Semangat Adil Gender

26
Salah satu sesi pemberdayaan keterampilan peserta.
[HIDUP/Marchella A. Vieba]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menyegarkan ingatan, mengurangi korban dan masalah ketidakadilan gender.

Seorang wanita terlihat bergerak bergegas ke sana ke mari. Tak jarang, ia berhenti sejenak untuk menyapa dan berbincang sebentar dengan beberapa kelompok orang atau perseorangan. Pada beberapa kesempatan, ia terpaksa menghentikan langkahnya, ia berpaling untuk menanggapi panggilan yang diajukan kepadanya.

Wanita berkulit sawo matang itu bernama Daniela Angela Yosefine. Dela, demikian ia disapa, menjadi sibuk selama Pertemuan Nasional (Pernas) Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Wisma Samadi Klender, Jakarta, 23-26/4.

Pernas SGPP mempertemukan aktivis-aktivis dan pejuang kesetaraan gender yang berada di bawah KWI. Selama Pernas, mereka mendiskusikan isu-isu terkini berkaitan dengan masalah-masalah dalam dunia perempuan.

Persoalan Utama
Pernas kali ini adalah untuk pertama kali Dela terlibat. Ia baru setahun menjadi staf SGPP KWI. Ia harus mengurus dan memberikan informasi terkait administrasi para peserta Pernas bertajuk “Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Keluarga sebagai Citra Allah” ini. Peserta Pernas adalah penggerak gender yang datang dari berbagai keuskupan di Indonesia.

Meski demikian, Dela tetap terlihat riang dalam menjalankan perannya. Meski baru bekerja sejak Maret 2018, namun ia cukup mumpuni dalam mengerjakan tugasnya sebagai salah satu panitia Pernas ini. Sehari-hari ia bekerja bersama Sekretaris SGPP KWI, Sr M. Natalia OP.

Menurut Sr Natalia, para penggerak gender yang hadir dalam Pernas ini sangat antusias. Hal itu tampak dari kehadiran mereka dari hampir semua keuskupan. Selain itu, peserta sangat aktif dalam tanya jawab, termasuk juga dalam tugas-tugas yang diberikan selama Pernas berlangsung dilakukan dengan baik. “Itu semua dibungkus dengan kegembiraan dari awal hingga akhir acara,” tuturnya.

Beberapa narasumber yang sesuai dengan kompetensinya memang dihadirkan untuk menambah wawasan para penggerak gender, secara khusus untuk pemberdayaan perempuan. Salah satunya hadir Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM yang mengangkat dan memaparkan kembali Surat Gembala KWI 2004 tentang Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah. Dalam analisisnya baik secara sosial maupun teologis, Mgr Sunarko menjelaskan ada hal-hal yang harus dihindari dan juga diidealkan untuk terciptanya kesetaraan.

Ada empat poin besar yang harus dihindari yang diutarakan oleh Mgr Sunarko. Pertama, “androsentrisme”, di mana cara berpikir ini berpandangan bahwa laki-laki lebih tinggi atau utama dari perempuan. Dalam pandangan ini, perempuan menjadi manusia kelas dua dan bergantung pada laki-laki. Kedua, “patriarkhi”, struktur sosial masyarakat yang berbentuk sedemikian rupa, sehingga kekuasaan selalu ada dalam tangan kaum laki-laki yang mendominasi. Ketiga, “subordinasi” terbalik, karena selama ini perempuan sudah mengalami penindasan. Maka sekarang sebaliknya perempuanlah yang harus berkuasa dan melakukan penindasan terhadap kaum laki-laki. Keempat, “pemutlakan” gender atas perbedaan fisik. Dalam hal ini perbedaan fisik diminimalkan, sedangkan identitas berdasarkan faktor budaya dan sosial dimutlakkan.

Mgr Sunarko menjelaskan, Gereja diterangi iman akan Yesus Kristus. Gereja mengupayakan kolaborasi aktif antara laki-laki dan perempuan, sambil mengakui adanya perbedaan/kekhasan masing-masing.

Setali tiga uang, menurut Sr Natalia, masalah kesetaraan gender di berbagai tempat selalu punya akar yang sama walaupun bentuknya berbeda. Budaya patriarki yang kuat, subordinasi, diskriminasi dan sebagainya menjadi faktor utama. Meski demikian bentuk yang muncul akan berbeda karena situasi suatu tempat misalnya di Jakarta pasti berbeda dengan yang di pedalaman atau kota lain.

Persoalan dan permasalahan yang kerap ada terkait adil dan setara gender bagi perempuan inilah yang juga menjadi concern Sr Natalia. “Tantangannya berhadapan dengan budaya patriarki yang masih sangat kuat. Dan belum pahamnya masyarakat tentang adil gender,” terangnya.

SGPP berusaha keras untuk tidak henti-hentinya mendorong masyarakat pertama-tama dan utama adalah agar masyarakat paham akan adil dan setara gender. Salah satu cara menanggulanginya yaitu dengan sosialisasi terus menerus dan juga pelatihan-pelatihan untuk pemberdayaan perempuan.

Bergerak Serentak
SGPP melihat persoalan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender sebagai hal penting yang mesti diangkat dalam berbagai bidang kehidupan. Bukan soal perempuan, tetapi tentang manusia yang sama-sama mendapatkan akses untuk berkembang dan memenuhi kebutuhan hidupnya. “SGPP KWI memulai gerak dengan menyebarkan nilai-nilai adil dan setara gender lewat berbagai aktifitas dengan harapan semua pihak ikut dalam gerakan menuju keadilan dan kesetaraan gender bukan hanya dalam perspektif tapi dalam aksi konkret,” tukas Sr Natalia.

Dalam menjalankan karyanya, SGPP tidak sendiri. Sr Natalia mengatakan, SGPP selalu bersinergi dengan komisikomisi lain, terutama selama ini dengan rumpun kemasyarakatan. Rumpun ini terdiri dari Komisi Kerasulan Awam, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi, Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau. Dalam banyak hal, SGPP juga berarisan dengan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan dan tentu saja Komisi Keluarga.

Walau SGPP selalu menyebarkan nilai-nilai adil dan setara gender melalui banyak program dan kegiatan, namun SGPP merasa belum bisa memenuhi seluruh panggilan sebagai wadah maupun sarana untuk persoalan gender di Indonesia. Diperlukan lebih banyak sumber daya manusia yang ikut terlibat dalam karya ini. Maka semua orang diajak untuk bergerak dalam seluruh bidang kehidupan untuk menyuarakan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender. “Badan pengurus dan unsur dalam SGPP adalah pemantiknya, tapi seluruh Gereja Katolik Indonesia adalah gerak riilnya,” tegas Sr Natalia.

Dari empat hari berjalan, dan diskusi-diskusi yang terjadi, Pernas membuahkan rekomendasi bagi gerak pastoral adil dan setara gender. Ada enam poin yang direkomendasikan. Pertama, seluruh umat Katolik bersama masyarakat menggemakan dan melanjutkan semangat dan roh Surat Gembala KWI 2004 tentang Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah dengan berbagai upaya kreatif dan sesuai perkembangan masa kini. Kedua, semua keluarga Katolik membangun komitmen dan budaya keadilan dan kesetaraan gender.

Ketiga, tiapa keuskupan memiliki koordinator/penghubung/wadah untuk menjalankan reksa pastoral keadilan dan kesetaraan gender. Keempat, para penggiat Keadilan dan kesetaraan gender melakukan komunikasi formal dan informal dengan semua pihak untuk membangun dan memperlancar reksa pastoral keadilan dan kesetaraan gender. Kelima, lembaga-lembaga Katolik melakukan pembinaan yang berkelanjutan untuk membangun kesadaran, komitmen, dan budaya keadilan dan kesetaraan gender dalam berbagi aspek. Keenam, semua pihak terlibat dan berkontribusi dalam reksa pastoral keadilan dan kesetaraan gender sesuai dengan talenta dan kapasitas masing-masing (hati, waktu, tenaga, wawasan, dana dan sebagainya).

Sr Natalia berharap, semoga dengan Pernas SGPP KWI 2019, peserta para penggerak gender dan pemberdayaan perempuan semakin bersemangat, terinspirasi, dan merealisasikan pengalaman-pengalamannya di keuskupan-keuskupan. “Sehingga semakin banyak umat dan masayarakat semakin paham adil dan setara gender,” tandasnya.

Marchella A. Vieba

HIDUP NO.19 2019, 12 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here