Saat Sepi, Pastor Simon Lili Pr Mohon Diri

419
Saat Sepi, Pastor Simon Lili Pr Mohon Diri
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – “Saat sepi buat mohon diri” ditulis oleh Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Pastor Simon Petrus Lili Tjahjadi, Pr sebagai pengantar dirinya yang akan mengakhiri masa bakti penugasan di sekolah tersebut.

Kini Pastor Simon tengah menyelesaikan tugas sebagai Ketua STF periode 2011-2015 dan 2015-2019. Jabatannya secara resmi berakhir Kamis ini, meskipun sertijab (serah terima jabatan) akan diadakan pada Jumat (14/6) mendatang.

“Dengan ini saya mohon pamit sebagai Ketua STF. Terimakasih atas dukungan dan kerja sama selama ini. Mohon maaf atas segala kekurangan lahir-batin. Proficiat untuk Ketua Baru, Pastor Thomas H. Tjaya, Ph.D (periode 2019-2023)! Salam takzim,” tulis Pastor Simon melalui whatsapp kepada Hidupkatolik.com pada Kamis malam (6/6/2019) disertai dengan foto diri berpakaian khas etnis tertentu.

Imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang mengajarkan mata kuliah Filsafat Ketuhanan, termasuk Ateisme dan Agnostisisme itu juga menyatakan apresiasinya kepada rekan sejawat.

“Saya gembira telah bekerja dengan teman-teman yang solid dan kompak, banyak dukungan,” tulis imam kelahiran Jakarta, asal Paroki Mangga Besar itu.

Baca: https://www.hidupkatolik.com/2017/09/07/12576/romo-simon-petrus-lili-tjahjadi-tukang-ojek-dari-jerman

Ketika disinggung tentang gaya berpakaian “Bushido” khas Jepang yang kerap dikenakan, Pastor Simon menyatakan ketertarikannya ketika membuat riset mengenai Gereja Katolik pada zaman Jepang di tahun 2015. Selain itu ia juga mengenal baik budaya Jerman (Barat) karena sempat lama tinggal di sana. Begitu pula ketika studi di Yogyakarta, ia mengenal budaya Jawa dan orang setempat.

Bushido sendiri berarti “Jalan Sang Petarung”. Jalan ini mengajarkan penuntasan kewajiban dengan tekun dan berkanjang dalam perkara yang dipercayakan kepadanya, tanpa banyak mengeluh dan tuntutan.

Budaya Jerman menekankan presisi, tertib, dan tekun, sementara budaya Jawa menekankan kehalusan, sopan, dan peka dengan simbol-simbol yang tak terucap.

“Nah, budaya Jepang seolah mempertemukan, menggabungkan dua budaya yang saya kenal baik dan dekat di hati. Maka itu ya langsung, cocok,” jelas Pastor Simon, sembari mencoba memahami budaya Bushido lewat Kendo dan Zen.

Baca juga: https://www.hidupkatolik.com/2019/01/17/31113/pastor-simon-petrus-lili-tjahjadi-meneliti-gereja-indonesia-di-zaman-jepang

Selanjutnya Pastor Simon akan tetap berkarya di STF Driyarkara. Ketika ditanya mengenai penugasan yang baru, ia mengaku belum mengetahui. “Tergantung ketua baru. Yang jelas, dosen biasa,” pungkasnya.

Selamat berkarya Pastor Simon, terimakasih dan tetap semangat dan setia dalam panggilan suci dan spirit Bushido.

 

Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here