara.

Mereka membawa senjata tajam dan pistol. “Saya berusaha tenang padahal hati ini deg-degan. Saya diancam pakai celurit ke leher dan pistol ke sini,” ujarnya sembari menunjukkan keningnya.

Kesulitan mencari dana adalah persoalan yang sering hinggap. Untunglah Tuhan sering kali mengirimkan orang-orang yang tulus iklas untuk meringankan pasien-pasien yang membutuhkan.

Sr Andre Lemmers FCJM bersama pasien dan karyawan Yayasan Sinar Pelangi. (Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Perkembangan Yayasan Sinar Pelangi telah menyusuri tiga dasawarsa. Suka dan duka, manis dan pahit, bahagia dan sedih menjadi dinamika yang dialami Sr. Andre bersama Yayasan Sinar Pelangi.

Dia berharap dapat terus membantu sesamanya dengan tindakan nyata. “Iman itu lebih penting diwujudkan lewat perbuatan dari pada sekedar berkotbah tapi tidak berbuat apa-apa bagi sesama yang membutuhkan.”

 

Marietta Purba

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here