St Marie Ellen MacKillop RSJ (1842-1909) : Biarawati Pertama dari Benua Biru

130
St Marie Ellen MacKillop RSJ (1842-1909).
[anaspaul.org]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia menjadi biarawati pertama dari Benua Australia. Kehadirannya tak lepas dari kecintaannya kepada anak-anak miskin dan terlantar.

Pada usia 14 tahun, Alexander MacKillop, seorang remaja Scotlandia memutuskan masuk seminari di Roma. Selama menjalani pendidikan, ia seorang yang berbakat, telaten, dan memiliki hidup rohani yang baik. Hampir 15 tahun, Alexander mengalami jatuh bangun sebagai seorang calon imam.

Sayang panggilan ini harus terhenti saat hendak ditahbiskan diakon. Ia mengundurkan diri karena tidak diizinkan terlibat dalam ragam karya karitatif saat itu. Keputusan mengundurkan diri membuat banyak orang terheranheran. Tidak ada yang berpikir frater pendiam ini begitu cepat melepaskan panggilannya. Secara akademis, Alexander tak diragukan. Ia juga seorang yang saleh dalam hidup rohani.

Dari Roma, Alexander memutuskan bermigrasi ke Australia. Saat itu, Australia dianggap benua yang tengah berkembang makmur. Ia tiba di Sydney tahun 1838. Di sini, Alexander berkenalan dengan Flora MacDonald. Tiga bulan setelahnya, keduanya memutuskan menikah.

Setahun pernikahan, pada 15 Januari 1842, lahirlah Marie Ellen MacKillop, seorang wanita saleh yang kelak menjadi biarawati. Marie juga mendirikan Kongregasi Suster Santo Josef dari Hati Kudus. Kongregasi ini merupakan kongregasi biarawati pertama di Australia.

Sejuta Anak
Marie dibesarkan dalam sebuah rumah kecil di Fitzroy, Melbourne, Australia. Sebagai sulung dari delapan bersaudara, Marie paham betul bagaimana perjuangan Alexander dan Flora dalam membesarkan anak-anaknya. Sebagai pendatang, Alexander kerap menemui kesulitan dalam pekerjaan. Kegagalan demi kegagalan dialami Alexander saat memulai usahanya.

Untung ada Flora. Sang ibu yang tak lelah menguatkan suami dan anak-anaknya. “Allah menyediakan segalanya. Kita hanya butuh sedikit usaha,” pesan Flora kepada anak-anaknya. Keyakinan sang ibu menjadi bara yang menyulut semangat Marie untuk tak putus asa. Sebagai sulung, Marie menunjukkan tanggungjawabnya dengan bekerja apa saja, bahkan menjadi pelayan toko.

Marie mengambil peran Alexander yang lebih banyak menggerutu daripada berusaha. Mantan frater ini lebih sering menyalahkan Tuhan atas nasib sial yang menimpah keluarganya. Ia kalah pada takdirnya sendiri hingga tutup usia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here