Setelah Katedral Notre-Dame Terbakar

108
Puing-puing terlihat di dalam katedral Notre Dame di Paris.
[vox.com]
Setelah Katedral Notre-Dame Terbakar
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Kehancuran Katedral Notre-Dame de Paris menjadi awal kebangkitan iman umat negara sekuler.

Tiga jendela mawar nan megah yang menghiasi Katedral Notre Dame Paris selamat dari kebakaran hebat yang menghancurkan atap gereja pada Senin malam, 15/4. Selamatnya tiga jendela patri yang berasal dari abad ke-12 dan ke-13 ini menjadi salah satu mujizat yang terjadi. Kebakaran yang menggocangkan seluruh dunia ini turut membangkitkan emosi mendalam umat Katolik Paris.

Pastor asal Indonesia yang tergabung dalam Komunitas MSC Issoudun-Perancis, Pastor Yongki Wawo MSC mengaku terhenyak saat mendengar kabar buruk yang datang di hari pertama dalam pekan suci dari salah satu konfrater. Ia langsung bergegas menuju ruang rekreasi komunitas dan begabung bersama Pastor Karl Esener MSC. “Baru saja dua hari yang lalu saya di dalam katedral itu. Jika saya berada di Paris saya pasti masuk ke dalam katedral itu, dan menghabiskan waktu yang lama untuk berdoa. Aura spiritualnya sungguh terasa,” ujarnya lemah kepada Pastor Yongki.

Gambaran getir dan pilu masyarakat Paris tertangkap oleh banyak kamera. Ada yang menangis, ada yang diam terpaku, namun ada juga yang dengan spontan berlutut, berdoa, dan menyanyikan lagu-lagu Maria. Terlihat, Presiden Perancis, Emanuel Macron dan jajarannya datang ke lokasi yang berada dekat tepi Sungai Seine ini. “Kita akan membangunnya kembali,” ucap Macron mantap. Ucapan yang terlontar dari presiden muda itulah yang menjadi kekuatan masyarakat Perancis.

Berdaya Pikat
Pastor Yongki mengakui bahwa daya tarik Notre-Dame mampu menggugah hati nurani siapa saja yang melihatnya. Katedral berusia 856 itu dibangun oleh seorang sederhana, yakni Uskup Maurice de Sully. Ia adalah putra seorang tukang batu dan penebang kayu. Uskup Maurice dibesarkan di antara para biarawan di dekat Sully. Lalu ia dikirim ke Paris untuk melanjutkan studi dan bergabung dengan para dewan bergengsi Notre-Dame sebelum terpilih menjadi uskup.

Maurice de Sully terpilih sebagai uskup Paris pada 12 Oktober 1160. Baru saja ditunjuk, ia memutuskan untuk membangun sebuah katedral yang didedikasikan untuk Bunda Maria (Notre-Dame) di Paris. Menurut tradisi, peletakan batu pertama Katedral Notre-Dame de Paris dilakukan oleh Paus Alexander III. Konstruksi gereja dimulai pada tahun 1163. Namun, Uskup Maurice tidak pernah melihat penyelesaian pembangunan sebab pengerjaannya baru selesai 200 tahun kemudian. Pada tahun 1345, Katedral ini selesai dibangun, walaupun setelah itu masih akan melewari masa renovasi beberapa kali selama berabad-abad.

Hipotesis arkeologis terbaru memperkirakan bahwa tidak kurang dari empat bangunan gereja telah dibangun di tempat yang sama, sebelum katedral yang megah itu berdiri, yakni gereja Paleochristian abad ke-4, Basilika Merovingian, Katedral Carolingian, yang kemudian dihancurkan untuk mendirikan Katedral Notre-Dame de Paris.

Runtuhnya atap katedral agung itu tidak serta merta menenggelamkan iman. Cruxnow, 20/4 melansir bahwa ditemukan semangat pada sebuah negara yang bersatu dalam mengejar pembaruan, bukan hanya dari katedral itu sendiri, tetapi juga dari iman yang mengilhami pembangunannya yang hampir memakan masa 1000 tahun. Banyak ditemukan “Katolik Zombie” yakni umat beriman Perancis yang beradaptasi dengan budaya laïcité sebuah gerakan unik sekularisme Petancia yang memaksakan pemisahan antara gereja dan negara.

Banyak umat Katolik Prancis mengatakan kebakaran yang melanda Notre Dame mungkin juga memicu percikan spiritual, terutama pada generasi baru, mengilhami mereka untuk secara terbuka mengakui iman mereka dan, dari puing-puing, untuk membangun kembali fondasi mereka. “Mungkin sudah waktunya untuk kembali ke akarnya, tidak hanya bisnis dan pendidikan,” ungkap Francois Jacob.

Felicia Permata Hanggu
Laporan: Pastor Yongki Wawo MSC

HIDUP NO.17 2019, 28 April 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here