Beata Maria Concepcion Cabrera Arias de Armida (1916 – 1975) : Jalan Suci Ibu Rumah Tangga

42
Beata María Concepcion Cabrera Arias de Armida.
[Beata Maria Concepcion Cabrera Arias de Armida]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Conchita, seorang ibu biasa bagi sembilan anaknya. Namun dalam kebiasaan itu, ia memiliki kekayaan rohani yang menjadi inspirasi bagi kerasulan Gereja hingga masa kini.

Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, 8 Desember 1862, lahir bayi perempuan di San Luis Potosi, Meksiko. Ia buah cinta pasangan Octaviano Cabrera Lacaveux dan Clara Arias Rivera. Bayi mungil itu diberi nama María Concepcion Cabrera Arias. Ia anak ketujuh dari 12 bersaudara. Dua hari setelah lahir, ia dibaptis di Katedral San Juan de Dios. Conchita, demikian panggilan sayangnya.

Conchita lahir dan tumbuh dalam suasana perang saudara di Meksiko. Ia juga kerap jatuh sakit. Kondisi kesehatannya amat rapuh. Meskipun raganya rapuh, ia bisa tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Ceria dan menyenangkan, dua tanda yang mewarnai pertumbuhan jasmani Conchita. Bola matanya senantiasa berbinar kala beria-ria bersama rekan-rekannya.

Tempaan Rohani
Berangsur kondisi kesehatan Conchita kian kuat. Ia tumbuh sebagai gadis remaja yang ceria. Pertumbuhan jasmani itu seiring dengan perkembangan hidup rohaninya. Kehidupan rohaninya ditempa oleh Canon Luis Gonzaga Arias Rivera, pamannya. Conchita dididik menjadi pribadi yang sederhana nan penuh sukacita.

Kehidupan rohani keluarganya juga menempa Conchita bertekun dalam doa. Kelak ketika dewasa, Conchita menulis, “Orangtua saya orang Katolik yang luar biasa.” Hampir saban malam, Conchita memilin bulir-bulir Rosario sembari mendaraskan Salam Maria dalam doa bersama keluarga. Ayahnya selalu memimpin doa. Terkadang, sang ayah mengajak serta tetangga mereka untuk berdoa bersama.

Conchita juga nampak sering berdoa sendirian. Ketika bersedih, lantaran terkena amarah sang ayah, dia berdoa. Tatkala bergembira, lantaran mendapat kado istimewa, ia pun berdoa. Ia juga kerap sekali masuk ke bilik pengakuan dosa di gereja. Hampir setiap hari, Conchita menerima Sakramen Tobat. Pada ulang tahun kesepuluh, 8 Desember 1872, ia menerima Sakramen Mahakudus untuk pertama kali. Hatinya sungguh riang.

Di samping tempaan hidup rohani, Conchita juga belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ia berguru kepada para Suster Cinta Kasih (Hermanas de la Caridad). Ia juga mulai belajar membantu mengerjakan tugas-tugas di rumah, seperti menyapu, membersihkan perkakas rumah tangga, bekerja di kebun, serta yang lain. Conchita tumbuh dalam keluarga yang harmonis di pedesaan yang sederhana.

Conchita senantiasa terlihat ceria. Ia bisa berjam-jam memainkan tuts-tuts piano sembari mendendangkan lagu bersama saudaranya. Atau di lain hari, ia nampak bermain sirkus, balap lari, atau pun menunggang kuda. Ia juga kadang mendayung perahu di sungai atau bermain tali laso. Conchita tumbuh menjadi perempuan yang pemberani penuh keceriaan.

Cinta Bersemi
Anak perempuan mungil itu, telah tumbuh menjadi gadis remaja yang saleh, sederhana, dan ceria. Saat memasuki usia 16 tahun, Conchita mulai belajar menari dan bermain peran. Meski demikian, ia tak pernah meninggalkan kebiasaan berdoa, mengikuti Misa harian, dan menerima Sakramen Tobat. Kelak ia menulis, “Suara Tuhan selalu kuat memanggilku, dan aku selalu bertekun dalam doa dan sakramen.”

Pada 16 Januari 1876, kala berusia 14 tahun, ia diajak berpesta dansa bersama keluarganya. Dalam pesta dansa itulah, ia bersua Francisco Armida atau yang akrab disapa Pancho. Sudah lama, Pancho memendam kagum terhadap pribadi Conchita. Nyatanya, bukan hanya Pancho yang terpikat dengan Conchita. Banyak lelaki yang ingin berhubungan dekat dengan Conchita.

Tapi Pancho yang pertama kali “nembak” Conchita dalam pesta dansa itu. Rupanya cinta tak bertepuk sebelah tangan. Cintanya bersambut. Conchita seperti tak kuasa menahan panah asmara yang dilesatkan Pancho. Mereka pun sepakat “jadian”.

Suatu hari kelak, Conchita menulis, “Aku tidak pernah terganggu berpacaran dengan Pancho. Itu tidak membuatku berpaling dari Tuhan. Sangat mudah bagiku untuk menyatukannya. Saat pergi tidur, ketika aku sendiri, aku memang selalu memikirkan Pancho, tapi kemudian aku mulai membayangkan perayaan Ekaristi, kesenanganku.”

Pada 8 November 1884, di depan altar Gereja Carmen San Luis Potosi, Conchita dan Pancho mengikat jalinan cinta mereka dalam Sakramen Perkawinan. Ia menulis, “Pernikahan itu suci dan cerminan kehadiran Allah.” Mereka hidup dalam kebahagiaan dan dikaruniai sembilan anak.

Ibu Penulis
Setelah 17 tahun menikah, Pancho dijemput ajal. Sebelum wafat, Pancho berpesan kepada Conchita, “Semoga kamu dan anak-anak hanya untuk Tuhan.”

Conchita pun menjanda sejak usia 37 tahun. Hari-hari pertama ditinggal suami menjadi masa yang buruk baginya. Kondisinya terpuruk. Meskipun berada di ujung tanduk, Conchita tetap bersukacita menghadapi masa yang sulit. “Di atas segalanya, tugas utamaku yang paling penting adalah mendidik anak-anak,” tekad Conchita.

Di tengah kesibukan mengurus anak-anak dan rumah tangga seorang diri, Conchita tak pernah meninggalkan kebiasaan berdoa. Pun dengan kegemarannya menulis.

Meskipun seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya berpendidikan kelas tiga sekolah dasar, Conchita menunjukkan kedalaman refleksi rohani melalui goresan pena. Ia meninggalkan warisan berupa 65.000 halaman tulisan tentang kehidupan doa. Beberapa naskah itu telah diterbitkan sebagai buku, seperti To My Priests, Holy Hours, Before the Altar, You Belong to the Church and Irresistibly Drawn to the Eucharist.

Karya-karya Conchita memberikan dampak dan berpengaruh dalam kerasulan Gereja, terutama di Meksiko. Goresan tintanya telah menginspirasi lima karya kerasulan di Meksiko, yaitu Kerasulan Salib (Apostolate of the Cross), Kongregasi Suster-suster Salib Hati Kudus Yesus (Congregation of Sisters of the Cross of the Sacred Heart of Jesus), Komunitas Perjanjian Kasih dengan Hati Yesus (Covenant of Love with the Heart of Jesus), Persaudaraan Kristus Sang Imam (The Fraternity of Christ the Priest), Kongregasi Misionaris Roh Kudus (Congregation of Missionaries of the Holy Spirit).

Nama Conchita kian memberikan inspirasi ketika dalam sebuah ziarah ke Roma pada 1913, ia diberi kesempatan bertemu Paus Pius X. Paus Pius X amat memuji tulisan-tulisan Conchita yang memiliki kedalaman teologis.

Ketika usianya berkepala tujuh, kondisi kesehatan Conchita kian rapuh. Ia pun wafat pada usia 75 tahun, 3 Maret 1937 di Meksiko. Jenazahnya dimakamkan di Gereja San José del Altillo, Meksiko City.

Jalan Suci
Setelah 22 tahun kematiannya, 1959, Keuskupan Agung Meksiko City membuka proses kanonisasi bagi Conchita. Keuskupan menyerahkan sekitar 200 naskah kepada Kongregasi Penggelaran Kudus untuk diteliti.

Empat dasawarsa kemudian, tepatnya 20 Desember 1999, Paus Yohanes Paulus II menggelari Conchita venerabilis. Juni tahun lalu, lewat mukjizat kesembuhan yang dialami Jorge Treviño, Paus Fransiskus melalui Kongregasi Penggelaran Kudus mengumumkan beatifikasi Conchita. Ibu rumah tangga yang sederhana itu pun digelari Beata, satu langkah lagi menjadi seorang Santa. Upacara beatifikasi, rencana akan digelar di Meksiko, Sabtu, 4 Mei 2019. Gereja mendedikasikan 3 Maret sebagai peringatan Beata Conchita.

Kesederhanaan Conchita sebagai ibu rumah tangga menuai buah-buah rohani. Tak hanya sederhana dalam keseharian, Conchita juga menampakkan kesederhanaan dalam hidup rohani. “Membiarkan diriku digerakkan oleh Tuhan,” demikian kalimat yang diulangnya sampai 276 kali dalam sebuah naskah.

Y. Prayogo

HIDUP NO.16 2019, 21 April 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here