Beato Mykolay Charnetsky CSsR (1884 – 1959) : Reformator Gereja Katolik Yunani Ukraina

51
Beato Mykolay Charnetsky CSsR.
[ukrcathedral.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di tanah misi, ia berhadapan dengan pertentangan antara dua teologi. Berhasil menyelesaikan pertentangan itu, misinya berhenti saat berhadapan dengan pemerintahan komunis.

Tahun 1926, Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (Congregatio Sanctissimi Redemptoris/CSsR) membuka misi baru di wilayah Volhynia, kini masuk wilayah Ukraina Barat. Misi ini dibuka atas ragam desakan dari para imam CSsR di sana. Di ladang karya ini, mereka menyadari adanya gejolak antara teologi Gereja Katolik Yunani-Ukraina dan Gereja Ortodoks Ukraina.

Sejak misi itu dibuka, Pastor Mykolay Charnetsky CSsR ditunjuk sebagai penggerak. Sebagai seorang imam Katolik Yunani-Ukraina, Pastor Mykolay juga seorang yang sangat disegani di kedua Gereja. Pemahamannya tentang liturgi dan tradisi Gereja Ortodoks menjadi alasan.

Selama hampir lima tahun, Pastor Mykolay mampu membuktikan perannya sebagai penasihat kedua Gereja tersebut. Pengabdiannya kepada umat Ukraina dan upayanya yang tak kenal lelah dalam merajut hubungan antara Gereja Katolik Yunani-Ukraina dan Gereja Ortodoks Ukraina membuat Paus Pius XIII menunjuknya sebagai Uskup Tituler Keuskupan Lebedus. Peran ini ia jalankan dengan baik, namun karyanya berakhir saat kedatangan pemerintahan komunis.

Pribadi Cerdas
Mykolay lahir dalam keluarga Katolik Yunani yang taat di dusun kecil Horodenka Raion, Ukraina Barat, 14 Desember 1884. Kedua orangtuanya, Alexander dan Parasceva adalah penganut Katolik Ritus Bizantin yang hidup penuh devosi. Karena itu sejak kecil, Mykolay pun terbiasa dengan kehidupan devosi. Di sela-sela waktu luang, ia bahkan kerap melukis wajah Yesus dan Maria dalam ikon-ikon Bizantin.

Di masa remajanya, putra pertama dari sembilan besaudara ini sudah menampakan keinginannya untuk menjadi seorang imam. Keinginan ini tergambar jelas dalam keaktifannya di paroki. Di gereja, ia adalah misdinar yang rajin. Setali tiga uang, Alexander dan Parasceva pun sangat mendukung keinginan putra sulung mereka ini.

Tamat Sekolah Menengah, Alexander menulis kepada Uskup Ukraina Mgr Hryhory Khomsyshyn. Ia meminta izin agar putranya dapat diterima menjadi calon imam. Tak butuh waktu lama, surat itu terjawab. Mgr Hryhory mengizinkan Mykolay melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Redemptoris di Roma, Italia. Saat itu, ia berusia 18 tahun.

Di kalangan teman-temannya, Frater Mykolay termasuk calon imam yang cerdas. Kendati begitu, ia sangat rendah hati. Pada masa ini, ia tekun mempelajari Sejarah Gereja sampai akhirnya ia ditahbiskan imam di Roma tahun 1909.

Usai ditahbiskan, Pastor Mykolay kembali ke tanah kelahirannya. Meski hanya setahun, di sini lah, Pastor Mykolay memulai karyanya sebagai imam. Ia lalu diutus untuk belajar teologi di Roma sampai ia menggondol gelar Doktor. Setelahnya, ia kembali ke Ukraina dan ditugaskan sebagai dosen teologi dan filsafat di Seminari Keuskupan Ivano-Frankivsk.

Pada masa itu, Pastor Mykolay dikenang sebagai pribadi yang telaten. Selain itu, ia menjadi pembimbing rohani yang handal. Alhasil, ia pun dihormati oleh para seminaris. Ia tak pernah menolak bila ada seminaris yang membutuhkan bimbingan rohani. Setiap kali memimpin Misa di luar komunitas, beberapa seminaris juga ikut serta. Kebersamaan inilah yang akhirnya membangun kedekatan diantaranya mereka.

Gembala Misi
Tahun 1919, Kongregasi Redemptoris Belgia membuka sebuah novisiat baru di dekat Kota Lviv. Pada saat inilah, Pastor Mykolay ditunjuk sebagai magister. Ia pun menjalani tugas ini dengan penuh tanggung jawab. Jumlah panggilan baru sangat menggembirakan. Ada banyak anak muda di kota itu yang mendaftarkan menjadi calon imam Redemptoris.

Pastor Mykolay merasakan semangat yang luar biasa dari umat. Ia meyakini, bahwa apa yang dikerjakannya ini, tak lepas dari devosinya kepada pendiri Kongregasi Redemptoris, Santo Alfonsus Maria de Liguori.

Karyanya cukup berhasil di Lviv, sehingga superior menambahkan misi lain kepadanya. Pastor Mykolay pun diminta membuka sebuah komunitas baru di Volhy nia tahun 1926. Misi ini bertujuan mendamaikan Gereja Katolik Yunani–Ukraina dan Gereja Ortodoks Ukraina. Kedua Gereja ini kerap berbeda pendapat soal teologi. Pemimpin dua Gereja ini kerap saling kritik soal pemahaman masing-masing tentang teologi.

Pastor Mykolay meyanggupi tugas ini. Terhadap para pemimpin Gereja Ortodoks Ukraina, ia berusaha menjadikan mereka saudara. Pertentangan yang selama ini terjadi tidak ia jadikan “tembok” untuk saling membenci. “Jangan takut sebab para pemimpin Gereja Ortodoks Ukraina adalah saudaraku sendiri. Mereka adalah rekan seperjalanan menuju Tuhan,” katanya.

Lambat laun, dialog antara Gereja Katolik Yunani-Ukraina dan Gereja Ortodoks Ukraina pun terjalin. Pastor Mykolay membentuk komunitas-komunitas yang terdiri dari para imam dari kedua Gereja. Di sana, ia mengajak mereka berdiskusi untuk mencari keserasian dan melupakan pertentangan teologi. Alhasil, relasi kedua Gereja yang telah renggang selama sekitar 10 tahun, akhirnya cair kembali. Relasi ini bahkan semakin kuat saat Pastor Mykolay diangkat sebagai Uskup Tituler Keuskupan Lebedus dan Visitor Apostolik umat Katolik Yunani-Ukraina di Volhynia dan Podlaskie, Polandia Selatan.

Misi Terakhir
Tahun 1939, terjadi perubahan besar di sebagian besar wilayah Ukraina dengan kedatangan Rezim Komunis Uni Soviet. Dialog antar iman dan kebebasan beragama seketika terkoyak, dengan kehadiran pemerintahan baru ini.

Misi Redemptoris yang subur pun kemudian dihancurkan rezim baru ini. Karena kondisi yang semakin tak menentu, Pemimpin Kongregasi Redemptoris Belgia mengirim sepucuk surat yang meminta Mgr Mykolay dan saudara-saudara Redemptoris untuk meninggalkan Ukraina. Permintaan ini seketika diikuti dengan eksodus sebagian besar imam. Namun, dari antara mereka masih ada yang memilih bertahan termasuk Mgr Mykolay.

Tekanan yang diterima Gereja Katolik Yunani-Ukraina ternyata tidak terjadi kepada Gereja Ortodoks Ukraina. Saat tanggal 27 Juli 1944, Lviv diserbu Tentara Merah (Angkatan Darat Uni Soviet), banyak aset Gereja Katolik yang dihancurkan. Namun, hal ini tidak terjadi untuk Gereja Ortodoks. Mereka bahkan mendapat sebagian harta yang berasal dari Gereja Katolik yang dirampas Tentara Merah.

Kekacauan berpuncak dengan ditangkapnya sebagian besar imam Redemptoris termasuk Mgr Mykolay. Mereka dituduh sebagai mata-mata Vatikan sehingga, dijebloskan ke dalam penjara. Di tahanan, para pemimpin Gereja Katolik ini mengalami ragam siksaan. Kurang lebih 11 tahun, Mgr Mykolay ditahan dan selama itu, ia dipindahkan selama 32 kali dari penjara yang satu ke yang lain. Di semua penjara itu, orang mengenalnya sebagai pribadi yang berwibawa, tenang, dan penuh kasih.

Tahun 1959 kesehatan Mgr Mykolay semakin memburuk akibat berbagai penyiksaan yang dialaminya. Di saat itu, otoritas penjara memutuskan untuk membebaskannya agar bisa meninggal di tempat lain. Ia bebas dalam keadaan sekarat, tetapi mukjizat terjadi kesehatannya menjadi pulih lagi. Secara mengejutkan dirinya kembali menjadi uskup di Ukraina. Ia melayani secara diam-diam. Di masa sulit ini, ia berhasil menahbiskan sedikitnya 30 imam. Hamba Tuhan penuh kebapaan ini tutup usia pada 2 April 1959. Dua hari kemudian janazahnya dimakamkan di Lviv.

Proses beatifikasi Mgr Mykolay dibuka pada 23 April 2001. Dekrit kekudusannya secara resmi diumumkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 24 April 2001. Selanjutnya pada 27 Juni 2001, tepat Pesta Santa Maria Bunda Penolong Abadi, Pelindung Konggregasi Redemptoris, Mgr Mykolay dibeatifikasi oleh Paus yang sama di Kiev, Ukraina.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.21 2019, 26 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here